Panglima TNI Serahkan 12 Ranpur AAV M-35 untuk Perkuat Marinir
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month Selasa, 29 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta, Gensa Media Indonesia – Korps Marinir TNI Angkatan Laut menerima 12 unit kendaraan tempur amfibi AAV M-35 sebagai bagian dari modernisasi alat utama sistem persenjataan (alutsista) untuk memperkuat kemampuan operasi dari laut menuju daratan.
Penyerahan secara resmi berlangsung di Lapangan Apel Brigif 1 Marinir, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan, Senin (28/9/2026).
Dalam prosesi tersebut, Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menyerahkan secara simbolis kendaraan tempur AAV M-35 kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto.
Selanjutnya, Panglima TNI menyerahkan kepada Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali.
Rangkaian tersebut menjadi bagian dari penerimaan resmi AAV M-35 ke dalam jajaran Korps Marinir TNI AL. Kementerian Pertahanan menyebut kendaraan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemampuan operasi amfibi dan mendukung tugas pertahanan negara.
Namun, secara fisik 12 kendaraan tahap pertama itu telah tiba di Indonesia pada 22 September 2026, atau enam hari sebelum seremoni penerimaan dan penyerahan di Cilandak.
Informasi tersebut tercantum dalam pemberitaan resmi Pasmar 1 TNI AL yang menyebut 12 unit tersebut merupakan tahap pertama dari pemenuhan 35 unit kendaraan tempur AAV M-35 untuk Korps Marinir.
Dari Laut ke Darat, Ini Fungsi AAV M-35
AAV M-35 merupakan kendaraan tempur amfibi pengangkut personel yang berasal dari varian AAV-7A1 RAM/RS buatan Amerika Serikat.
Kendaraan tersebut dirancang untuk beroperasi di dua lingkungan sekaligus, yakni perairan dan daratan.
Fungsi utamanya berkaitan dengan mobilitas pasukan dalam operasi amfibi, terutama ketika personel dan perlengkapan harus bergerak dari laut menuju pantai kemudian melanjutkan pergerakan di wilayah darat.
Kementerian Pertahanan menjelaskan bahwa penamaan AAV M-35 memiliki arti khusus bagi Korps Marinir.
Huruf “M” merujuk pada Marinir.
Angka “3” merepresentasikan tiga awak kendaraan, yakni komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak.
Sementara angka “5” merujuk pada kemampuan kendaraan menghadapi kondisi laut hingga Sea State 5.
Dengan karakter tersebut, AAV M-35 bukan sekadar kendaraan pengangkut personel di darat.
Kemampuan bergerak dari wilayah perairan menuju pantai membuat kendaraan ini memiliki fungsi khusus dalam mendukung konsep operasi amfibi.
Data teknis yang disampaikan dalam informasi TNI menyebut AAV M-35 memiliki bobot sekitar 23 ton dengan panjang 7,94 meter, lebar 3,27 meter, dan tinggi 3,26 meter.
Kendaraan tersebut dapat membawa hingga 21 prajurit dengan tiga awak kendaraan.
Untuk mobilitas, AAV M-35 disebut mampu mencapai kecepatan hingga 15 kilometer per jam di air dan sekitar 75 kilometer per jam di darat.
Persenjataannya mencakup senapan mesin kaliber 12,7 milimeter dan pelontar granat otomatis kaliber 40 milimeter.
Kemampuan tersebut menunjukkan bahwa fungsi AAV M-35 tidak hanya berada pada aspek transportasi.
Kendaraan ini juga dirancang untuk memberikan perlindungan dan dukungan tembakan bagi pasukan yang dibawanya selama menjalankan tugas operasional.
Tahap Awal dari Pemenuhan 35 Unit
Masuknya 12 AAV M-35 merupakan bagian dari pemenuhan total 35 unit untuk Korps Marinir TNI AL.
Pasmar 1 TNI AL menyebut 12 kendaraan tersebut merupakan pengiriman tahap pertama dari kebutuhan 35 unit yang disiapkan untuk memperkuat kemampuan kendaraan tempur amfibi Marinir.
Dengan demikian, pengadaan tersebut bukan perubahan kekuatan secara sekaligus.
Modernisasi dilakukan secara bertahap sehingga penerimaan unit pertama menjadi salah satu bagian dari pembangunan kemampuan kendaraan tempur amfibi Korps Marinir.
Konteks ini penting karena kemampuan operasi amfibi tidak hanya bergantung pada jumlah kendaraan.
Kesiapan operasional juga berkaitan dengan personel, pemeliharaan, dukungan logistik, kemampuan komando dan kendali, serta integrasi dengan unsur laut dan darat.
Karena itu, penambahan 12 unit AAV M-35 perlu dilihat sebagai bagian dari pembangunan kemampuan satuan secara lebih luas, bukan semata-mata penambahan jumlah kendaraan tempur.
Kementerian Pertahanan menyatakan modernisasi tersebut diarahkan untuk memperkuat kemampuan Korps Marinir dalam mendukung tugas pertahanan dan operasi amfibi.
Bagi Indonesia sebagai negara kepulauan, kemampuan memindahkan pasukan dari laut menuju daratan menjadi salah satu aspek penting dalam operasi yang melibatkan wilayah pesisir dan pulau.
Dalam konteks tersebut, kendaraan amfibi memiliki fungsi yang berbeda dari kendaraan tempur yang hanya dirancang untuk operasi darat.
AAV M-35 dan Modernisasi Alutsista Marinir
Kehadiran AAV M-35 juga menjadi bagian dari proses modernisasi alutsista Korps Marinir TNI AL.
Pasmar 1 menyebut penerimaan kendaraan tersebut diharapkan meningkatkan kemampuan dan kesiapan operasional Korps Marinir, khususnya dalam mobilitas pasukan dan perlengkapan dari laut menuju daratan.
Sebelumnya, Korps Marinir juga telah mengoperasikan kendaraan tempur amfibi LVT-7A1.
Seremoni penerimaan AAV M-35 pada 28 September 2026 bahkan berlangsung di atas kendaraan LVT-7A1, yang menunjukkan adanya kesinambungan dalam penggunaan kendaraan tempur amfibi di lingkungan Korps Marinir.
Dengan hadirnya platform AAV M-35, perhatian berikutnya bukan hanya pada spesifikasi kendaraan.
Publik juga perlu melihat bagaimana kendaraan tersebut akan ditempatkan, digunakan, dirawat, serta diintegrasikan dengan kemampuan satuan Marinir yang sudah ada.
Aspek tersebut penting karena efektivitas sebuah sistem persenjataan dalam organisasi pertahanan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan teknis platform.
Kesiapan personel, ketersediaan suku cadang, pemeliharaan, latihan, doktrin penggunaan, serta dukungan logistik menjadi bagian yang menentukan kesiapan operasional.
Dalam informasi resmi yang tersedia saat ini, pemerintah dan TNI menempatkan penerimaan AAV M-35 sebagai bagian dari penguatan kemampuan operasi amfibi Korps Marinir.
Belum seluruh rincian mengenai pola distribusi 35 unit, konfigurasi operasional setiap satuan, maupun kebutuhan biaya pemeliharaan jangka panjang dijelaskan dalam informasi yang dipublikasikan.
Karena itu, aspek tersebut masih menjadi bagian yang relevan untuk dipantau seiring berlangsungnya pemenuhan kendaraan tempur secara bertahap.
Penambahan AAV M-35 pada akhirnya memperlihatkan arah modernisasi kendaraan tempur amfibi Korps Marinir yang dilakukan secara bertahap.
Untuk tahap pertama, 12 unit telah tiba dan resmi diterima dalam rangkaian kegiatan di Cilandak.
Selanjutnya, pemenuhan hingga 35 unit menjadi bagian dari proses penguatan kemampuan kendaraan tempur amfibi TNI AL sesuai kebutuhan operasional yang telah ditetapkan pemerintah.
Dengan kemampuan bergerak di laut dan darat, AAV M-35 diproyeksikan mendukung mobilitas pasukan pendarat dalam operasi amfibi.
Bagi publik, perkembangan berikutnya yang penting untuk diperhatikan adalah realisasi seluruh pengadaan, kesiapan operasional, distribusi kendaraan, serta bagaimana modernisasi tersebut diterjemahkan menjadi kemampuan pertahanan yang benar-benar siap digunakan sesuai tugas dan ketentuan yang berlaku.
FAQ AAV M-35 Korps Marinir
Apa itu AAV M-35 Korps Marinir?
AAV M-35 merupakan kendaraan tempur amfibi pengangkut personel varian AAV-7A1 yang digunakan untuk mendukung operasi Korps Marinir TNI Angkatan Laut.
Kendaraan ini dapat beroperasi di wilayah perairan maupun daratan serta mendukung pergerakan pasukan dari laut menuju pantai hingga melanjutkan pergerakan di darat.
Berapa unit AAV M-35 yang diterima Korps Marinir?
Korps Marinir TNI Angkatan Laut menerima 12 unit AAV M-35 pada tahap pertama.
Pasmar 1 TNI AL menyebut 12 unit tersebut merupakan bagian awal dari pemenuhan 35 unit kendaraan untuk Korps Marinir.
Kapan 12 unit AAV M-35 tiba di Indonesia?
Berdasarkan keterangan Pasmar 1 TNI AL, sebanyak 12 unit AAV M-35 telah tiba di Indonesia pada 22 September 2026.
Penerimaan dan penyerahan secara resmi kemudian dilaksanakan pada 28 September 2026 di Lapangan Apel Brigif 1 Marinir, Kesatrian Marinir Hartono, Cilandak, Jakarta Selatan.
Siapa yang menyerahkan AAV M-35 kepada TNI?
Menteri Pertahanan RI Sjafrie Sjamsoeddin memimpin acara penerimaan dan penyerahan AAV M-35.
Dalam prosesi simbolis, kendaraan tersebut diserahkan kepada Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto, kemudian diteruskan kepada Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana TNI Muhammad Ali dan diterima oleh unsur Korps Marinir TNI AL.
Untuk apa AAV M-35 digunakan?
AAV M-35 digunakan untuk mendukung mobilitas pasukan dan perlengkapan dalam operasi amfibi, khususnya pergerakan dari laut menuju pantai dan selanjutnya menuju sasaran di darat.
Berapa kapasitas personel AAV M-35?
AAV M-35 memiliki kapasitas angkut hingga 21 prajurit dengan tiga awak kendaraan.
Kementerian Pertahanan menjelaskan tiga awak tersebut terdiri atas komandan kendaraan, pengemudi, dan penembak.
Apa arti nama AAV M-35?
Menurut Kementerian Pertahanan, huruf M pada AAV M-35 merujuk pada Marinir.
Angka 3 merepresentasikan tiga awak kendaraan, sedangkan angka 5 merujuk pada kemampuan kendaraan menghadapi kondisi laut hingga Sea State 5.
Mengapa AAV M-35 penting bagi Korps Marinir?
AAV M-35 menjadi bagian dari modernisasi alutsista Korps Marinir TNI AL.
Kemampuan beroperasi di air dan darat mendukung kebutuhan mobilitas pasukan pendarat dalam pelaksanaan operasi amfibi.
Apakah 12 unit AAV M-35 merupakan seluruh pengadaan?
Tidak. Sebanyak 12 unit merupakan tahap pertama.
Berdasarkan keterangan Pasmar 1 TNI AL, pemenuhan kendaraan untuk Korps Marinir mencapai 35 unit.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

