Sabtu, 7 Nov 2026
Gensa Media Indonesia » Opini » Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan

Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan

  • account_circle Firman Ugm
  • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Syahrul E. Dasopang
Penulis buku Penuntun Jalan Kaum Miskin

Opini – Kemiskinan di perkotaan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan juga persoalan hilangnya ruang untuk berharap.

Di balik gemerlap gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dipublikasikan, masih terdapat jutaan warga yang setiap hari bergulat dengan keterbatasan hidup.

Mereka bukan hanya berjuang memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, dan pendidikan, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis akibat ketidakpastian masa depan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemiskinan urban memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar angka statistik.

Ia menyentuh aspek sosial, psikologis, budaya, hingga kebijakan publik.

Ketika keterbatasan berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, kondisi tersebut berpotensi melahirkan rasa tidak berdaya yang mengikis kepercayaan diri dan harapan seseorang terhadap perubahan hidup.

Banyak warga miskin di kawasan padat perkotaan hidup dalam ruang yang sangat terbatas.

Tidak sedikit keluarga harus berbagi tempat tinggal berukuran kecil dengan jumlah anggota keluarga yang besar.

Kondisi demikian bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan berdampak pada kesehatan, pendidikan anak, kualitas hubungan keluarga, hingga produktivitas ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, energi masyarakat habis untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Pikiran mereka dipenuhi pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana memperoleh penghasilan esok hari, bagaimana membayar kontrakan, bagaimana memenuhi kebutuhan sekolah anak, atau bagaimana membeli kebutuhan pokok.

Ketika seluruh tenaga dicurahkan untuk bertahan hidup, kesempatan untuk memikirkan persoalan yang lebih struktural menjadi semakin sempit.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian.

Kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh rendahnya kemauan bekerja.

Dalam banyak kasus, terdapat faktor-faktor struktural seperti terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan formal, hunian layak, layanan kesehatan, hingga kesempatan memperoleh modal usaha.

Baca juga :  Anto Suroto: Media Penentu Jembatan Bangsa, Pemerintah Harus Jaga Kesejahteraan Wartawan

Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa meskipun tingkat kemiskinan nasional mengalami tren penurunan dalam jangka panjang, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai puluhan juta jiwa.

Di sisi lain, urbanisasi yang terus meningkat membawa tantangan baru bagi kota-kota besar.

Pertumbuhan penduduk tidak selalu diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja, transportasi, maupun hunian yang memadai. Akibatnya, kawasan permukiman padat tetap menjadi realitas yang sulit dihindari.

Konstitusi Indonesia sebenarnya telah memberikan arah yang jelas. Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Amanat tersebut kemudian dijabarkan melalui berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, yang mengatur bahwa penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Namun demikian, efektivitas implementasi berbagai program penanggulangan kemiskinan masih menjadi tantangan.

Berbagai pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, telah meluncurkan beragam kebijakan perlindungan sosial, bantuan tunai, subsidi, hingga pemberdayaan ekonomi.

Program-program tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kehadiran negara.

Meski demikian, pertanyaan yang layak diajukan adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen, bukan sekadar mengurangi beban ekonomi dalam jangka pendek.

Di sejumlah kawasan padat perkotaan, masih ditemukan persoalan klasik berupa kepadatan hunian, minimnya ruang terbuka, keterbatasan akses pekerjaan formal, hingga tingginya angka putus sekolah.

Kondisi sosial tersebut dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap berbagai persoalan lain, seperti penyalahgunaan narkotika, kriminalitas, maupun eksploitasi ekonomi.

Tentu, tidak semua warga di kawasan miskin mengalami kondisi demikian, namun berbagai penelitian sosiologi menunjukkan bahwa lingkungan yang mengalami deprivasi berkepanjangan memiliki tingkat kerentanan sosial yang lebih tinggi.

Baca juga :  Eks Pegawai Damkar Sandi Ungkap Dugaan Korupsi di Pemkot Depok

Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ekonomi. Masyarakat miskin membutuhkan ruang untuk membangun kembali optimisme.

Harapan merupakan modal sosial yang sama pentingnya dengan bantuan material.

Ketika seseorang yakin bahwa masa depannya masih dapat diperbaiki, ia akan lebih terdorong untuk meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan, membangun usaha kecil, atau menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat tidak dapat berjalan tanpa adanya solidaritas sosial. Ironisnya, kehidupan di kawasan perkotaan sering kali diwarnai budaya individualisme yang semakin kuat.

Hubungan antarwarga menjadi renggang, sementara kolaborasi justru lebih banyak tumbuh di kelompok masyarakat yang telah memiliki akses ekonomi dan pendidikan yang lebih baik.

Kesenjangan modal sosial inilah yang perlu mendapat perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan perkotaan.

Oleh karena itu, strategi pengentasan kemiskinan seharusnya tidak berhenti pada pemberian bantuan sosial.

Pemerintah bersama dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal perlu memperkuat program pemberdayaan berbasis keterampilan kerja, pendidikan vokasi, akses permodalan, pendampingan usaha mikro, penyediaan hunian layak, serta penguatan komunitas warga.

Pendekatan yang bersifat kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Kemiskinan urban bukanlah takdir yang harus diterima tanpa ikhtiar.

Ia merupakan persoalan pembangunan yang membutuhkan kebijakan yang konsisten, tepat sasaran, dan berorientasi jangka panjang.

Selama kesenjangan kesempatan masih terjadi, selama akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan hunian layak belum dinikmati secara merata, maka lingkaran kemiskinan akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sudah saatnya keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesempatan yang setara bagi mereka yang selama ini hidup di pinggiran.

Baca juga :  BGN Tancap Gas Perkuat Gizi Nasional

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya terlihat dari seberapa tinggi gedung yang dibangun, melainkan dari seberapa besar harapan yang mampu dihadirkan bagi warga yang paling lemah.

Ketika harapan kembali tumbuh, maka pemberdayaan bukan lagi sekadar slogan, melainkan jalan nyata menuju kehidupan yang lebih bermartabat.**/Ugm

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Tags
Avatar photo

Ditulis oleh:

Firman Ugm adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Interesting

  • Tegakkan Hukum dan Cegah Hama Penyakit, Lanal Nias Musnahkan 227 Ekor Babi Ilegal

    Tegakkan Hukum dan Cegah Hama Penyakit, Lanal Nias Musnahkan 227 Ekor Babi Ilegal

    • calendar_month Rabu, 21 Jan 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    TNI AL, Nias – Lanal Nias melimpahkan perkara pelanggaran karantina hewan kepada Balai Karantina Sumatera Utara, Senin 19 Januari 2026. Kegiatan tersebut dirangkai dengan pemusnahan 227 ekor babi ilegal tanpa dokumen resmi. Langkah ini menunjukkan ketegasan TNI AL menjaga perairan sekaligus melindungi masyarakat dari ancaman penyakit hewan karantina. Tim Patroli RBB Lanal Nias lebih dulu […]

  • Polsek Pademangan Bongkar Peredaran Ganja Tiga Kilogram

    Polsek Pademangan Bongkar Peredaran Ganja Tiga Kilogram

    • calendar_month Rabu, 18 Feb 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Utara – Jajaran Polsek Pademangan membongkar peredaran narkotika jenis ganja dengan barang bukti lebih dari tiga kilogram di Jakarta Utara. Kapolsek Immanuel Sinaga memaparkan langsung pengungkapan kasus tersebut saat konferensi pers di halaman Mapolsek Pademangan, Rabu, 18/02/2026. Petugas menerima informasi masyarakat tentang paket mencurigakan di perusahaan ekspedisi kawasan Jalan Ancol Barat VII sejak Senin […]

  • Pengadilan Militer Siap Sidangkan Oknum TNI AL dalam Kasus Penembakan Bos Rental Mobil

    Pengadilan Militer Siap Sidangkan Oknum TNI AL dalam Kasus Penembakan Bos Rental Mobil

    • calendar_month Jumat, 31 Jan 2025
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    TNI AL sangat menghormati proses hukum dengan menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah. Dalam penjelasan ini, tak ada yang ditutup-tutupi

  • Kodim 1710/Mimika Asah Ketangkasan Prajurit Lewat Latihan Pencak Silat Militer

    Kodim 1710/Mimika Asah Ketangkasan Prajurit Lewat Latihan Pencak Silat Militer

    • calendar_month Kamis, 30 Okt 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Timika, 30 Oktober 2025 — Kodim 1710/Mimika menggelar latihan Pencak Silat Militer (PSM) untuk meningkatkan kemampuan bela diri dan ketangkasan prajurit. Kegiatan ini berlangsung di Makodim 1710/Mimika, Jalan Agimuga Mile 32, Kabupaten Mimika, Kamis (30/10/2025). Kapten Inf Akhmad Zaini, Perwira Seksi Operasi (Pasiops) yang mewakili Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol Inf M. Slamet Wijaya, menyampaikan bahwa […]

  • Koramil Jatinegara Perkuat Siskamling Cegah Kenakalan Remaja

    Koramil Jatinegara Perkuat Siskamling Cegah Kenakalan Remaja

    • calendar_month Selasa, 18 Agt 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Timur – Koramil 01/Jatinegara memperkuat patroli keamanan lingkungan untuk mencegah kenakalan remaja dan menjaga kondusivitas wilayah Kecamatan Jatinegara, Jakarta Timur. Patroli dan Siskamling keliling tersebut berlangsung pada Senin, 17 Agustus 2026, dengan melibatkan unsur Komponen Pendukung (Komduk) serta masyarakat setempat. Kegiatan berpusat di Sekretariat Pos RW 06, Kelurahan Rawa Bunga, Kecamatan Jatinegara, sebagai titik […]

  • Lanal Sabang Laksanakan Penandatanganan Pakta Integritas Penerimaan Calon Bintara dan Tamtama

    Lanal Sabang Laksanakan Penandatanganan Pakta Integritas Penerimaan Calon Bintara dan Tamtama

    • calendar_month Selasa, 5 Agt 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Sabang,- Dalam rangka menjamin proses rekrutmen yang bersih, transparan, dan bebas dari praktik Kolusi, Korupsi, dan Nepotisme (KKN), Lanal Sabang melaksanakan kegiatan Penandatanganan Pakta Integritas dalam pelaksanaan Seleksi Penerimaan Calon Bintara dan Tamtama PK TNI AL Gelombang II TA. 2025, bertempat di Mako Lanal Sabang, Selasa (05/08/2025). Penandatanganan Pakta Integritas bertujuan untuk menjaga integritas seleksi […]

expand_less