PalmCo Dorong Riset Tingkatkan Produktivitas Sawit Nasional
Jakarta – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo menegaskan peningkatan produktivitas sektor hulu kelapa sawit menjadi kunci mendukung kebutuhan biodiesel B50 sekaligus menjaga keberlanjutan ekspor minyak sawit nasional. Komitmen itu disampaikan...

Jakarta – PT Perkebunan Nusantara IV PalmCo menegaskan peningkatan produktivitas sektor hulu kelapa sawit menjadi kunci mendukung kebutuhan biodiesel B50 sekaligus menjaga keberlanjutan ekspor minyak sawit nasional. Komitmen itu disampaikan dalam pembukaan Pekan Riset Sawit Indonesia (PERISAI) 2026 di Jakarta, Minggu, 20 Juli 2026.
Direktur Utama PTPN IV PalmCo, Jatmiko K. Santosa, menyampaikan pandangan tersebut saat menjadi Keynote Speaker pada forum yang diselenggarakan Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP).
Menurut Jatmiko, industri sawit nasional menghadapi tantangan baru akibat meningkatnya kebutuhan bahan baku untuk program hilirisasi, terutama implementasi mandatori biodiesel B50.
Di sisi lain, Indonesia tetap harus menjaga kapasitas ekspor minyak sawit mentah atau crude palm oil (CPO) sebagai salah satu komoditas strategis nasional.
Karena itu, Jatmiko menilai peningkatan produktivitas kebun menjadi solusi utama untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri tanpa mengurangi daya saing ekspor.
Ia menjelaskan produktivitas perkebunan sawit rakyat masih menyimpan ruang peningkatan yang sangat besar karena menguasai sekitar 42 persen luas perkebunan nasional.
“Kita menghadapi paradoks. Hilirisasi menuju B50 harus berjalan, tetapi ekspor juga harus tetap terjaga. Karena itu, produktivitas sektor hulu harus meningkat,” ujar Jatmiko.
Produktivitas Petani Jadi Fokus Utama
Jatmiko menjelaskan peningkatan produktivitas kebun rakyat akan memberikan dampak besar terhadap pasokan bahan baku industri sawit nasional.
Menurutnya, kenaikan produktivitas satu ton per hektare berpotensi menambah pasokan CPO hingga sekitar enam juta ton.
Tambahan produksi tersebut dinilai mampu memperkuat pasokan bahan baku biodiesel sekaligus menjaga keseimbangan kebutuhan industri pengolahan dan pasar ekspor.
Karena itu, PalmCo mendorong kolaborasi lebih erat antara peneliti, pelaku usaha, pemerintah, dan petani.
Menurut Jatmiko, hasil penelitian harus menghasilkan solusi yang dapat langsung diterapkan di lapangan.
“Riset harus berorientasi pada kebutuhan industri dan petani. Hasil penelitian tidak boleh berhenti sebagai publikasi ilmiah, tetapi harus memberikan manfaat nyata,” katanya.
PalmCo juga membuka akses bibit sawit unggul bersertifikat bagi pekebun sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas.
Jatmiko mengajak perusahaan perkebunan lain membuka akses bibit unggul secara lebih luas tanpa membatasi penjualan hanya kepada mitra perusahaan.
Selain meningkatkan produktivitas, PalmCo juga mengembangkan pemanfaatan limbah cair pabrik kelapa sawit atau palm oil mill effluent (POME) menjadi energi baru terbarukan berbasis biometana.
Perkuat Kemitraan dan Hilirisasi Berkelanjutan
Pelaksana Tugas Direktur Jenderal Perkebunan Kementerian Pertanian, Heru Tri Widarto, menilai kemitraan menjadi faktor penting dalam mempercepat Program Peremajaan Sawit Rakyat.
Menurut Heru, perusahaan dapat membantu petani meningkatkan standar budidaya sekaligus mendukung proses peremajaan kebun.
“Program Peremajaan Sawit Rakyat membutuhkan kemitraan yang kuat agar produktivitas kebun rakyat dapat meningkat dan mengikuti standar perkebunan yang baik,” ujar Heru.
Direktur Utama BPDP, Eddy Abdurrachman, juga menegaskan pentingnya membangun ekosistem riset yang mampu menjawab kebutuhan industri.
Menurutnya, keberhasilan riset tidak cukup diukur dari jumlah publikasi, tetapi dari kemampuan menghasilkan teknologi yang diterapkan petani dan industri.
“BPDP berkomitmen menjadi katalis kolaborasi agar hasil riset dapat diterapkan, dikembangkan, dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Eddy.
Pembukaan PERISAI 2026 juga diwarnai penandatanganan komitmen bersama pengembangan sumber daya manusia perkebunan.
Kementerian Pertanian, BPDP, dan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia menandatangani komitmen tersebut sebagai langkah memperkuat sinergi pemerintah, industri, dan pelaku usaha.
Melalui kolaborasi riset, penguatan kelembagaan petani, penyediaan bibit unggul, serta pengembangan teknologi, PTPN IV PalmCo menilai peningkatan produktivitas hulu menjadi fondasi penting untuk mendukung keberhasilan program biodiesel B50 sekaligus menjaga keberlanjutan industri kelapa sawit nasional.










