Sabtu, 17 Okt 2026
Beranda » OPINI » Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan

Kemiskinan Urban Bukan Takdir, Melainkan Tantangan Pembangunan

  • account_circle Firman Ugm
  • calendar_month Sabtu, 25 Jul 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Syahrul E. Dasopang
Penulis buku Penuntun Jalan Kaum Miskin

Opini – Kemiskinan di perkotaan bukan sekadar persoalan rendahnya pendapatan, melainkan juga persoalan hilangnya ruang untuk berharap.

Di balik gemerlap gedung-gedung tinggi, pusat bisnis, dan pertumbuhan ekonomi yang kerap dipublikasikan, masih terdapat jutaan warga yang setiap hari bergulat dengan keterbatasan hidup.

Mereka bukan hanya berjuang memenuhi kebutuhan makan, tempat tinggal, dan pendidikan, tetapi juga menghadapi tekanan psikologis akibat ketidakpastian masa depan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa kemiskinan urban memiliki dimensi yang jauh lebih kompleks dibanding sekadar angka statistik.

Ia menyentuh aspek sosial, psikologis, budaya, hingga kebijakan publik.

Ketika keterbatasan berlangsung terus-menerus selama bertahun-tahun, kondisi tersebut berpotensi melahirkan rasa tidak berdaya yang mengikis kepercayaan diri dan harapan seseorang terhadap perubahan hidup.

Banyak warga miskin di kawasan padat perkotaan hidup dalam ruang yang sangat terbatas.

Tidak sedikit keluarga harus berbagi tempat tinggal berukuran kecil dengan jumlah anggota keluarga yang besar.

Kondisi demikian bukan sekadar persoalan kenyamanan, melainkan berdampak pada kesehatan, pendidikan anak, kualitas hubungan keluarga, hingga produktivitas ekonomi.

Dalam situasi seperti itu, energi masyarakat habis untuk bertahan hidup dari hari ke hari.

Pikiran mereka dipenuhi pertanyaan sederhana namun mendasar: bagaimana memperoleh penghasilan esok hari, bagaimana membayar kontrakan, bagaimana memenuhi kebutuhan sekolah anak, atau bagaimana membeli kebutuhan pokok.

Ketika seluruh tenaga dicurahkan untuk bertahan hidup, kesempatan untuk memikirkan persoalan yang lebih struktural menjadi semakin sempit.

Di sinilah letak persoalan yang sering luput dari perhatian.

Kemiskinan tidak selalu disebabkan oleh rendahnya kemauan bekerja.

Dalam banyak kasus, terdapat faktor-faktor struktural seperti terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas, lapangan pekerjaan formal, hunian layak, layanan kesehatan, hingga kesempatan memperoleh modal usaha.

Pilihan Editor :  Trinovi Khairani Sitorus Minta Pemerintah Utamakan Keamanan WNI di Thailand–Kamboja

Faktor-faktor tersebut saling berkaitan dan menciptakan lingkaran kemiskinan yang sulit diputus.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) selama bertahun-tahun menunjukkan bahwa meskipun tingkat kemiskinan nasional mengalami tren penurunan dalam jangka panjang, jumlah penduduk miskin di Indonesia masih mencapai puluhan juta jiwa.

Di sisi lain, urbanisasi yang terus meningkat membawa tantangan baru bagi kota-kota besar.

Pertumbuhan penduduk tidak selalu diimbangi dengan penyediaan lapangan kerja, transportasi, maupun hunian yang memadai. Akibatnya, kawasan permukiman padat tetap menjadi realitas yang sulit dihindari.

Konstitusi Indonesia sebenarnya telah memberikan arah yang jelas. Pasal 34 Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 menegaskan bahwa fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh negara.

Amanat tersebut kemudian dijabarkan melalui berbagai regulasi, termasuk Undang-Undang Nomor 13 Tahun 2011 tentang Penanganan Fakir Miskin, yang mengatur bahwa penanggulangan kemiskinan harus dilakukan secara terencana, terpadu, dan berkelanjutan.

Namun demikian, efektivitas implementasi berbagai program penanggulangan kemiskinan masih menjadi tantangan.

Berbagai pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah, telah meluncurkan beragam kebijakan perlindungan sosial, bantuan tunai, subsidi, hingga pemberdayaan ekonomi.

Program-program tersebut patut diapresiasi sebagai bentuk kehadiran negara.

Meski demikian, pertanyaan yang layak diajukan adalah sejauh mana kebijakan tersebut mampu memutus rantai kemiskinan secara permanen, bukan sekadar mengurangi beban ekonomi dalam jangka pendek.

Di sejumlah kawasan padat perkotaan, masih ditemukan persoalan klasik berupa kepadatan hunian, minimnya ruang terbuka, keterbatasan akses pekerjaan formal, hingga tingginya angka putus sekolah.

Kondisi sosial tersebut dapat meningkatkan kerentanan masyarakat terhadap berbagai persoalan lain, seperti penyalahgunaan narkotika, kriminalitas, maupun eksploitasi ekonomi.

Tentu, tidak semua warga di kawasan miskin mengalami kondisi demikian, namun berbagai penelitian sosiologi menunjukkan bahwa lingkungan yang mengalami deprivasi berkepanjangan memiliki tingkat kerentanan sosial yang lebih tinggi.

Pilihan Editor :  Direktur Sumut Foundation Andi Kurniansyah Sirait Desak Polda Sumut: Tangkap Penyebar Fitnah Terhadap Hasyim

Persoalan ini tidak dapat diselesaikan hanya dengan pendekatan ekonomi. Masyarakat miskin membutuhkan ruang untuk membangun kembali optimisme.

Harapan merupakan modal sosial yang sama pentingnya dengan bantuan material.

Ketika seseorang yakin bahwa masa depannya masih dapat diperbaiki, ia akan lebih terdorong untuk meningkatkan keterampilan, mencari pekerjaan, membangun usaha kecil, atau menyekolahkan anaknya setinggi mungkin.

Di sisi lain, pemberdayaan masyarakat tidak dapat berjalan tanpa adanya solidaritas sosial. Ironisnya, kehidupan di kawasan perkotaan sering kali diwarnai budaya individualisme yang semakin kuat.

Hubungan antarwarga menjadi renggang, sementara kolaborasi justru lebih banyak tumbuh di kelompok masyarakat yang telah memiliki akses ekonomi dan pendidikan yang lebih baik.

Kesenjangan modal sosial inilah yang perlu mendapat perhatian dalam perumusan kebijakan pembangunan perkotaan.

Oleh karena itu, strategi pengentasan kemiskinan seharusnya tidak berhenti pada pemberian bantuan sosial.

Pemerintah bersama dunia usaha, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan komunitas lokal perlu memperkuat program pemberdayaan berbasis keterampilan kerja, pendidikan vokasi, akses permodalan, pendampingan usaha mikro, penyediaan hunian layak, serta penguatan komunitas warga.

Pendekatan yang bersifat kolaboratif memiliki peluang lebih besar untuk menghasilkan perubahan yang berkelanjutan.

Kemiskinan urban bukanlah takdir yang harus diterima tanpa ikhtiar.

Ia merupakan persoalan pembangunan yang membutuhkan kebijakan yang konsisten, tepat sasaran, dan berorientasi jangka panjang.

Selama kesenjangan kesempatan masih terjadi, selama akses terhadap pendidikan, pekerjaan, dan hunian layak belum dinikmati secara merata, maka lingkaran kemiskinan akan terus berulang dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Sudah saatnya keberhasilan pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi atau megahnya infrastruktur, tetapi juga dari kemampuan negara menghadirkan kesempatan yang setara bagi mereka yang selama ini hidup di pinggiran.

Pilihan Editor :  Hakordia dan Tanggung Jawab Kolektif Memutus Mata Rantai Korupsi

Sebab ukuran kemajuan sebuah bangsa bukan hanya terlihat dari seberapa tinggi gedung yang dibangun, melainkan dari seberapa besar harapan yang mampu dihadirkan bagi warga yang paling lemah.

Ketika harapan kembali tumbuh, maka pemberdayaan bukan lagi sekadar slogan, melainkan jalan nyata menuju kehidupan yang lebih bermartabat.**/Ugm

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Tags
Avatar photo

Ditulis oleh:

Firman Ugm adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Menarik Dibaca

  • Apel Potmas Penjaringan: Polisi Konsolidasikan Warga Hadapi Dinamika Kamtibmas

    Apel Potmas Penjaringan: Polisi Konsolidasikan Warga Hadapi Dinamika Kamtibmas

    • calendar_month Jumat, 3 Apr 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Utara, 3 April 2026 – Polsek Metro Penjaringan menggelar Apel Potensi Masyarakat untuk mengonsolidasikan warga menghadapi potensi gangguan kamtibmas yang terus berkembang. Kegiatan berlangsung pada Jumat pukul 16.00 WIB di halaman Mapolsek Metro Penjaringan, Jakarta Utara, dengan melibatkan berbagai elemen masyarakat lintas profesi. Kapolsek Metro Penjaringan, AKBP Agta Bhuwana Putra, memimpin langsung apel tersebut […]

  • Lanal Simeulue Ajak Warga Menanam Padi, Wujudkan Ketahanan Pangan Daerah

    Lanal Simeulue Ajak Warga Menanam Padi, Wujudkan Ketahanan Pangan Daerah

    • calendar_month Sabtu, 30 Agt 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Simeulue – Dalam upaya menjaga ketersediaan stok beras sekaligus mendukung program pemerintah di bidang ketahanan pangan, Pangkalan TNI Angkatan Laut (Lanal) Simeulue mengajak masyarakat untuk memanfaatkan lahan sawah di Desa Linggi, Kecamatan Simeulue Timur, Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh, Jumat (29/8/2025). Komandan Lanal Simeulue Letkol Laut (P) Wisnu Pryangga N., S.T., M.Tr. Opsla., didampingi sejumlah Perwira […]

  • Laporan Tirta Patriot Masih Berproses

    Laporan Tirta Patriot Masih Berproses

    • calendar_month Kamis, 29 Jan 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Kota Bekasi – Kasi Intel Kejari Kota Bekasi Ryan Anugrah memastikan laporan masyarakat terkait dugaan permasalahan di Perumda Tirta Patriot masih berproses sesuai mekanisme hukum. Ia menegaskan Kejaksaan Negeri Kota Bekasi terus menjalankan penanganan laporan secara profesional dan berpedoman pada aturan perundang-undangan. Ryan menyampaikan Kejari Kota Bekasi saat ini menangani satu laporan yang berkaitan dengan […]

  • Pangdam Jaya Hadiri Peresmian Gedung Baru Kejaksaan Negeri Jakarta Utara

    Pangdam Jaya Hadiri Peresmian Gedung Baru Kejaksaan Negeri Jakarta Utara

    • calendar_month Selasa, 30 Jun 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Utara, 30 Juni 2026 – Panglima Kodam Jaya/Jayakarta Letjen TNI Deddy Suryadi menghadiri peresmian Gedung Kantor Kejaksaan Negeri Jakarta Utara di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Sungai Bambu, Kecamatan Tanjung Priok, Jakarta Utara, Selasa (30/6/2026). Kehadiran Pangdam Jaya menunjukkan dukungan TNI terhadap penguatan sarana penegakan hukum dan peningkatan pelayanan publik. Jaksa Agung RI Prof. Dr. […]

  • Ace Oldfields Tbk Siap Ekspansi Lebih Luas di 2025

    Ace Oldfields Tbk Siap Ekspansi Lebih Luas di 2025

    • calendar_month Selasa, 10 Jun 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta — PT Ace Oldfields Tbk bersiap melaju lebih kencang di tahun 2025. Dalam paparan publik yang digelar Selasa (tanggal sesuai), jajaran direksi memaparkan rencana besar untuk memperluas distribusi produk ke seluruh Indonesia, termasuk wilayah timur seperti Nusa Tenggara Timur (NTT) dan Papua. Selain ekspansi wilayah, perusahaan juga mengungkapkan rencana peluncuran produk inovatif yang lebih […]

  • Polres Bekasi Kota Bongkar 80 Kasus Narkoba, 98 Tersangka Ditangkap

    Polres Bekasi Kota Bongkar 80 Kasus Narkoba, 98 Tersangka Ditangkap

    • calendar_month Jumat, 17 Apr 2026
    • account_circle Ihwan Setiawan
    • 0Komentar

    “Kepolisian juga mengimbau masyarakat untuk aktif melaporkan jika menemukan aktivitas mencurigakan yang berkaitan dengan peredaran narkoba”

expand_less