Kemenekraf: Pemanfaatan AI Kunci Putus Kesenjangan Teknologi SDM Indonesia

"Indonesia diharapkan tidak hanya mampu mengejar ketertinggalan, tetapi juga menjadi pemain aktif dalam ekosistem digital global"

Kemenekraf: Pemanfaatan AI Kunci Putus Kesenjangan Teknologi SDM Indonesia – Foto Istimewa
-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

JAKARTA Kementerian Ekonomi Kreatif (Kemenekraf) menilai pemanfaatan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) menjadi faktor krusial dalam memutus kesenjangan teknologi yang selama ini menghambat daya saing sumber daya manusia (SDM) Indonesia di tingkat global.

Hal ini disampaikan Direktur Aplikasi Kemenekraf Tri Wahyudi dalam peluncuran program Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026 di Jakarta, Selasa (14/4).

Tri menegaskan, percepatan adopsi AI tidak lagi menjadi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak di tengah kompetisi global yang semakin ketat.

Menurut dia, negara yang gagal menyiapkan talenta digital berbasis AI berisiko tertinggal dan hanya menjadi konsumen teknologi asing.

“Ketika tingkat global sudah menggunakan AI, berarti kita membutuhkan talenta, kemampuan para pengembang kita untuk belajar AI. Ini akan menjadi lahan pekerjaan baru sekaligus meningkatkan daya saing global,” ujar Tri.

Berdasarkan data PricewaterhouseCoopers (PwC), penggunaan AI terbukti mampu meningkatkan produktivitas hingga 96 persen, terutama di kalangan generasi muda seperti Gen Z yang menjadi pengguna aktif teknologi tersebut.

Namun demikian, tantangan besar masih membayangi, khususnya terkait ketersediaan tenaga kerja terampil.

Tri mengungkapkan, sekitar 28 persen perusahaan secara global telah mempekerjakan hingga 18 juta tenaga kerja yang memiliki keahlian di bidang AI.

Meski demikian, sebanyak 57 persen perusahaan mengaku masih kekurangan talenta yang mampu mengoperasikan dan mengembangkan teknologi tersebut.

Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara kebutuhan industri dengan kesiapan SDM.

Jika tidak segera diatasi, Indonesia berpotensi semakin tertinggal dalam penguasaan teknologi dan inovasi.

“Risiko terbesar jika talenta kita tidak beradaptasi dengan AI, mereka akan kalah saing dari sisi kreativitas dan inovasi. Kita hanya akan menjadi negara pengguna teknologi asing, tanpa mampu meningkatkan kapasitas sendiri. Kesenjangan teknologi juga akan semakin lebar,” kata Tri menegaskan.

Pilihan Editor :  Senyum Baru untuk Anak-Anak Papua, Kogabwilhan III Gelar Operasi Bibir Sumbing

Ia menambahkan, transformasi digital berbasis AI tidak hanya berdampak pada peningkatan produktivitas, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru, termasuk penciptaan lapangan kerja di sektor ekonomi kreatif.

Untuk menjawab tantangan tersebut, Kemenekraf meluncurkan program Badan Ekraf Digital Talent (BDT) 2026.

Program ini dirancang untuk meningkatkan kapasitas talenta digital nasional, khususnya dalam pemanfaatan AI guna mendorong efisiensi dan kualitas karya di sektor ekonomi kreatif.

BDT 2026 Dorong Talenta Adaptif dan Kompetitif

Melalui program BDT 2026, pemerintah berupaya memperluas akses edukasi dan pelatihan AI bagi pelaku ekonomi kreatif.

Langkah ini diharapkan mampu menciptakan SDM yang tidak hanya adaptif terhadap perkembangan teknologi, tetapi juga mampu bersaing di pasar global.

Program tersebut mencakup peningkatan kemampuan teknis, pengembangan inovasi berbasis AI, serta penguatan ekosistem digital yang mendukung pertumbuhan subsektor aplikasi nasional.

Dengan demikian, pelaku industri kreatif tidak sekadar menjadi pengguna teknologi, tetapi juga produsen inovasi.

Tri menekankan bahwa peningkatan kualitas talenta digital menjadi kunci untuk mendorong produk-produk Indonesia agar memiliki daya saing internasional.

Selain itu, pemanfaatan AI juga diyakini mampu meningkatkan efisiensi produksi dan memperluas jangkauan pasar.

“Selain membuka peluang kerja, talenta kita juga akan lebih kompetitif. Mereka tidak hanya menjadi pengguna, tetapi juga mampu menciptakan produk yang memiliki dampak ekonomi dan menembus pasar global,” ujarnya.

Upaya ini sejalan dengan strategi pemerintah dalam memperkuat ekonomi berbasis inovasi dan teknologi.

Dengan mempercepat penguasaan AI, Indonesia diharapkan tidak hanya mampu mengejar ketertinggalan, tetapi juga menjadi pemain aktif dalam ekosistem digital global.

Meski demikian, pengamat menilai keberhasilan program ini sangat bergantung pada implementasi yang konsisten, kolaborasi dengan sektor industri, serta pemerataan akses pendidikan digital di seluruh wilayah Indonesia.

Pilihan Editor :  Remaja Buncit 3 Gelar Buka Puasa Bersama dan Santunan Anak Yatim Piatu

Tanpa langkah konkret dan berkelanjutan, kesenjangan antara kebutuhan industri dan kesiapan SDM berpotensi tetap menjadi persoalan utama dalam transformasi digital nasional.

Oleh karena itu, program BDT 2026 diharapkan tidak hanya bersifat seremonial, tetapi mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas talenta digital Indonesia.(**)

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *