TNI Semai 5,4 Ton Bahan Modifikasi Cuaca untuk Tekan Karhutla Sumsel
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Palembang – TNI bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengerahkan pesawat CASA 212 dan Hercules C-130H untuk mendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di Sumatera Selatan, Jumat (23/10/2026).
Melalui lima sortie penerbangan dari Pangkalan TNI AU Sri Mulyono Herlambang (Lanud SMH), Palembang, Satgas Udara menyemai total 5,4 ton bahan semai berupa dry ice dan garam atau natrium klorida (NaCl).
Dua pesawat CASA 212 membawa dan menyemai 3,2 ton dry ice, sedangkan pesawat Hercules C-130H bernomor registrasi A1319 menyemai 2,2 ton garam.
Operasi tersebut bertujuan mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melalui upaya meningkatkan potensi hujan serta membantu mengurangi kabut asap di wilayah terdampak.
TNI dan BMKG menyesuaikan pelaksanaan penyemaian dengan kebutuhan operasi dan kondisi atmosfer di wilayah sasaran.
Langkah ini menjadi bagian dari sinergi lintas instansi untuk mendukung penanggulangan karhutla di Sumatera Selatan.
Lima Sortie Penerbangan Kerahkan Dua Jenis Bahan Semai
Pelaksanaan OMC dari Lanud SMH melibatkan dua jenis pesawat dengan fungsi operasional penyemaian yang berbeda.
Dua pesawat CASA 212 melaksanakan penyemaian 3,2 ton dry ice melalui rangkaian penerbangan yang menjadi bagian dari lima sortie operasi.
Sementara itu, Hercules C-130H A1319 menyemai 2,2 ton garam untuk mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.
Dengan demikian, total bahan semai yang digunakan dalam operasi tersebut mencapai 5,4 ton.
Pengerahan pesawat dan personel menjadi bagian dari dukungan operasional TNI terhadap upaya penanggulangan karhutla di Sumatera Selatan.
Namun, informasi yang tersedia belum merinci pembagian bahan semai pada setiap penerbangan, lokasi spesifik penyemaian, maupun luas wilayah yang menjadi sasaran operasi.
Rincian tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai jangkauan kegiatan dan distribusi bahan semai selama pelaksanaan OMC.
Meski demikian, penggunaan dua jenis bahan semai menunjukkan pendekatan operasional yang menyesuaikan bahan dengan tujuan penyemaian dalam modifikasi cuaca.
Perbedaan Peran Dry Ice dan Garam
Dalam keterangan mengenai operasi tersebut, penyemaian dry ice diarahkan untuk membantu mengatasi kondisi inversi atmosfer yang dapat menghambat pergerakan udara vertikal.
Lapisan inversi terjadi ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan atmosfer tertentu, sehingga dapat membatasi pencampuran udara secara vertikal.
Kondisi tersebut dapat memengaruhi penyebaran polutan dan kabut asap di dekat permukaan.
Sementara itu, garam atau NaCl digunakan sebagai bahan semai untuk mendukung proses pembentukan dan pertumbuhan partikel awan yang berpotensi menghasilkan hujan.
Melalui mekanisme tersebut, penyemaian garam diharapkan dapat meningkatkan peluang hujan ketika kondisi awan dan atmosfer mendukung.
Hujan yang turun di wilayah sasaran diharapkan membantu mengurangi material kebakaran serta menekan dampak kabut asap.
Meski begitu, modifikasi cuaca tidak menjamin hujan turun karena hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer, karakteristik awan, dan faktor meteorologis lainnya.
Karena itu, keberhasilan operasi perlu dinilai melalui data cuaca, curah hujan, perkembangan kebakaran, dan perubahan kualitas udara setelah penyemaian berlangsung.
Informasi yang tersedia belum mencantumkan hasil pengukuran tersebut untuk pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan pada Jumat (23/10/2026).
Sinergi TNI dan BMKG untuk Penanganan Karhutla
TNI bersama BMKG dan instansi terkait terus mendukung penanggulangan karhutla melalui pelaksanaan OMC.
Kolaborasi tersebut menggabungkan dukungan penerbangan dan pengerahan bahan semai dengan analisis meteorologi untuk menentukan waktu serta lokasi penyemaian.
Selain itu, pelaksanaan operasi mempertimbangkan kondisi atmosfer agar kegiatan sesuai dengan kebutuhan di wilayah sasaran.
Upaya tersebut diharapkan membantu meningkatkan potensi hujan, mengurangi dampak kebakaran, dan menekan penyebaran kabut asap di Sumatera Selatan.
Di sisi lain, penanganan karhutla juga membutuhkan pemantauan kondisi kebakaran dan kualitas udara secara berkelanjutan.
Data titik panas, luas lahan terbakar, curah hujan, serta konsentrasi partikulat dapat membantu menggambarkan perkembangan situasi dan dampak penanganan di lapangan.
Namun, keterangan yang tersedia belum memuat data terbaru mengenai indikator-indikator tersebut.
Oleh sebab itu, dampak langsung pelaksanaan OMC terhadap penurunan karhutla dan kabut asap masih memerlukan verifikasi melalui hasil pemantauan setelah operasi.
Hasil Pemantauan Menjadi Bagian Penting Evaluasi
Penyemaian 5,4 ton bahan semai melalui lima sortie penerbangan menandai dukungan operasional TNI terhadap pelaksanaan OMC di Sumatera Selatan.
Dua pesawat CASA 212 menyemai 3,2 ton dry ice, sedangkan Hercules C-130H A1319 menyemai 2,2 ton garam dari Lanud SMH, Palembang.
Melalui kegiatan tersebut, TNI dan BMKG berharap peluang hujan di wilayah sasaran meningkat sehingga dampak karhutla dapat berkurang.
Selanjutnya, hasil pemantauan cuaca, curah hujan, dan kualitas udara diperlukan untuk menilai perkembangan kondisi setelah penyemaian.
Dengan koordinasi lintas instansi dan evaluasi berbasis data, pelaksanaan OMC diharapkan dapat terus mendukung upaya penanggulangan karhutla di Sumatera Selatan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

