Ekonomi

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Transmisi Kredit Masih Tersendat

BI Tahan Suku Bunga 4,75 Persen, Transmisi Kredit Masih Tersendat – Foto Istimewa

Ekonomi – Bank Indonesia memutuskan mempertahankan suku bunga acuan atau BI-Rate di level 4,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) yang digelar Kamis (19/2/2026).

Keputusan itu disertai penetapan suku bunga Deposit Facility sebesar 3,75 persen dan Lending Facility sebesar 5,50 persen.

Otoritas moneter menyatakan kebijakan ini diarahkan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah dan memastikan inflasi 2026–2027 tetap berada dalam sasaran 2,5 persen plus minus 1 persen.

Gubernur BI, Perry Warjiyo, menegaskan bahwa kebijakan mempertahankan suku bunga acuan dilakukan dengan mempertimbangkan dinamika global dan kondisi domestik terkini.

BI menilai stabilitas makroekonomi tetap menjadi prioritas utama di tengah ketidakpastian eksternal, termasuk volatilitas pasar keuangan dan tekanan nilai tukar di sejumlah negara berkembang.

“Keputusan ini konsisten dengan strategi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah serta memastikan inflasi tetap terkendali dalam sasaran,” ujar Perry dalam konferensi pers pasca-RDG.

Secara kebijakan, BI sebelumnya telah menurunkan suku bunga acuan sebanyak lima kali sepanjang 2025 dengan total penurunan mencapai 125 basis poin (bps).

Namun, transmisi pelonggaran moneter tersebut ke sektor riil dinilai belum optimal, terutama dalam bentuk penurunan suku bunga kredit perbankan.

Data BI menunjukkan suku bunga kredit perbankan baru turun sekitar 40 bps, dari 9,20 persen pada awal 2025 menjadi 8,80 persen pada Januari 2026.

Angka tersebut dinilai belum sebanding dengan akumulasi penurunan BI-Rate.

Perry menyatakan bahwa percepatan transmisi suku bunga ke sektor perbankan masih menjadi pekerjaan rumah.

BI, kata dia, terus mencermati ruang penurunan suku bunga kebijakan dengan pendekatan berbasis data (data dependent), sembari menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

Di sisi lain, suku bunga pasar uang menunjukkan penurunan yang lebih tajam.

Pilihan Editor :  Brimob Metro Jaya Kujungi Mako Korps Marinir Dalam HUT ke-80 Marinir TNI AL

Suku bunga IndONIA tercatat menyusut 211 bps sejak awal 2025 menjadi 3,92 persen. Imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) juga turun rata-rata di atas 220 bps untuk berbagai tenor.

Kondisi ini menunjukkan respons cepat di pasar keuangan, meski belum sepenuhnya diikuti sektor perbankan dalam bentuk penurunan bunga kredit.

Special Rate dan Tantangan Likuiditas

BI mengidentifikasi salah satu faktor penghambat penurunan bunga kredit adalah masih tingginya biaya dana (cost of fund) perbankan.

Hal ini dipengaruhi oleh praktik pemberian bunga simpanan khusus atau special rate kepada deposan besar.

BI mencatat special rate masih mencakup 26,42 persen dari total Dana Pihak Ketiga (DPK).

Kondisi tersebut membuat ruang penurunan suku bunga kredit menjadi lebih terbatas.

Bank tetap harus menjaga daya saing penghimpunan dana, terutama untuk mempertahankan likuiditas di tengah persaingan industri.

Meski demikian, BI menilai likuiditas perbankan secara umum berada dalam kondisi memadai.

Bank sentral berharap industri perbankan dapat lebih agresif menyalurkan kredit dengan bunga yang lebih kompetitif guna mendorong pertumbuhan ekonomi nasional.

Dari sisi masyarakat, keputusan menahan BI-Rate membawa dua konsekuensi.

Pertama, stabilitas nilai tukar rupiah relatif terjaga sehingga risiko lonjakan harga barang impor dapat ditekan.

Stabilitas ini penting untuk menjaga inflasi tetap dalam sasaran. Kedua, harapan terhadap penurunan bunga pinjaman dalam waktu dekat belum sepenuhnya terwujud, mengingat transmisi ke bunga kredit masih terbatas.

Bagi pelaku usaha, terutama sektor produktif, suku bunga kredit yang belum turun signifikan dapat memengaruhi ekspansi usaha dan keputusan investasi.

Sementara bagi rumah tangga, bunga kredit konsumsi seperti kredit kendaraan atau kredit pemilikan rumah belum mengalami penurunan berarti.

Pilihan Editor :  Mudik Gratis Pulang Basamo 2025: Kesempatan Kembali ke Kampung Halaman Tanpa Biaya

Ke depan, BI menyatakan akan terus memantau perkembangan inflasi, nilai tukar, serta kondisi likuiditas global dan domestik sebelum mengambil langkah lanjutan.

Kebijakan suku bunga tetap diarahkan untuk menjaga stabilitas sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

Dengan mempertahankan BI-Rate di level 4,75 persen per 19 Februari 2026, BI mengirim sinyal kehati-hatian di tengah dinamika global.

Tantangan berikutnya terletak pada efektivitas transmisi kebijakan moneter ke sektor riil, terutama dalam bentuk penurunan bunga kredit yang lebih responsif dan merata.**/red

gensa.club berkomitmen memberikan berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Sebelumnya

Pertamina Sumbagut Antisipasi Lonjakan Konsumsi LPG 3,8% Saat Lebaran 2026

Selanjutnya

Tiga Cara Install iQIYI di Laptop Windows, Ini Panduan Lengkapnya

Nadya
Jurnalis

Nadya

Nadya adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Gensa Media Indonesia