Kasus Gigitan Ular Tinggi, Aktivis Lingkungan Dorong Pemerintah Perkuat Edukasi Masyarakat
Bekasi – Banjir yang melanda sejumlah wilayah Kota Bekasi meningkatkan kemunculan ular di permukiman warga dalam beberapa waktu terakhir.
Fenomena tersebut muncul karena periode Januari hingga Maret menjadi musim menetasnya ular di berbagai wilayah.
Aktivis lingkungan Firman Ugama menyebut banjir mengganggu habitat alami ular sehingga memaksa reptil keluar mencari tempat lebih kering.
Firman Ugama menyampaikan hal tersebut saat memberikan edukasi langsung kepada masyarakat Kota Bekasi.
Ia meminta warga tetap tenang, namun meningkatkan kewaspadaan dengan memahami jenis ular yang muncul di lingkungan sekitar.
“Januari sampai Maret memang musim menetas ular, apalagi saat banjir melanda,” jelas Firman.
Menurut Firman, tidak semua ular berbahaya bagi manusia.
Ia menegaskan ular piton tidak berbisa, berbeda dengan kobra yang memiliki bisa mematikan.
“Kalau piton tidak berbisa, yang berbahaya justru kobra,” tegas Firman.
Firman juga menyoroti maraknya perburuan biawak yang justru memperparah peningkatan populasi ular.
Ia menjelaskan biawak berperan sebagai predator alami yang memangsa telur dan anakan ular.
“Kalau biawak diburu, populasi ular menjadi tidak terkendali,” ujarnya.
Terkait ular yang masuk rumah, Firman mengimbau warga tidak bertindak gegabah.
Ia menyarankan warga menggiring ular kecil menggunakan sapu dan ember, lalu menghubungi komunitas rescue.
Firman menyarankan warga langsung menghubungi pemadam kebakaran jika menemukan piton berukuran besar.
Ia juga meluruskan mitos penggunaan garam untuk mengusir ular.
“Garam tidak berpengaruh. Itu hanya mitos,” tegasnya.
Firman mengingatkan warga agar tidak menangkap ular atau biawak saat banjir karena berisiko tinggi dan merusak ekosistem.
Ia menjelaskan ular liar cenderung stres, mogok makan, dan berpotensi membahayakan manusia.
Rekam Jejak Firman Ugama
Firman memiliki rekam jejak panjang di bidang konservasi reptil.
Pada 2011, Firman berhasil mengembangbiakkan African Rock Python pertama di Indonesia di Kota Bekasi.
Ia menilai pemerintah daerah harus berperan aktif dalam edukasi masyarakat.
Firman mendorong Dinas Lingkungan Hidup turun langsung ke kelurahan dan kecamatan.
Data nasional mencatat lebih dari 8.700 kasus gigitan ular sepanjang 2025 hingga awal 2026.
Sebanyak 25 korban meninggal dunia tercatat dari kasus tersebut.
Kabupaten Lebak, Banten, mencatat 62 kasus gigitan ular dengan 11 korban meninggal dunia.
Sementara itu, Kabupaten Sukabumi mencatat 44 kasus gigitan ular dalam dua tahun terakhir.
Firman menilai tingginya angka kematian dipicu minimnya edukasi masyarakat tingkat bawah.
Ia juga menyoroti keterbatasan serum antibisa ular jenis polivalen di fasilitas kesehatan.
Firman menyebut serum antibisa ular umumnya hanya tersedia di rumah sakit besar.
Kementerian Kesehatan telah menyalurkan antibisa ular ke puskesmas rujukan dan menggencarkan edukasi penanganan awal.
Namun, para pakar menilai pemerintah masih perlu memperkuat kebijakan penanganan gigitan ular.
“Jangan hanya komunitas yang bergerak, pemerintah juga harus hadir dan serius,” pungkas Firman.







