46 Tahun Tradisi 17 Agustus di Kalimalang, Warga Cipinang Melayu Gelar Tiga Lomba
JAKARTA – Warga RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, kembali menggelar berbagai perlombaan tradisional untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026). Tradisi yang...

JAKARTA – Warga RW 04, Kelurahan Cipinang Melayu, Kecamatan Makasar, Jakarta Timur, kembali menggelar berbagai perlombaan tradisional untuk memeriahkan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia, Senin (17/8/2026).
Tradisi yang berlangsung di kawasan Kalimalang itu telah dipertahankan warga sejak 1980.
Tahun ini, warga menggelar tiga jenis perlombaan, yakni gebuk bantal, titian bambu, dan panjat pinang.
Rangkaian kegiatan tersebut tidak hanya menjadi hiburan dalam perayaan kemerdekaan, tetapi juga menjadi bagian dari tradisi gotong royong yang diwariskan lintas generasi.
Ketua LMK RW 04 Cipinang Melayu, Subagio, mengatakan penyelenggaraan lomba 17 Agustus di wilayah tersebut telah menjadi agenda tahunan warga selama lebih dari empat dekade.
“Untuk 17-an tahun ini kita menyelenggarakan seperti tahun-tahun yang lalu. Penyelenggaraannya sudah dari tahun 1980,” kata Subagio, Senin (17/8/2026).
Menurut Subagio, warga menyiapkan empat sarana perlombaan.
Dua sarana digunakan untuk panjat pinang, sedangkan masing-masing satu sarana dipakai untuk perlombaan titian bambu dan gebuk bantal.
Panjat pinang menjadi salah satu perlombaan yang paling menarik perhatian warga.
Tahun ini, hadiah utama yang disiapkan antara lain satu sepeda listrik dan dua sepeda gunung.
Subagio mengatakan hadiah tersebut merupakan dukungan dan sumbangan dari Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming Raka.
“Kalau tahun kemarin motor listrik, tahun ini kita dapat sepeda listrik dan dua sepeda gunung,” ujarnya.
Sepeda listrik tersebut akan diberikan kepada tim panjat pinang yang berhasil menjadi juara pertama dan mencapai puncak.
Untuk mempersiapkan seluruh rangkaian kegiatan, warga melakukan persiapan selama sekitar dua bulan.
“Persiapan kita selama dua bulan. Kita godok terus menjadikan perlombaan ini menjadi perlombaan yang benar-benar untuk menghibur masyarakat warga Cipinang Melayu,” kata Subagio.
Warga Bersihkan Kali Sebelum Perlombaan
Persiapan tidak hanya dilakukan dengan memasang sarana perlombaan. Warga juga bergotong royong membersihkan kali yang menjadi bagian dari lokasi kegiatan, terutama untuk mengantisipasi risiko keselamatan peserta.
Subagio mengatakan warga terlebih dahulu menyisir area kali untuk memastikan tidak terdapat benda berbahaya yang dapat melukai peserta. Benda seperti paku, pecahan kaca, hingga benda tajam lainnya menjadi perhatian karena sebagian perlombaan berlangsung di atas atau di sekitar aliran air.
“Sebelum kita mengadakan acara ini, kita sisir dulu. Yang kami khawatirkan di dalam air kan kita tidak tahu, ada paku, beling, atau alat-alat tajam yang bisa mencelakakan. Makanya kita sisir, sehingga kalau sudah merasa aman baru kita pasang tiangnya,” tuturnya.
Pemasangan sarana perlombaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat. Menurut Subagio, pemasangan tiang membutuhkan waktu sekitar dua hari, sedangkan keseluruhan persiapan di lokasi berlangsung selama satu hingga dua minggu.
Antusiasme warga juga terlihat dari jumlah peserta yang mengikuti setiap perlombaan. Panjat pinang tercatat diikuti sekitar 90 peserta, titian bambu sekitar 60 peserta, sedangkan gebuk bantal diikuti sekitar 20 peserta.
Dengan jumlah tersebut, ratusan warga terlibat langsung dalam rangkaian perlombaan maupun menyaksikan kegiatan dari sekitar lokasi.
Hingga sekitar pukul 13.20 WIB, perlombaan panjat pinang belum dimulai. Subagio mengatakan perlombaan dijadwalkan berlangsung sekitar pukul 14.00 WIB.
Menurut dia, panjat pinang biasanya menjadi tontonan utama masyarakat. Warga bahkan memenuhi sisi jalan di sekitar lokasi untuk menyaksikan peserta berusaha mencapai puncak dengan mengandalkan kerja sama tim.
Subagio berharap tradisi yang telah berlangsung sejak 1980 tersebut tidak berhenti pada generasi yang saat ini menjadi penyelenggara. Ia ingin kegiatan tersebut terus diwariskan kepada generasi berikutnya sebagai bagian dari budaya warga Cipinang Melayu.
“Ini adalah sebuah tradisi di warga kami yang turun-temurun. Kami sebagai generasi penerus yang kedua, mudah-mudahan nanti generasi penerus berikutnya bisa selalu membudayakan tradisi ini,” katanya.
Ia menilai perlombaan 17 Agustus juga memiliki nilai sosial karena mendorong warga untuk bekerja sama dan menjaga kekompakan. Panjat pinang, misalnya, membutuhkan strategi, koordinasi, sportivitas, serta kerja sama seluruh anggota tim untuk mencapai tujuan bersama.
“Seperti panjat pinang, itu adalah suatu contoh untuk kekompakan dan sportivitas supaya bisa meraih ke atas, meraih juara. Dengan kekompakan, insyaallah mereka akan menjadi juara,” ujar Subagio.
Subagio menyebut tradisi perlombaan di kawasan Kalimalang tersebut telah dikenal luas dan menjadi salah satu kegiatan yang melekat dengan warga Cipinang Melayu. Meski digelar di tingkat RW, ia berharap tradisi tersebut tetap dapat dipertahankan sebagai bagian dari kekayaan sosial dan budaya masyarakat Jakarta Timur.
Bagi warga setempat, perayaan kemerdekaan tidak sekadar ditandai dengan perlombaan dan pembagian hadiah. Kegiatan tersebut menjadi ruang bagi masyarakat untuk berkumpul, bergotong royong, menjaga lingkungan, sekaligus meneruskan tradisi yang telah bertahan selama 46 tahun.














