Minggu, 8 Nov 2026
Gensa Media Indonesia » Berita » Kenapa Permendikbud 30 Mendapatkan Banyak Penolakan

Kenapa Permendikbud 30 Mendapatkan Banyak Penolakan

  • account_circle Gensa Media Indonesia
  • calendar_month Rabu, 24 Nov 2021
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

 

Kenapa Permendikbud 30 Mendapatkan Banyak Penolakan

Gensa – Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual (PPKS) di Lingkungan Perguruan Tinggi (kampus) mendapatkan sorotan miring bahkan sinis dari sejumlah kalangan. Permendikbud tersebut dituding  seakan melegalkan zina sehingga menurut beberapa pihak harus ditolak.

Jika dicermati secara mendalam, substabsi Permendikbud tersebut isinya sangat baik, yaitu mencegah terjadinya kekerasan seksual di lingkungan perguruan tinggi (kampus). Namun, penolakan keras dilakukan beberapa pihak karena menilai ada beberapa pasal di dalam Permendikbud tersebut yang justru memberikan celah bagi terjadinya kekerasan seksual di perguruan tinggi.

Pasal yang menjadi sorotan antara lain adalah:

Pasal 1 (ayat 14) tentang Kewajiban Pembentukan Satuan Tugas. Pada pasal tersebut disebutkan: :”Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual yang selanjutnya disebut Satuan Tugas adalah bagian dari Perguruan Tinggi yang berfungsi sebagai pusat Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Perguruan Tinggi”.

Pasal 3 tentang Prinsip Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual

Pasal tersebut menyebutkan “Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual dilaksanakan dengan prinsip: kepentingan terbaik bagi korban, keadilan dan kesetaraan gender, kesetaraan hak dan aksesibilitas bagi penyandang disabilitas, akuntabilitas, independen, kehati-hatian, konsisten, jaminan ketidakberulangan.

Pasal 5: Ayat (1) Kekerasan Seksual mencakup tindakan yang dilakukan secara verbal, non fisik, fisik, dan/atau melalui teknologi informasi dan komunikasi.

Ayat (2) Kekerasan Seksual sebagaimana dimaksud pada ayat (1) meliputi:

a. menyampaikan ujaran yang, mendiskriminasi atau melecehkan tampilan fisik, kondisi tubuh, dan/atau identitas gender korban,

b. memperlihatkan alat kelaminnya dengan sengaja tanpa persetujuan korban,

c. menyampaikan ucapan yang memuat rayuan, lelucon, dan/atau siulan yang bernuansa seksual pada korban,

d. menatap korban dengan nuansa seksual dan/atau tidak nyaman,

e. mengirimkan pesan, lelucon, gambar, foto, audio, dan/atau video bernuansa seksual kepada korban meskipun sudah dilarang korban,

f. mengambil, merekam, dan/atau mengedarkan foto dan/atau rekaman audio dan/atau visual korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban,

g. mengunggah foto tubuh dan/atau informasi pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban,

Baca juga :  Rahasia Membuat IKLAN Dapat Sales Lebih Optimal

h. menyebarkan informasi terkait tubuh dan/atau pribadi korban yang bernuansa seksual tanpa persetujuan korban,

i. mengintip atau dengan sengaja melihat korban yang sedang melakukan kegiatan secara pribadi dan/atau pada ruang yang bersifat pribadi;

j. membujuk, menjanjikan, menawarkan sesuatu, atau mengancam korban untuk melakukan transaksi atau kegiatan seksual yang tidak disetujui oleh korban,

k. memberi hukuman atau sanksi yang bernuansa seksual,

l. menyentuh, mengusap, meraba, memegang, memeluk, mencium dan/atau menggosokkan bagian tubuhnya pada tubuh korban tanpa persetujuan korban,

m. membuka pakaian korban tanpa persetujuan korban

n. mempraktikkan budaya komunitas Mahasiswa, Pendidik, dan Tenaga Kependidikan yang bernuansa Kekerasan Seksual

o. melakukan percobaan perkosaan, namun penetrasi tidak terjadi

p. melakukan perkosaan termasuk penetrasi dengan benda atau bagian tubuh selain alat kelamin

q. memaksa atau memperdayai korban untuk melakukan aborsi

r. memaksa atau memperdayai Korban untuk hamil;

s. membiarkan terjadinya Kekerasan Seksual dengan sengaja; dan/atau

t. melakukan perbuatan Kekerasan Seksual lainnya.

(3) Persetujuan Korban sebagaimana dimaksud pada ayat (2) huruf b, huruf f, huruf g, huruf h, huruf l, dan huruf m, dianggap tidak sah dalam hal Korban:

a. memiliki usia belum dewasa sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan

b. mengalami situasi dimana pelaku mengancam, memaksa, dan/atau menyalahgunakan kedudukannya

c. mengalami kondisi di bawah pengaruh obat-obatan, alkohol, dan/atau narkoba;

d. mengalami sakit, tidak sadar, atau tertidur

e. memiliki kondisi fisik dan/atau psikologis yang rentan

f. mengalami kelumpuhan sementara (tonic immobility), dan/atau

g. mengalami kondisi terguncang.

Kontroversi Permendikbud No 30 Tahun 2021 yang dianggap melegalkan zina langsung dibantah oleh Plt Dirjen Pendidikan Tinggi dan Ristek Nizam. Menurutnya, peraturan tersebut dibuat untuk memastikan terjaganya hak warga negara atas pendidikan. Pasalnya, timbul keresahan mahasiswa hingga dosen soal kekerasan seksual di perguruan tinggi.

Sebelum melanjutkan pembahasan diatas, kami ingin memperkenalkan produk Aksesoris Fashion yang bisa kamu temukan disini. 

Baca juga :  Panglima TNI Dampingi Menko Polkam Jaga Kondusivitas Bangsa

Isi Permendikbud Nomor 30 Tahun 2021 ini dapat mengarahkan pimpinan perguruan tinggi untuk memberikan pemulihan atas hak-hak sivitas akademika yang menjadi korban kekerasan seksual. Tujuannya adalah supaya korban dapat kembali berkarya dan berkontribusi di kampusnya dengan lebih aman dan optimal.

Alasan Muhammadiyah Menolak

Sekretaris Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Sayuti menegaskan, Muhammadiyah hal paling krusial bagi Muhammadiyah dalam menerima Permendikbud 30 adalah kalimat di dalam Pasal 5 ayat (2) yang memuat frasa tanpa persetujuan korban. Menurut Muhammadiyah, frasa itu mengandung makna bahwa kegiatan seksual dapat dibenarkan apabila ada persetujuan korban (consent).

Atau dengan kata lain, Permendikbud 30 mengandung unsur legalisasi terhadap perbuatan asusila dan seks bebas berbasis persetujuan.

Alasan itulah yang mendorong Diktilitbang PP Muhammadiyah menolak pengesahan Permendikbud 30 dan meminta pemerintah untuk segera mencabut dan memperbaikinya.

“Konteks relasi seksual yang tidak Islami (di luar pernikahan) apapun bentuknya itu tidak kemudian begitu ada persetujuan korban menjadi benar. Tetap gak benar. Itu faktor materiil terpenting kenapa kami dengan diskusi yang intensif menolak Permen ini,” kata Sayuti.

Menurutnya, frasa tanpa persetujuan korban mendegradasi Permen (Peraturan Menteri) bahwa menjadi bisa dibenarkan jika ada persetujuan korban.

“Itu yang menjadi penting untuk kami catat,” ucapnya dilansir dari Muhammadiyah, Rabu, 10 November 2021.

Alasan PKS

Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PKS Fahmy Alaydroes mendukung upaya pemerintah mencegah kekerasan seksual di lingkungan kampus, namun Permendikbu Ristek tersebut harus diperbaiki.

“Saya bukan menolak, tetapi menganggap peraturan menteri ini kurang lengkap, sehingga dapat berimplikasi terhadap tafsiran kalau ada persetujuan (seakan-akan tidak apa-apa). Semua yang dilarang itu boleh dilakukan,” kata Fahmy, dilansir dari tayangan Metro TV, Rabu, 10 November 2021.

Menurut Fahmy peraturan ini harus dilengkapi agar sejalan dengan UUD 1945 ayat 3 yang jelas tertulis, menyelenggarakan suatu sistem pendidikan nasional yang meningkatkan keimanan dan ketakwaan serta ahklak mulia dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.

Baca juga :  Danlanal Bandung Ikuti Upacara Hari Kesaktian Pancasila

Fahmy mengatakan Permendiknbud untuk mencegah dan menangani kekerasan seksual menurutnya sangat baik, tetapi harus dilengkapi dengan pasal- pasal yang memberikan penafsiran utuh, bahwa perbuatan yang melanggar susila meskipun dilakukan dengan persetujuan, tetapi melanggar Pancasila, etika, dan agama seharusnya dimuat dalam peraturan ini.

Fahmy mengungkapkan, sebenarnya Permendikristek No. 20/2021, sejalan dengan RUU Tindak Pidana Kekerasan Seksual (TPKS) yang masih dalam tahap pembahasan, dan masih sangat kontroversial.

“Kenapa RUU TPKS masih dalam perdebatan sedangkan Permendikristek No. 20/2021 mengalir begitu saja, bahkan kami di DPR RI komisi X tidak tahu,” katanya.

Alasan MUI Menolak Permendikbud 30

Hasil ijtima ulama Majelis Ulama Indonesia (MUI) pusat memutuskan menolak Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi RI Nomor 30 tahun 2021 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi.

Hal itu disampaikan Ketua MUI Pusat KH Cholil Nafis sebagaimana dituliskan dalam akun twitternya @cholilnafis Jumat 12 Nopember 2021.

Menurut Nafis, MUI meminta Permendikbud tersebut dibatalkan atau direvisi, khususnya pasal 5 ayat 2 dan 3.

“Ini suara kami, umat muslim, dan tanggungjawab kami kpd bangsa dan negara serta kpd Allah SWT,” tulis Nafis.

Kesimpulan Menurut Saya:

Dari uraian diatas dapat saya simpulkan bahwa poin yang banyak mendapatkan penolakan adalah poin “Pasal 5 ayat (2) yang memuat frasa tanpa persetujuan korban. “ sebagai legalisasi tindakan seks bebas, tapi disini saya mempunyai pemahaman yang berbeda, seperti yang diketahu bahwa permen ini tujuannya adalah memberi naungan hokum yang jelas kepada korban kekerasan seksual dalam lingkup perguruan tinggi yang selama ini banyak terjadi dan berlalu begitu saja. Jika yang dipermasalahkan adalah legalisasi seks bebas bukankah sek bebas sendiri tidak dibenarkan oleh norma-norma yang berlaku di Negara Indonesia.

mirisnya banyak warga yang sudah emosi saat baru melihat headline media berita yang clickbait tanpa membaca dan mengetahui isi permendikbud ini, dan tanpa memahami isi konteks permen ini.

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Redaktur Gensa Media Indonesia bertanggung jawab mengelola, menyunting, dan memastikan setiap berita memenuhi standar jurnalistik, akurasi, keberimbangan, independensi, serta Kode Etik Jurnalistik sebelum dipublikasikan kepada masyarakat.

Interesting

  • TNI AU Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan

    TNI AU Perkuat Penanganan Karhutla di Kalimantan Selatan

    • calendar_month Senin, 24 Agt 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Banjarbaru – TNI Angkatan Udara memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan melalui operasi udara dan sinergi lintas sektor. Langkah tersebut terlihat saat Panglima Komando Daerah TNI Angkatan Udara II (Pangkodau II) Marsda TNI M. Untung Suropati meninjau operasi karhutla, Sabtu (22/8/2026). Dalam peninjauan itu, Komandan Lanud Sjamsudin Noor Kolonel Pnb Hilman […]

  • Polri Berjuang Menyusuri Jejak Gembong Narkoba Fredy Pratama dengan Teknologi Crypto

    Polri Berjuang Menyusuri Jejak Gembong Narkoba Fredy Pratama dengan Teknologi Crypto

    • calendar_month Kamis, 1 Feb 2024
    • account_circle Gensa Media Indonesia
    • 0Komentar

    Dikutip dari detiknews, Polri tak kenal lelah dalam perburuan gembong narkobainternasional, Fredy Pratama, yang sudah menjadi incaran mereka selama hampirsatu dekade. Kabar terbaru mengungkapkan bahwa Fredy masih berkeliaran diThailand, Negeri Gajah Putih. Dalam upaya menangkapnya, Direktur Tindak Pidana NarkotikaBareskrim Polri, Brigjen Mukti Juharsa, berbagi harapannya untuk bisa menangkapFredy dalam tahun ini.  Meski Fredy sering berada di […]

  • Panglima TNI Pimpin Sertijab Strategis, Rotasi Perkuat Kinerja Organisasi

    Panglima TNI Pimpin Sertijab Strategis, Rotasi Perkuat Kinerja Organisasi

    • calendar_month Jumat, 22 Mei 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta, 22 Mei 2026 – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto memimpin serah terima jabatan strategis TNI. Rotasi ini memperkuat efektivitas organisasi menghadapi dinamika tugas. Upacara berlangsung di Aula Gatot Subroto, Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Kamis, 21 Mei 2026. Sejumlah pejabat tinggi TNI menghadiri kegiatan tersebut. Panglima TNI memimpin langsung prosesi sertijab. Ia menegaskan […]

  • Babinsa Ciledug Intensif Pantau Harga Sembako, Antisipasi Lonjakan dan Jaga Pasokan

    Babinsa Ciledug Intensif Pantau Harga Sembako, Antisipasi Lonjakan dan Jaga Pasokan

    • calendar_month Selasa, 12 Mei 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Tangerang, 11 Mei 2026 – Babinsa Koramil 04/Ciledug, Kodim 0506/Tangerang mengintensifkan pemantauan harga sembako di pasar tradisional untuk menjaga stabilitas ekonomi masyarakat. Personel Babinsa turun langsung ke pasar sejak pagi. Mereka mengecek harga dan ketersediaan bahan pokok di wilayah teritorial Koramil 04/Ciledug. Kegiatan ini menyasar komoditas utama seperti beras, gula, minyak goreng, telur, daging, sayuran, […]

  • Koramil Mapurujaya Berbagi Takjil Hangatkan Ramadan

    Koramil Mapurujaya Berbagi Takjil Hangatkan Ramadan

    • calendar_month Minggu, 15 Mar 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Timika – Suasana Ramadan di Mapurujaya terasa hangat ketika prajurit Koramil 1710-07/Mapurujaya turun langsung membagikan takjil kepada warga, Minggu (15/3/2026). Kapten Inf Ahmad Saleh memimpin kegiatan sosial tersebut bersama para prajurit Koramil serta anggota Persit yang turut membantu pembagian takjil. Menjelang waktu berbuka puasa, para prajurit segera menyiapkan paket takjil lalu membagikannya kepada pengendara dan […]

  • Langkah Baru Tiga Prajurit Satlinlamil 3: Naik Pangkat, Tambah Tanggung Jawab

    Langkah Baru Tiga Prajurit Satlinlamil 3: Naik Pangkat, Tambah Tanggung Jawab

    • calendar_month Selasa, 8 Apr 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Makassar – Tiga prajurit Satuan Lintas Laut Militer (Satlinlamil) 3 Makassar memulai babak baru dalam perjalanan karier militernya setelah resmi naik pangkat dalam upacara laporan kenaikan pangkat yang berlangsung di Lapangan Apel Mako Satlinlamil 3, Jalan Teuku Umar, Makassar, Selasa (8/4/2025). Upacara tersebut dipimpin langsung oleh Komandan Satlinlamil 3, Kolonel Laut (P) Nur Rochmad Ibrohim, […]

expand_less