Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 Bahas AI dan Regenerative Aesthetics
- account_circle Ihwan Setiawan
- calendar_month Kamis, 24 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Perkembangan industri aesthetic, dermatology, anti-aging, dan regenerative medicine di Indonesia mendorong klinik untuk tidak hanya mengandalkan teknologi dan treatment terbaru.
Clinical excellence, pengalaman pasien, inovasi treatment, efisiensi operasional, serta strategi bisnis dan pemasaran dinilai semakin penting dalam membangun pertumbuhan klinik yang berkelanjutan.
Kondisi tersebut menjadi salah satu latar belakang digelarnya Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026, bagian dari rangkaian perayaan 25 tahun Beauty World Indonesia.
Kegiatan ini mempertemukan dokter aesthetic, dermatolog, pemilik klinik, business leaders, serta pengambil keputusan untuk membahas perkembangan clinical innovation, regenerative aesthetics, patient engagement, hingga strategi pertumbuhan bisnis di era artificial intelligence (AI).
Mengusung tema “Scale Your Clinic, Increase Revenue, Learn from Global Experts”, summit tersebut dirancang sebagai forum berbagi pengetahuan dan pengalaman mengenai perkembangan teknologi klinis, regenerative aesthetics, patient engagement, serta business growth.
CEO Beauty World Indonesia, Efendi, mengatakan perayaan 25 tahun Beauty World menjadi momentum untuk melihat perkembangan industri sekaligus menyiapkan arah pertumbuhannya ke depan.
“Tahun ini menjadi momentum yang sangat spesial bagi Beauty World karena kami merayakan 25 tahun perjalanan Beauty World Indonesia. Selama 25 tahun, kami telah menyaksikan bagaimana industri aesthetic berkembang, dari sisi teknologi, treatment, hingga kebutuhan dan ekspektasi pasien yang terus berubah,” kata Efendi.
Menurut dia, perjalanan tersebut tidak hanya menjadi bagian dari refleksi, tetapi juga momentum untuk mempertemukan pelaku industri dan berbagi pengetahuan.
“Karena itu, perayaan 25 tahun ini tidak hanya kami maknai sebagai sebuah perjalanan ke belakang, tetapi juga sebagai momentum untuk melihat ke depan. Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 menjadi salah satu rangkaian kegiatan kami untuk berbagi knowledge, mempertemukan para pelaku industri, dan bersama-sama membangun masa depan industri aesthetic yang lebih maju dan berkelanjutan,” ujarnya.
Efendi menambahkan, pertumbuhan klinik ke depan tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologi.
Menurut dia, teknologi perlu terintegrasi dengan clinical excellence, patient experience, dan business strategy agar dapat menjadi bagian dari sistem pertumbuhan yang berkelanjutan.
Teknologi, Regenerative Aesthetics, hingga Strategi Pertumbuhan
Salah satu materi yang dibahas dalam summit berkaitan dengan pemanfaatan teknologi dalam konsultasi dokter dan peningkatan kepercayaan pasien.
Dr. Lau Kian Hong (Edmond) dijadwalkan membawakan sesi “Clinical Integration of Three-Dimensional Skin Analysis for Patient-Engaged Dermatology and Aesthetic Care”.
Materi tersebut membahas perkembangan teknologi 3D Skin Analysis serta pemanfaatan data visual untuk membantu dokter memahami kondisi kulit pasien secara lebih komprehensif.
“The future of aesthetic consultation is moving from subjective assessment toward a more data-driven and patient-engaged approach. When patients can clearly see and understand their skin condition through visual data, the consultation becomes more transparent, personalized, and meaningful,” kata Dr. Lau Kian Hong (Edmond), Representative Meicet.
Integrasi skin analysis dengan rekomendasi treatment, menurut materi kegiatan, juga diarahkan untuk mendukung komunikasi yang lebih berbasis bukti serta meningkatkan patient engagement, treatment compliance, dan kepercayaan pasien.
Pembahasan lain berfokus pada perkembangan regenerative aesthetics.
Dr. Samuel Stemi akan membawakan sesi “The Future of Regenerative Aesthetic: Precision Microneedling & Smart Skin Regeneration” yang mencakup evolusi regenerative aesthetics, precision microneedling, personalized treatment, clinical protocol, patient selection, serta aspek safety dan clinical consistency.
“Regenerative aesthetics bukan sekadar memperkenalkan treatment baru. Ini tentang memahami bagaimana kulit merespons treatment, bagaimana kita mengontrol proses treatment tersebut, serta bagaimana menciptakan pendekatan regenerasi yang lebih presisi dan personal sesuai kebutuhan setiap pasien,” ujar Dr. Samuel Stemi, Representative Re:H Curiosis.
Ia menekankan pentingnya precision dan consistency dalam perkembangan regenerative aesthetics.
“Precision dan consistency akan menjadi semakin penting dalam perkembangan regenerative aesthetics. Teknologi harus berjalan bersama clinical protocol yang tepat agar inovasi benar-benar memberikan value bagi pasien maupun bagi praktik klinik,” lanjutnya.
Selain regenerative aesthetics, summit tersebut membahas stem cell science dalam konteks regenerative medicine.
Dr. Adi Wijayanto dijadwalkan membawakan sesi “Stem Cell Science, Safety & Regenerative Beauty” yang mengangkat potensi regenerative medicine, skin regeneration, dan healthy aging.
Materi tersebut juga membahas perbedaan antara evidence-based regenerative medicine dengan marketing claims.
“Regenerative beauty harus dibangun di atas science, evidence, safety, dan responsible clinical practice. Ketika kita berbicara mengenai stem cell dan regenerative medicine, edukasi menjadi sangat penting agar inovasi tidak berjalan lebih cepat daripada pemahaman klinis dan aspek keselamatan pasien,” kata Dr. Adi Wijayanto, Founder Biothera Stem Cell Clinic, Jakarta.
Ia juga menekankan pentingnya patient selection, clinical considerations, serta pemahaman terhadap aspek regulatory dan ethical dalam pengembangan regenerative treatment.
Pada sesi Executive Talk Show “Mastering Hair & Facial Regeneration”, forum tersebut menghadirkan Dr. Andreas Widiansyah, Sp.DVE, FINSDV, FAADV, Dermatologist dan Chief of Indonesian Laser Dermatology Study Group; Dr. Chen Ik Cen, M. Biomed (AAM), Aesthetic & Anti-Aging Doctor serta Founder Chen Group; dan Dr. Vincentius Fabriyanti, M. Biomed (AAM), Aesthetic Doctor dan Founder.
Diskusi tersebut membahas pengembangan high-performance aesthetic clinic, positioning, differentiated treatment portfolio, adopsi teknologi, patient acquisition, conversion, retention, hingga lifetime value.
“Klinik yang mampu bertahan dan berkembang bukan hanya klinik yang memiliki teknologi terbaru, tetapi klinik yang mampu mengintegrasikan clinical excellence dengan kebutuhan pasien dan sistem pelayanan yang konsisten,” ujar Dr. Andreas Widiansyah.
Sementara itu, Dr. Chen Ik Cen menyoroti perlunya menempatkan teknologi berdasarkan nilai yang diberikan kepada pasien sekaligus keberlanjutan bisnis klinik.
“Technology should create clinical value and business value at the same time,” kata Dr. Chen Ik Cen, CEO Chen Group.
Menurut dia, tantangan klinik bukan sekadar memilih teknologi terbaru, melainkan mengoptimalkan teknologi yang dinilai memberikan nilai bagi pasien dan sustainability bisnis.
Dr. Vincentius Fabriyanti mengatakan pengalaman pasien sejak konsultasi pertama turut menjadi bagian penting dalam membangun hubungan jangka panjang dengan pasien.
“Pasien tidak hanya membutuhkan treatment, tetapi juga membutuhkan pemahaman yang jelas mengenai kondisi mereka, treatment plan yang personalized, serta journey yang terarah,” ujarnya.
Ketiga narasumber juga dijadwalkan membahas Average Transaction Value, cross-treatment strategy, treatment room utilization, serta recurring revenue.
AI dan Transformasi Digital
Selain aspek klinis, summit tersebut menempatkan AI dan transformasi digital sebagai salah satu pembahasan dalam strategi pengembangan klinik.
Pada sesi “Growth Hack in AI Era”, Adythia Pratama akan membahas perubahan consumer behavior di era AI, AI-powered marketing, content creation, customer insight, personalization, organic patient acquisition, serta pengembangan marketing systems yang lean dan berdampak.
“AI bukan hanya tentang membuat konten lebih cepat. Perubahan yang lebih besar terjadi ketika AI digunakan untuk memahami customer, menemukan growth opportunity, membangun personalized journey, dan membuat keputusan marketing berdasarkan business outcomes,” kata Adythia Pratama.
Ia menambahkan, pemanfaatan AI dapat diarahkan untuk membangun sistem pemasaran yang relevan, terukur, dan berorientasi pada pertumbuhan bisnis.
“Di era AI, klinik tidak selalu harus memiliki marketing budget terbesar untuk memenangkan persaingan. Yang lebih penting adalah bagaimana mereka membangun sistem marketing yang lean, relevan, measurable, dan mampu menghasilkan pertumbuhan,” ujarnya.
Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 menjadi bagian dari perjalanan 25 tahun Beauty World Indonesia dalam mendukung perkembangan industri aesthetic dan beauty di Indonesia.
Melalui expert monologue sessions, clinical and technology knowledge sharing, executive talk show, serta business and marketing growth session, kegiatan tersebut diarahkan untuk mempertemukan pengetahuan klinis dengan pembahasan pengembangan bisnis.
Forum ini juga mempertemukan dokter, clinic owners, medical directors, business leaders, industry professionals, dan business partners.
Selain berbagi pengetahuan, kegiatan tersebut diharapkan membuka ruang bagi networking, partnership, collaboration, dan business opportunities di industri aesthetic Indonesia.
FAQ :
1. Apa itu Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026?
Jawab: Beauty World Executive Clinic Growth Summit 2026 adalah forum diskusi dan konferensi yang mempertemukan para dokter aesthetic, dermatolog, pemilik klinik, serta business leaders untuk membahas perkembangan inovasi klinis, regenerative aesthetics, keterlibatan pasien (patient engagement), hingga strategi pertumbuhan bisnis klinik di era kecerdasan buatan (AI). Kegiatan ini diselenggarakan sebagai bagian dari rangkaian perayaan 25 tahun Beauty World Indonesia.
2. Apa tema yang diusung dalam summit tersebut?
Jawab: Summit ini mengusung tema “Scale Your Clinic, Increase Revenue, Learn from Global Experts”, yang dirancang sebagai wadah berbagi pengetahuan serta pengalaman terkait teknologi klinis, regenerative aesthetics, dan strategi pertumbuhan bisnis berkelanjutan.
3. Apa peran teknologi kecerdasan buatan (AI) dan analisis kulit 3D dalam pelayanan klinik estetika?
Jawab: Menurut Dr. Lau Kian Hong (Edmond), teknologi seperti 3D Skin Analysis memanfaatkan data visual untuk membantu dokter memahami kondisi kulit pasien secara lebih komprehensif. Pendekatan berbasis data ini mengubah konsultasi dari yang semula subjektif menjadi lebih transparan, personal, berbasis bukti (evidence-based), serta meningkatkan kepercayaan dan keterlibatan pasien (patient engagement).
4. Apa fokus pembahasan mengenai regenerative aesthetics dan sains stem cell dalam acara tersebut?
Jawab: Pembahasan mengenai regenerative aesthetics (seperti precision microneedling) menekankan pentingnya pendekatan yang presisi, personal, dan konsisten sesuai kebutuhan kulit pasien. Selain itu, terkait stem cell science dan regenerative medicine, Dr. Adi Wijayanto menekankan bahwa pengembangannya harus didasarkan pada sains, bukti klinis, keselamatan pasien (safety), serta edukasi agar terpisah dari sekadar klaim pemasaran (marketing claims).
5. Faktor apa saja yang menentukan pertumbuhan klinik estetika secara berkelanjutan?
Jawab: CEO Beauty World Indonesia, Efendi, bersama para pakar seperti Dr. Andreas Widiansyah menyatakan bahwa pertumbuhan klinik tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi terbaru, tetapi juga bagaimana mengintegrasikan clinical excellence, pengalaman pasien (patient experience), strategi bisnis, serta sistem pelayanan yang konsisten.
(Ihwan)
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Ihwan Setiawan
Ihwan adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

