Kemerdekaan Tak Cukup dengan Upacara, Latu Har Hary Soroti Kerja Nyata
BEKASI – Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak boleh berhenti pada upacara, pengibaran bendera, dan...

BEKASI – Ketua Komisi II DPRD Kota Bekasi, Latu Har Hary, menegaskan bahwa peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak boleh berhenti pada upacara, pengibaran bendera, dan berbagai kegiatan seremonial. Menurutnya, makna kemerdekaan harus diwujudkan melalui kerja nyata yang memberikan dampak langsung bagi kehidupan masyarakat.
Latu Har Hary dari Fraksi PKS menyampaikan pandangan tersebut pada Sabtu (15/8/2026), menjelang peringatan HUT Kemerdekaan RI. Ia menilai momentum kemerdekaan seharusnya menjadi ruang untuk memperkuat komitmen seluruh pihak dalam meningkatkan kualitas pembangunan dan pelayanan publik.
“Kemerdekaan bukan sekadar upacara, bukan sekadar Merah Putih yang berkibar, dan bukan hanya perayaan setiap tanggal 17 Agustus. Kemerdekaan adalah tentang bagaimana kita mengisi kebebasan dengan kerja nyata, menjaga persatuan, dan menghadirkan kehidupan yang lebih baik bagi masyarakat,” kata Latu.
Menurut dia, semangat kemerdekaan harus diterjemahkan menjadi energi bersama untuk mendorong Kota Bekasi menjadi daerah yang semakin maju. Tanggung jawab tersebut, kata dia, tidak hanya berada di tangan pemerintah daerah, tetapi juga DPRD dan seluruh elemen masyarakat.
Latu menekankan bahwa pembangunan daerah perlu diarahkan pada kebutuhan konkret warga. Infrastruktur tetap penting, tetapi pembangunan tidak semestinya hanya diukur dari pembangunan fisik. Pemerintah juga perlu memastikan penataan lingkungan, kualitas pelayanan publik, serta penguatan ekonomi masyarakat berjalan secara berkelanjutan.
Ia menilai keberhasilan pembangunan pada akhirnya harus dapat dirasakan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari. Pelayanan publik yang mudah diakses, lingkungan yang tertata, serta kesempatan ekonomi yang lebih baik menjadi bagian dari upaya mengisi kemerdekaan dalam konteks kehidupan daerah.
“Pemerintah, DPRD, dan seluruh masyarakat harus bergerak dalam satu semangat. Bekasi yang maju, lingkungan yang tertata, pelayanan publik yang semakin baik, dan ekonomi masyarakat yang semakin kuat,” ujarnya.
Persatuan Jadi Modal Pembangunan Kota Bekasi
Selain menyoroti pembangunan, Latu mengingatkan pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman masyarakat. Ia meminta momentum peringatan kemerdekaan tidak dimanfaatkan untuk memperlebar perbedaan yang berpotensi mengganggu kebersamaan.
Menurutnya, keberagaman merupakan bagian penting dari kekuatan bangsa sekaligus modal sosial dalam membangun daerah. Perbedaan pandangan maupun latar belakang, kata dia, seharusnya tidak menjadi alasan untuk memecah masyarakat.
“Jangan biarkan perbedaan menjadi alasan untuk terpecah. Indonesia besar bukan karena kita sama, tetapi karena kita mampu bersatu dalam keberagaman,” katanya.
Latu berharap peringatan HUT Kemerdekaan tahun ini dapat menjadi momentum evaluasi terhadap berbagai pekerjaan pembangunan yang masih membutuhkan perhatian. Ia mendorong seluruh pemangku kepentingan untuk tidak menjadikan perayaan kemerdekaan sekadar agenda tahunan, tetapi menggunakannya sebagai pengingat atas tanggung jawab kepada masyarakat.
Bagi Latu, semangat kemerdekaan harus tercermin dalam kualitas kerja pemerintah dan lembaga publik, termasuk dalam memastikan kebijakan pembangunan benar-benar menjawab kebutuhan warga. Kolaborasi antara pemerintah, DPRD, masyarakat, serta berbagai kelompok sosial dinilai penting agar pembangunan tidak berjalan sendiri-sendiri.
Ia juga mengajak masyarakat untuk mengambil bagian dalam mengisi kemerdekaan sesuai kapasitas masing-masing. Partisipasi masyarakat, menurutnya, dibutuhkan untuk menjaga lingkungan, mengawasi pelayanan publik, memperkuat perekonomian, sekaligus mempertahankan persatuan.
“Saya mengajak pemerintahan agar semangat kemerdekaan diterjemahkan dalam bentuk kerja konkret, kolaborasi, dan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat Kota Bekasi,” pungkasnya.
Pernyataan tersebut menempatkan peringatan kemerdekaan bukan hanya sebagai agenda simbolik, melainkan sebagai momentum untuk mengukur sejauh mana pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan mampu menghadirkan perubahan yang nyata bagi masyarakat. Bagi Kota Bekasi, tantangan tersebut mencakup pembangunan infrastruktur, penataan lingkungan, peningkatan pelayanan publik, hingga penguatan ekonomi warga.
Dengan demikian, makna kemerdekaan di tingkat daerah tidak berhenti pada perayaan setiap 17 Agustus. Kemerdekaan juga tercermin dari kemampuan pemerintah dan masyarakat bekerja bersama untuk menciptakan kehidupan yang lebih baik, menjaga persatuan, serta memastikan hasil pembangunan dapat dirasakan secara luas.













