MBG di Pati Bikin Perut Demo, Ratusan Siswa dan Guru Diduga Keracunan
- account_circle Tama
- calendar_month 36 menit yang lalu
- print Cetak

PATI – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kecamatan Gembong, Kabupaten Pati, Jawa Tengah, mendadak bikin suasana sekolah tidak lagi soal buku, tugas, dan bel berbunyi.
Ratusan siswa dan guru dari dua sekolah justru mengalami mual dan diare setelah menyantap menu MBG.
Pemkab Pati pun menetapkan peristiwa tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB).
Dua sekolah yang terdampak yakni SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati. Di SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 guru mengalami keluhan mual dan diare.
Sementara di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru mengalami keluhan serupa.
Jadi, kalau dihitung-hitung, jumlahnya bukan lagi urusan satu-dua perut yang sedang “demo.”
Total ada 273 siswa dan guru yang dilaporkan mengalami keluhan di dua sekolah tersebut.
Namun, satu hal penting: penyebabnya belum dipastikan sebagai keracunan akibat MBG.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pati Luky Pratugas Narimo mengatakan pihaknya menerima laporan dugaan keracunan sekitar pukul 09.00 WIB pada Rabu (9/9/2026).
Tim kesehatan kemudian melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium untuk memastikan penyebab keluhan tersebut.
Artinya, MBG memang disebut berkaitan dengan kejadian tersebut, tetapi secara jurnalistik belum boleh langsung divonis sebagai biang kerok sebelum hasil pemeriksaan resmi keluar.
Dari Sekolah ke Rumah Sakit
Para siswa dan guru yang mengalami keluhan mendapatkan penanganan medis.
Sejumlah korban bahkan harus menjalani perawatan di rumah sakit.
Plt Bupati Pati Risma Ardhi Chandra mengatakan Pemkab Pati menetapkan kejadian tersebut sebagai KLB karena jumlah penderita mencapai ratusan dan menyangkut keselamatan para korban.
“Karena menyangkut keselamatan korban dan jumlah penderita ratusan, kasus tersebut masuk dalam kategori Kejadian Luar Biasa (KLB),” kata Chandra dalam keterangan resmi kepada wartawan, Kamis (10/9/2026).
Pemkab menyatakan penanganan dalam kondisi darurat dapat menggunakan belanja tidak terduga.
Pemerintah daerah juga memastikan kondisi para siswa dan guru yang mengalami keluhan terus dipantau.
Data terbaru yang disampaikan Chandra menunjukkan sekitar 45 siswa dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati masih menjalani rawat inap di RSUD Soewondo dan RS Mitra Bangsa.
“Kami akan terus mengawal proses investigasi dan bersama pihak terkait melakukan evaluasi terhadap proses distribusi serta keamanan pangan, dengan tetap menunggu hasil investigasi resmi,” ujar Chandra.
Kini pekerjaan rumahnya bukan cuma mengurus siswa yang sakit, tetapi juga mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi.
Pemeriksaan epidemiologis dan uji laboratorium menjadi kunci untuk mengungkap penyebab keluhan kesehatan tersebut.
Sebab, makanan bergizi mestinya bikin badan berisi tenaga, bukan malah membuat ambulans mondar-mandir.
Karena itu, sampai hasil pemeriksaan resmi keluar, peristiwa ini tetap harus disebut sebagai dugaan keracunan.
Tidak boleh ada pihak yang langsung dituding sebagai penyebab tanpa bukti dan hasil investigasi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Pemkab Pati sendiri menyatakan akan terus melakukan pendataan, sinkronisasi jumlah korban, serta mengawal proses investigasi dan evaluasi keamanan pangan.
Dengan begitu, publik kini menunggu jawaban yang lebih penting daripada sekadar siapa yang disalahkan: apa penyebab sebenarnya dan bagaimana agar kejadian serupa tidak terulang?
Ditulis oleh: Tama
Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

