Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan

Oleh: Syahrul E. DasopangPenulis buku Penuntun Jalan Kaum Miskin Opini – Kemiskinan di perkotaan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan juga persoalan hilangnya ruang untuk berharap. Di balik gemerlap gedung-gedung...

Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan – Foto Istimewa
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

Oleh: Syahrul E. Dasopang
Penulis buku Penuntun Jalan Kaum Miskin

Opini – Kemiskinan di perkotaan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan juga persoalan hilangnya ruang untuk berharap.

Di balik gemerlap gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dipublikasikan, masih terdapat jutaan warga yang setiap hari bergulat dengan keterbatasan hidup.

Mereka bukan hanya berjuang memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, dan pendidikan, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis akibat ketidakpastian masa depan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemiskinan urban memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar angka statistik.

Ia menyentuh aspek sosial, psikologis, budaya, hingga kebijakan publik.

Ketika keterbatasan berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, kondisi tersebut berpotensi melahirkan rasa tidak berdaya yang mengikis kepercayaan diri dan harapan seseorang terhadap perubahan hidup.

Banyak warga miskin di kawasan padat perkotaan hidup dalam ruang yang sangat terbatas.

Tidak sedikit keluarga harus berbagi tempat tinggal berukuran kecil dengan jumlah anggota keluarga yang besar.

Kondisi demikian bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan berdampak pada kesehatan, pendidikan anak, kualitas hubungan keluarga, hingga produktivitas ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, energi masyarakat habis untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Pikiran mereka dipenuhi pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana memperoleh penghasilan esok hari, bagaimana membayar kontrakan, bagaimana memenuhi kebutuhan sekolah anak, atau bagaimana membeli kebutuhan pokok.

Ketika seluruh tenaga dicurahkan untuk bertahan hidup, kesempatan untuk memikirkan persoalan yang lebih struktural menjadi semakin sempit.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian.

Pilihan Editor :  Lebaran Usai, Ancaman Cicilan Kendaraan Macet Mengintai: Simak Solusinya

Kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh rendahnya kemauan bekerja.

Dalam banyak kasus, terdapat faktor-faktor struktural seperti terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan formal, hunian layak, layanan kesehatan, hingga kesempatan memperoleh modal usaha.

Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa meskipun tingkat kemiskinan nasional mengalami tren penurunan dalam jangka panjang, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai puluhan juta jiwa.

Di sisi lain, urbanisasi yang terus meningkat membawa tantangan baru bagi kota-kota besar.

Pertumbuhan penduduk tidak selalu diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja, transportasi, maupun hunian yang memadai. Akibatnya, kawasan permukiman padat tetap menjadi realitas yang sulit dihindari.

Konstitusi Indonesia sebenarnya telah memberikan arah yang jelas. Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Amanat tersebut kemudian dijabarkan melalui berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, yang mengatur bahwa penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Namun demikian, efektivitas implementasi berbagai program penanggulangan kemiskinan masih menjadi tantangan.

Berbagai pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, telah meluncurkan beragam kebijakan perlindungan sosial, bantuan tunai, subsidi, hingga pemberdayaan ekonomi.

Program-program tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kehadiran negara.

Meski demikian, pertanyaan yang layak diajukan adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen, bukan sekadar mengurangi beban ekonomi dalam jangka pendek.

Di sejumlah kawasan padat perkotaan, masih ditemukan persoalan klasik berupa kepadatan hunian, minimnya ruang terbuka, keterbatasan akses pekerjaan formal, hingga tingginya angka putus sekolah.

Pilihan Editor :  Cara Hidup Hemat Ala Miliarder: Inspirasi Sederhana yang Bisa Anda Terapkan

Kondisi sosial tersebut dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap berbagai persoalan lain, seperti penyalahgunaan narkotika, kriminalitas, maupun eksploitasi ekonomi.

Tentu, tidak semua warga di kawasan miskin mengalami kondisi demikian, namun berbagai penelitian sosiologi menunjukkan bahwa lingkungan yang mengalami deprivasi berkepanjangan memiliki tingkat kerentanan sosial yang lebih tinggi.

Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ekonomi. Masyarakat miskin membutuhkan ruang untuk membangun kembali optimisme.

Harapan merupakan modal sosial yang sama pentingnya dengan bantuan material.

Ketika seseorang yakin bahwa masa depannya masih dapat diperbaiki, ia akan lebih terdorong untuk meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan, membangun usaha kecil, atau menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat tidak dapat berjalan tanpa adanya solidaritas sosial. Ironisnya, kehidupan di kawasan perkotaan sering kali diwarnai budaya individualisme yang semakin kuat.

Hubungan antarwarga menjadi renggang, sementara kolaborasi justru lebih banyak tumbuh di kelompok masyarakat yang telah memiliki akses ekonomi dan pendidikan yang lebih baik.

Kesenjangan modal sosial inilah yang perlu mendapat perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan perkotaan.

Oleh karena itu, strategi pengentasan kemiskinan seharusnya tidak berhenti pada pemberian bantuan sosial.

Pemerintah bersama dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal perlu memperkuat program pemberdayaan berbasis keterampilan kerja, pendidikan vokasi, akses permodalan, pendampingan usaha mikro, penyediaan hunian layak, serta penguatan komunitas warga.

Pendekatan yang bersifat kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Kemiskinan urban bukanlah takdir yang harus diterima tanpa ikhtiar.

Ia merupakan persoalan pembangunan yang membutuhkan kebijakan yang konsisten, tepat sasaran, dan berorientasi jangka panjang.

Selama kesenjangan kesempatan masih terjadi, selama akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan hunian layak belum dinikmati secara merata, maka lingkaran kemiskinan akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Pilihan Editor :  MTF Bekasi Diduga Langgar UU Fidusia, Konsumen Dirugikan

Sudah saatnya keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesempatan yang setara bagi mereka yang selama ini hidup di pinggiran.

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya terlihat dari seberapa tinggi gedung yang dibangun, melainkan dari seberapa besar harapan yang mampu dihadirkan bagi warga yang paling lemah.

Ketika harapan kembali tumbuh, maka pemberdayaan bukan lagi sekadar slogan, melainkan jalan nyata menuju kehidupan yang lebih bermartabat.**/Ugm

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *