Asap Masih Mengepul, Satgas Lanud Sjamsudin Noor Perkuat Pembasahan Gambut
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month Sabtu, 26 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BANJAR – Asap yang masih muncul dari sejumlah titik lahan gambut membuat Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor memperkuat pembasahan dan pendinginan di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, Jumat, 25 September 2026.
Penanganan tidak hanya diarahkan pada bagian lahan yang masih terlihat mengeluarkan asap, tetapi juga menyasar lapisan gambut yang diduga masih menyimpan panas di bawah permukaan.
Personel menyisir area terdampak untuk menemukan titik yang masih menunjukkan indikasi panas maupun asap.
Air kemudian diarahkan ke permukaan sekaligus digunakan untuk membasahi lapisan gambut yang berpotensi menyimpan bara.
Langkah tersebut dilakukan karena padamnya api di permukaan belum otomatis menunjukkan bahwa sumber panas di lahan gambut telah sepenuhnya hilang.
Kondisi ini membuat proses pendinginan menjadi bagian penting setelah pemadaman untuk menekan kemungkinan bara kembali aktif.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita mengatakan penanganan dilakukan secara intensif dengan menyisir lokasi yang masih menunjukkan tanda-tanda panas dan asap.
Bara Gambut Bisa Bertahan di Bawah Permukaan
Karakter lahan gambut membuat penanganan kebakaran memiliki tantangan berbeda dibandingkan kebakaran pada permukaan tanah biasa.
Ketika lapisan gambut mengering, sumber panas dapat berada di bawah permukaan dan tidak selalu terlihat sebagai kobaran api.
Karena itu, pembasahan dilakukan secara berkelanjutan untuk membantu menurunkan temperatur pada lapisan yang berpotensi masih menyimpan bara.
Satgas juga menggunakan metode undercooling atau suntik gambut melalui pipa.
Teknik tersebut dilakukan dengan memasukkan air ke lapisan gambut sehingga proses pendinginan dapat menjangkau sumber panas yang tidak terlihat secara langsung dari permukaan.
Pendekatan itu sekaligus menjelaskan mengapa penanganan karhutla di lahan gambut tidak berhenti ketika kobaran api sudah tidak terlihat.
Petugas masih harus memastikan bagian lahan yang menunjukkan indikasi panas mendapatkan pembasahan dan pemantauan lanjutan.
Asap yang kembali muncul menjadi salah satu indikasi yang perlu diperhatikan di lapangan, meskipun penyebab spesifik setiap titik tetap membutuhkan pemeriksaan langsung oleh petugas.
Selain pembasahan, penyisiran dan pemantauan dilakukan untuk menemukan lokasi yang masih berpotensi menimbulkan bara.
Dengan pola tersebut, penanganan diarahkan bukan hanya untuk menghilangkan api yang terlihat, tetapi juga mengurangi risiko munculnya kembali titik api.
Kawasan Sekitar Bandara Menjadi Perhatian
Penanganan di Jalan Gubernur Syarkawi memiliki kepentingan lebih luas karena kawasan tersebut termasuk wilayah yang menjadi perhatian dalam kesiapsiagaan karhutla di sekitar Bandara Internasional Syamsudin Noor.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan sebelumnya menempatkan kawasan Jalan Gubernur Syarkawi sebagai salah satu lokasi pos lapangan karhutla di ring satu bandara.
BPBD Kalsel pada Juli 2026 menyebut terdapat lima pos lapangan yang difokuskan di kawasan ring satu bandara, termasuk Guntung Damar, Pengayuan, Bati-Bati, Jalan Gubernur Syarkawi, dan Alalak di Barito Kuala.
Artinya, pengendalian kebakaran di kawasan tersebut tidak semata berkaitan dengan kondisi lahan, tetapi juga bagian dari upaya mempercepat respons terhadap ancaman karhutla di kawasan strategis sekitar bandara.
Kondisi ini menjadi relevan karena asap karhutla dapat berdampak terhadap lingkungan sekitar dan aktivitas masyarakat.
Namun, berdasarkan informasi yang tersedia, tidak ada data yang menunjukkan bahwa aktivitas penerbangan Bandara Internasional Syamsudin Noor terganggu akibat penanganan pada 25 September tersebut.
Karena itu, dampak terhadap penerbangan tidak dapat disimpulkan hanya dari adanya asap di lokasi karhutla.
Risiko Karhutla Masih Menjadi Perhatian Kalsel
Penanganan di Jalan Gubernur Syarkawi berlangsung ketika Kalimantan Selatan berada pada periode yang sebelumnya diproyeksikan memiliki risiko karhutla tinggi.
BMKG Stasiun Klimatologi Kelas I Kalimantan Selatan pada Juli 2026 menyampaikan bahwa puncak musim kemarau diperkirakan berlangsung pada Agustus hingga September 2026.
Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang meningkatkan kewaspadaan terhadap kebakaran hutan dan lahan di wilayah Kalimantan Selatan.
Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan juga telah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi periode tersebut melalui pengerahan personel, sarana pemadaman, patroli, serta koordinasi lintas sektor.
Dalam rencana kesiapsiagaan yang dipaparkan pemerintah daerah, sumber daya yang disiapkan mencakup ribuan personel pendukung, kendaraan operasional, kendaraan tangki, unit patroli, dan mesin pompa air.
Konteks tersebut menunjukkan bahwa penanganan di Jalan Gubernur Syarkawi merupakan bagian dari upaya pengendalian karhutla yang membutuhkan respons lapangan secara berkelanjutan.
Sebelumnya, pada 22 September 2026, data yang disampaikan dalam rapat evaluasi penanganan karhutla Kalsel mencatat luas lahan terbakar sekitar 160,55 hektare, dengan 111,45 hektare telah dipadamkan dan sekitar 49,10 hektare masih dalam penanganan.
Data tersebut merupakan kondisi hingga 22 September 2026 sehingga tidak dapat digunakan untuk menggambarkan luas kebakaran terbaru setelah tanggal tersebut.
Bagi masyarakat, perkembangan di lapangan penting dipantau karena keberadaan asap tidak selalu berarti api terbuka sedang membesar.
Pada lahan gambut, sumber panas yang berada di bawah permukaan tetap dapat menjadi perhatian meskipun kobaran api tidak terlihat.
Karena itu, keberlanjutan pembasahan, pemantauan titik panas, dan penyisiran lokasi menjadi bagian penting untuk memastikan bara tidak kembali berkembang.
Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor menyatakan pengerahan personel dan sarana pendukung terus dioptimalkan bersama unsur terkait.
Fokus penanganan diarahkan pada pembasahan berkelanjutan dan pendinginan area yang masih menunjukkan indikasi panas maupun asap.
Langkah tersebut ditujukan untuk menekan kemungkinan bara kembali menyala dan mencegah kebakaran meluas ke area lain.
Dengan kondisi tersebut, indikator keberhasilan penanganan tidak hanya terlihat dari hilangnya api di permukaan, tetapi juga dari kemampuan petugas memastikan sumber panas di dalam lapisan gambut tidak kembali memicu kebakaran.
FAQ Satgas Lanud Sjamsudin Noor dan Karhutla Gambut
Mengapa Satgas Darat Lanud Sjamsudin Noor memperkuat pembasahan lahan gambut?
Pembasahan dan pendinginan diperkuat karena masih terdapat asap dan indikasi panas di sejumlah titik lahan gambut. Langkah tersebut dilakukan untuk menekan risiko bara di bawah permukaan kembali menyala dan meluas.
Di mana penanganan lahan gambut dilakukan?
Penanganan dilakukan di kawasan Jalan Gubernur Syarkawi, Kecamatan Gambut, Kabupaten Banjar, Kalimantan Selatan, pada Jumat, 25 September 2026.
Apa metode yang digunakan untuk mendinginkan lahan gambut?
Selain pembasahan dari permukaan, Satgas menggunakan metode undercooling atau suntik gambut melalui pipa untuk membantu memasukkan air ke lapisan gambut yang berpotensi masih menyimpan sumber panas.
Mengapa lahan gambut perlu didinginkan hingga bagian bawah permukaan?
Pada lahan gambut, sumber panas dapat tetap berada di bawah permukaan meskipun api terbuka telah padam. Karena itu, pembasahan dan pendinginan dilakukan untuk menjangkau lapisan yang berpotensi masih menyimpan bara.
Apa yang dilakukan personel Satgas setelah pembasahan?
Personel terus menyisir area yang menunjukkan tanda-tanda panas atau asap serta melakukan pemantauan terhadap titik yang berpotensi menyimpan bara agar dapat segera ditangani.
Siapa yang menyampaikan informasi mengenai penanganan tersebut?
Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita menyampaikan bahwa penanganan dilakukan secara intensif dengan menyisir area yang masih menunjukkan tanda-tanda panas dan asap.
Apakah penanganan hanya dilakukan dengan penyiraman dari permukaan?
Tidak. Berdasarkan informasi yang tersedia, air juga dimasukkan ke lapisan gambut menggunakan metode undercooling atau suntik gambut melalui pipa untuk membantu menjangkau sumber panas yang tidak terlihat dari permukaan.
Apa tujuan pemantauan setelah proses pendinginan?
Pemantauan dilakukan untuk mengetahui apakah masih terdapat indikasi panas atau asap dan membantu mencegah bara kembali menyala serta memicu munculnya titik api.
Apakah penanganan berkaitan dengan kawasan Bandara Internasional Syamsudin Noor?
Ya. Satgas menyebut pengerahan tersebut merupakan bagian dari sinergi TNI AU bersama unsur gabungan untuk menangani ancaman karhutla dan menjaga wilayah sekitar Lanud Sjamsudin Noor serta Bandara Internasional Syamsudin Noor.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

