Kejuaraan Nasional Pencak Silat di Bogor Diikuti Lebih 15 Provinsi
BOGOR – Kejuaraan Pencak Silat Nasional Satria Warrior Championship 2026 dipastikan akan diikuti atlet dari lebih dari 15 provinsi di Indonesia. Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di...

BOGOR – Kejuaraan Pencak Silat Nasional Satria Warrior Championship 2026 dipastikan akan diikuti atlet dari lebih dari 15 provinsi di Indonesia.
Ajang yang dijadwalkan berlangsung pada 21–23 Agustus 2026 di GOR Laga Satria, Pakansari, Kabupaten Bogor, itu menjadi momentum untuk mempertemukan pesilat dari berbagai daerah sekaligus menjaring bibit atlet berprestasi yang diproyeksikan mampu bersaing di level nasional hingga internasional.
Kejuaraan nasional yang digelar untuk pertama kalinya tersebut tidak hanya berorientasi pada kompetisi, tetapi juga membawa misi pembinaan olahraga sekaligus pelestarian pencak silat sebagai warisan budaya asli Indonesia.
Penyelenggara berharap kejuaraan ini dapat menjadi agenda berkelanjutan yang mampu memperluas kesempatan bertanding bagi atlet dari berbagai kelompok usia.
Ketua Pelaksana Kejuaraan Pencak Silat Nasional Satria Warrior Championship 2026, Fahmi Fahreza, mengatakan kejuaraan ini dirancang sebagai wadah bagi atlet pencak silat dari berbagai daerah untuk mengukur kemampuan sekaligus mempererat hubungan antarpesilat melalui kompetisi yang sehat.
“Tujuan utama kami adalah regenerasi atlet-atlet daerah agar mampu berprestasi ke jenjang yang lebih tinggi. Selain itu, kami juga ingin melestarikan pencak silat sebagai budaya asli Indonesia,” kata Fahmi, Sabtu (11/7/2026).
Menurutnya, regenerasi atlet merupakan salah satu tantangan yang harus dijawab melalui penyelenggaraan kompetisi secara berkesinambungan.
Kesempatan bertanding dinilai menjadi faktor penting dalam meningkatkan pengalaman sekaligus mental bertanding atlet sebelum mereka mengikuti kejuaraan yang lebih tinggi.
Fahmi menjelaskan, peserta yang akan tampil berasal dari berbagai kategori usia, mulai dari pelajar hingga atlet dewasa.
Dengan cakupan tersebut, penyelenggara berharap proses pencarian talenta dapat dilakukan sejak usia dini sehingga pembinaan atlet memiliki kesinambungan.
Hingga pertengahan Juli 2026, kata dia, pendaftaran telah diikuti kontingen dari lebih dari 15 provinsi.
Jumlah peserta diperkirakan masih akan bertambah seiring masih dibukanya proses registrasi menjelang pelaksanaan kejuaraan pada Agustus mendatang.
Menurut Fahmi, tingginya minat peserta menunjukkan bahwa kebutuhan terhadap kompetisi pencak silat berskala nasional masih sangat besar.
Kejuaraan seperti ini dinilai mampu menjadi ruang bagi atlet untuk menguji hasil latihan sekaligus memperoleh pengalaman menghadapi lawan dari berbagai daerah.
Disiapkan Menjadi Kejuaraan Berseri
Penyelenggara juga menyiapkan pengembangan Satria Warrior Championship menjadi kompetisi berseri yang digelar di sejumlah provinsi.
Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan pembinaan atlet sekaligus meningkatkan frekuensi pertandingan bagi pesilat di berbagai wilayah Indonesia.
“Rencananya setelah event perdana ini kami akan menggelar seri berikutnya di Lampung, kemudian berlanjut ke provinsi-provinsi lainnya,” ujar Fahmi.
Ia menegaskan, penyelenggara berfokus menyediakan wadah kompetisi yang profesional dan terbuka bagi seluruh atlet.
Adapun pembinaan teknis atlet tetap menjadi kewenangan pemerintah daerah, pengurus cabang olahraga, maupun organisasi pencak silat melalui program pembinaan seperti Pemusatan Latihan Daerah (Pelatda) maupun Pemusatan Latihan Nasional (Pelatnas).
Meski demikian, konsep pembinaan berjenjang tetap menjadi bagian dari pengembangan kejuaraan.
Penyelenggara menargetkan kompetisi ini mampu menjadi mata rantai pembinaan atlet sejak tingkat sekolah dasar, sekolah menengah pertama, sekolah menengah atas hingga kategori dewasa.
Dengan sistem tersebut, atlet yang menunjukkan prestasi di tingkat usia dini diharapkan memiliki jalur kompetisi yang berkesinambungan menuju level yang lebih tinggi.
Kehadiran kejuaraan rutin juga dinilai dapat membantu daerah dalam memantau perkembangan atlet potensial.
Fahmi berharap setiap peserta mampu menunjukkan kemampuan terbaiknya selama pertandingan berlangsung.
Ia juga mengajak seluruh pihak, khususnya pemerintah, untuk terus memperkuat dukungan terhadap pembinaan olahraga prestasi melalui kebijakan maupun pengalokasian anggaran yang memadai.
“Harapannya setiap atlet bisa mengekspresikan kemampuan terbaiknya. Kami juga berharap pemerintah lebih serius memberikan perhatian terhadap pembinaan atlet, baik melalui dukungan program maupun anggaran, sehingga mereka memiliki kesempatan lebih besar untuk berkembang,” tuturnya.
Selain menjadi cabang olahraga prestasi, pencak silat juga memiliki nilai historis dan budaya yang melekat sebagai identitas bangsa Indonesia.
Karena itu, penyelenggaraan berbagai kejuaraan dinilai memiliki peran ganda, yakni meningkatkan prestasi olahraga sekaligus menjaga eksistensi seni bela diri tradisional di tengah perkembangan olahraga modern.
Fahmi menilai pencak silat memiliki peluang besar untuk semakin dikenal dunia apabila didukung pembinaan atlet yang berkelanjutan serta penyelenggaraan kompetisi yang konsisten.
Menurutnya, semakin banyak kejuaraan berkualitas akan membuka kesempatan bagi atlet Indonesia untuk meningkatkan kemampuan sekaligus memperkuat posisi pencak silat di tingkat internasional.
Ia juga menyampaikan harapan agar upaya menjadikan pencak silat sebagai cabang olahraga yang dipertandingkan pada Olimpiade dapat terus diperjuangkan.
Optimisme tersebut, kata dia, sejalan dengan semangat pengembangan olahraga pencak silat yang saat ini terus dilakukan oleh berbagai pemangku kepentingan.
“Harapan kami tentu pencak silat bisa segera masuk Olimpiade. Dengan kepengurusan baru PB IPSI, kami optimistis cita-cita itu bisa terus diperjuangkan,” pungkasnya.**/Ugm












