71% Konsumen Indonesia Kini Mencari Jawaban Kesehatan Lewat AI
- account_circle Tama
- calendar_month 8 menit yang lalu
- print Cetak

GENSA MEDIA INDONESIA, KESEHATAN – Perubahan cara masyarakat Indonesia mencari informasi kesehatan semakin kuat seiring meningkatnya penggunaan teknologi digital, aplikasi kesehatan, perangkat wearable, dan kecerdasan buatan atau AI.
Temuan PwC Indonesia dalam Voice of the Consumer 2026 menunjukkan 71 persen konsumen Indonesia mengaku akan mencari jawaban melalui AI terlebih dahulu ketika memiliki pertanyaan terkait kesehatan.
Survei yang dirilis PwC Indonesia pada 3 September 2026 itu juga mencatat 86 persen konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.
Data tersebut menunjukkan bahwa internet dan teknologi digital semakin menjadi bagian dari perjalanan masyarakat dalam memahami informasi kesehatan sehari-hari.
Namun, tingginya penggunaan AI untuk mencari informasi kesehatan sekaligus menghadirkan tantangan besar terkait akurasi, konteks, keamanan data, dan potensi misinformasi.
PwC Indonesia mengingatkan bahwa tidak seluruh informasi kesehatan yang tersedia secara online dapat dianggap akurat atau dapat dipercaya.
Survei tersebut melibatkan 21.808 konsumen di 27 wilayah secara global, termasuk 503 responden di Indonesia, dengan pengumpulan data dilakukan pada Februari hingga Maret 2026.
Ketika AI Menjadi Tempat Pertama Mencari Informasi Kesehatan
Perubahan perilaku tersebut membuat pertanyaan sederhana mengenai kesehatan berpotensi semakin sering dicari melalui mesin pencari, media digital, aplikasi kesehatan, maupun AI.
Pertanyaan seperti apa penyebab suatu keluhan, apakah kondisi tertentu normal, apa saja gejala sebuah penyakit, hingga kapan seseorang perlu mendapatkan pemeriksaan medis merupakan bagian dari kebutuhan informasi kesehatan masyarakat.
Namun, informasi kesehatan tidak dapat diperlakukan sama seperti informasi umum.
Jawaban mengenai kesehatan dapat berhubungan langsung dengan keputusan seseorang untuk melakukan pemeriksaan, mengonsumsi obat atau suplemen, mengubah pola makan, melakukan aktivitas fisik, atau menunda pertolongan medis.
Karena itu, informasi kesehatan di media digital perlu dibangun berdasarkan sumber yang dapat diverifikasi dan tidak boleh menggantikan pemeriksaan maupun penilaian tenaga kesehatan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO juga mengingatkan bahwa model AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi tetap mengandung kesalahan, termasuk dalam konteks kesehatan.
WHO menekankan perlunya transparansi, pengawasan ahli, evaluasi yang ketat, perlindungan keselamatan pasien, serta tata kelola yang bertanggung jawab dalam penggunaan AI untuk kesehatan.
86 Persen Konsumen Sudah Menggunakan Aplikasi Kesehatan atau Wearable
Penggunaan teknologi kesehatan di Indonesia juga tidak berhenti pada AI.
PwC mencatat 86 persen konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.
Angka tersebut mencakup penggunaan untuk berbagai kebutuhan, antara lain pengingat konsumsi obat sebesar 35 persen, pemantauan tidur sebesar 33 persen, pemantauan aktivitas olahraga sebesar 29 persen, dan dukungan terhadap kesehatan mental sebesar 21 persen.
Pada kelompok konsumen yang lebih muda, tingkat penggunaan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable mencapai 90 persen.
Sementara itu, tingkat penggunaannya pada konsumen yang lebih tua tercatat 66 persen.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin terbiasa memperoleh data mengenai aktivitas dan kondisi tubuh melalui perangkat digital.
Meski demikian, data dari perangkat digital tetap perlu dipahami sesuai fungsi dan keterbatasannya.
Angka yang muncul pada perangkat tidak otomatis menjadi diagnosis medis.
Interpretasi terhadap kondisi kesehatan tetap membutuhkan konteks, riwayat kesehatan, pemeriksaan, serta bila diperlukan evaluasi tenaga kesehatan.
Topik Kesehatan yang Berpotensi Banyak Dicari
Perubahan perilaku konsumen tersebut membuka ruang bagi media untuk menyediakan informasi kesehatan yang informatif, mudah dipahami, dan berbasis sumber terpercaya.
Beberapa kelompok topik yang relevan antara lain penyakit yang sedang meningkat, hubungan cuaca dengan kesehatan, pola makan sehat, tekanan darah, gula darah, kolesterol, kualitas tidur, kesehatan mental, olahraga, vitamin, layanan BPJS Kesehatan, biaya rumah sakit, antrean pelayanan kesehatan, hingga hak pasien.
Namun, pengembangan topik tersebut harus dilakukan berdasarkan kebutuhan informasi publik dan bukan sekadar mengejar kata kunci.
Artikel kesehatan sebaiknya menjawab pertanyaan pembaca dengan bahasa yang sederhana tanpa menghilangkan konteks ilmiah.
Informasi juga perlu membedakan antara gejala umum, faktor risiko, pencegahan, kondisi yang membutuhkan pemeriksaan, dan keadaan yang memerlukan pertolongan segera.
Media tidak seharusnya menyimpulkan bahwa seseorang menderita penyakit tertentu hanya berdasarkan gejala yang dibaca dalam sebuah artikel.
Dalam praktik jurnalistik, penerapan prinsip tersebut dapat dilakukan dengan mencantumkan sumber yang jelas, menggunakan data terbaru, mengutamakan lembaga kesehatan resmi, serta menghadirkan pendapat tenaga kesehatan atau ahli yang relevan ketika topik membutuhkan penjelasan medis.
Informasi dari lembaga seperti Kementerian Kesehatan, BPOM, BPJS Kesehatan, WHO, rumah sakit, organisasi profesi, jurnal ilmiah, atau sumber penelitian yang kredibel dapat digunakan sesuai konteks dan diverifikasi sebelum dipublikasikan.
Pernyataan narasumber juga harus ditempatkan secara proporsional dan tidak dipotong sehingga mengubah maknanya.
Klaim kesehatan dari perusahaan, influencer, produsen produk, atau pihak berkepentingan juga perlu diperlakukan sebagai klaim yang harus diverifikasi, bukan otomatis sebagai fakta medis.
WHO sendiri menempatkan kredibilitas sumber dan penyebaran informasi berbasis sains sebagai bagian penting dalam menghadapi misinformasi kesehatan di ruang digital.
Jangan Mengubah Artikel Kesehatan Menjadi Diagnosis
Salah satu batas paling penting dalam produksi konten kesehatan adalah membedakan informasi umum dengan diagnosis individual.
Artikel media dapat menjelaskan bahwa suatu gejala dapat memiliki berbagai kemungkinan penyebab.
Namun, media tidak seharusnya menyatakan bahwa pembaca pasti mengalami penyakit tertentu hanya karena memiliki gejala yang disebutkan dalam artikel.
Kalimat seperti “Anda pasti terkena penyakit X” atau “gejala ini berarti Anda menderita penyakit Y” berisiko memberikan kesimpulan medis tanpa pemeriksaan yang memadai.
Pendekatan yang lebih bertanggung jawab adalah menjelaskan kemungkinan secara umum dan memberikan informasi mengenai kapan pembaca perlu berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan.
Untuk kondisi yang berpotensi darurat, artikel juga harus memberikan arahan yang jelas agar pembaca mencari pertolongan medis segera sesuai kondisi yang dijelaskan.
Informasi Kesehatan Harus Mengutamakan Keselamatan Pembaca
Tantangan berikutnya adalah maraknya informasi kesehatan yang beredar melalui media sosial dan platform digital.
WHO menyatakan misinformasi kesehatan dapat menyebar dengan cepat dan memengaruhi keputusan masyarakat.
Karena itu, media memiliki tanggung jawab untuk tidak memperkuat klaim kesehatan yang belum terverifikasi.
Judul juga harus dibuat informatif dan tidak menakut-nakuti pembaca.
Penggunaan kata seperti “pasti”, “100 persen”, “sembuh”, “ampuh”, atau “terbukti” harus memiliki dasar yang kuat dan sesuai dengan bukti yang tersedia.
Hal yang sama berlaku terhadap informasi mengenai vitamin, suplemen, pola diet, obat, terapi alternatif, maupun produk kesehatan.
Klaim manfaat harus diperiksa berdasarkan sumber yang relevan dan tidak boleh dipresentasikan sebagai pengganti pengobatan medis tanpa dasar yang sahih.
Data PwC memperlihatkan adanya kebutuhan besar terhadap informasi kesehatan yang mudah diakses masyarakat.
AI Boleh Membantu, Tetapi Verifikasi Tetap Wajib
Meningkatnya penggunaan AI tidak berarti proses jurnalistik dapat sepenuhnya diserahkan kepada mesin.
AI dapat membantu dalam menemukan struktur pertanyaan, merangkum informasi awal, menyusun kerangka, atau mengidentifikasi istilah yang perlu ditelusuri lebih lanjut.
Namun, fakta medis, angka, klaim manfaat, nama penyakit, rekomendasi kesehatan, dan pernyataan ahli tetap harus diverifikasi terhadap sumber yang dapat dipertanggungjawabkan.
WHO secara khusus mengingatkan bahwa keluaran AI dapat terlihat meyakinkan meskipun mengandung kesalahan.
Karena itu, prinsip yang perlu digunakan dalam produksi berita kesehatan adalah AI membantu proses kerja, bukan menggantikan verifikasi jurnalistik dan pertimbangan tenaga kesehatan.
Data PwC Indonesia memberikan gambaran jelas bahwa perilaku masyarakat dalam mencari informasi kesehatan sedang berubah.
Sebanyak 71 persen konsumen Indonesia menyatakan akan menggunakan AI terlebih dahulu untuk pertanyaan kesehatan, sedangkan 86 persen telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.
Perubahan tersebut sekaligus meningkatkan tanggung jawab media untuk menyediakan informasi kesehatan yang akurat, transparan, mudah dipahami, dan tidak memberikan diagnosis individual.
Bagi pembaca, informasi digital dapat menjadi pintu awal untuk memahami suatu persoalan kesehatan.
Namun, keputusan medis tetap perlu mempertimbangkan kondisi setiap individu dan, ketika diperlukan, dilakukan bersama tenaga kesehatan yang kompeten.
FAQ: AI dan Informasi Kesehatan di Indonesia
Berapa persen konsumen Indonesia yang menggunakan AI untuk mencari jawaban terkait kesehatan?
Menurut PwC Indonesia dalam Voice of the Consumer 2026, sebanyak 71 persen konsumen Indonesia mengatakan akan mencari jawaban melalui AI terlebih dahulu untuk pertanyaan terkait kesehatan.
Berapa persen konsumen Indonesia yang menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable?
PwC Indonesia mencatat 86 persen konsumen Indonesia telah menggunakan aplikasi kesehatan atau perangkat wearable.
Apakah informasi kesehatan dari AI dapat dijadikan diagnosis?
Tidak. Informasi yang diberikan AI tidak seharusnya digunakan sebagai diagnosis individual.
Kondisi kesehatan seseorang perlu dinilai berdasarkan konteks, riwayat kesehatan, pemeriksaan, dan bila diperlukan evaluasi oleh tenaga kesehatan yang kompeten.
Apa saja topik kesehatan yang banyak dicari masyarakat?
Topik kesehatan yang relevan antara lain penyakit yang sedang meningkat, cuaca dan kesehatan, makanan sehat, tekanan darah, gula darah, kolesterol, tidur, kesehatan mental, olahraga, vitamin, BPJS Kesehatan, biaya rumah sakit, antrean rumah sakit, dan hak pasien.
Mengapa informasi kesehatan di media digital harus menggunakan sumber yang terpercaya?
Informasi kesehatan dapat memengaruhi keputusan seseorang mengenai pemeriksaan, pengobatan, pola makan, aktivitas fisik, atau penggunaan produk kesehatan.
Karena itu, informasi kesehatan perlu diverifikasi menggunakan sumber yang kredibel dan relevan.
Apakah data dari aplikasi kesehatan atau wearable sama dengan diagnosis medis?
Tidak. Data dari aplikasi kesehatan atau perangkat wearable dapat membantu pemantauan tertentu, tetapi tidak otomatis merupakan diagnosis medis.
Interpretasinya perlu mempertimbangkan konteks dan, bila diperlukan, penilaian tenaga kesehatan.
Apakah AI dapat digunakan untuk mencari informasi kesehatan?
AI dapat digunakan sebagai salah satu sumber awal untuk memahami informasi kesehatan, tetapi hasilnya tetap perlu diperiksa dan diverifikasi.
AI dapat menghasilkan jawaban yang terlihat meyakinkan tetapi masih mengandung kesalahan.
Kapan seseorang perlu berkonsultasi dengan tenaga kesehatan?
Konsultasi dengan tenaga kesehatan diperlukan ketika seseorang memiliki keluhan atau kekhawatiran mengenai kondisi kesehatannya, terutama apabila gejala menetap, memburuk, atau membutuhkan pemeriksaan lebih lanjut.
Kondisi yang berpotensi darurat memerlukan pertolongan medis segera.
Catatan Redaksi: Artikel ini bersifat informasi umum dan tidak dimaksudkan sebagai diagnosis, pengganti konsultasi dokter, atau dasar untuk menghentikan maupun mengubah pengobatan. Gensa Media Indonesia berkomitmen melakukan verifikasi terhadap sumber dan memberikan ruang klarifikasi apabila terdapat kekeliruan informasi.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Tama
Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

