Force on Force SGS MARFOR Lampung Uji Kesiapan dan Interoperabilitas Prajurit
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 0 menit yang lalu
- print Cetak

Lampung – Prajurit gabungan berbagai negara menguji kesiapan tempur dan interoperabilitas melalui latihan Force on Force dalam Latgabma Super Garuda Shield (SGS) 2026.
Latihan tersebut berlangsung di lingkungan Brigif 4 Mar/BS, Lampung, Rabu (9/9/2026).
Skenario latihan mensimulasikan dinamika tempur modern secara realistis dengan mempertemukan dua pihak dalam situasi operasi taktis.
Kedua pihak menjalankan misi untuk merebut sekaligus mempertahankan posisi strategis sesuai skenario yang telah ditentukan.
Latihan menuntut kewaspadaan tinggi karena setiap unsur harus merespons perkembangan situasi secara cepat dan tepat.
Selain kemampuan taktis, komunikasi terpadu menjadi faktor penting untuk menjaga koordinasi antarpasukan selama simulasi berlangsung.
Uji Taktik dalam Skenario Tempur
Dalam latihan tersebut, pasukan terbagi menjadi dua pihak yang saling berhadapan di medan operasi.
Masing-masing pihak menjalankan taktik untuk mencapai tujuan operasi sekaligus menghadapi pergerakan lawan dalam skenario latihan.
Kondisi itu mengharuskan setiap prajurit mempertahankan kewaspadaan penuh terhadap perubahan situasi di lapangan.
Pada saat yang sama, unsur komando harus memastikan informasi bergerak cepat agar setiap keputusan tetap sesuai dengan perkembangan operasi.
Karena itu, kemampuan berkomunikasi dan mengambil keputusan menjadi bagian penting dalam menguji efektivitas taktik masing-masing pihak.
Latihan FoF juga memberikan ruang bagi prajurit negara peserta untuk menyelaraskan prosedur serta pola kerja dalam satu skenario operasi.
Interaksi tersebut menjadi bagian dari upaya meningkatkan kemampuan pasukan dalam menghadapi dinamika operasi bersama.
Perkuat Interoperabilitas TNI dan Negara Sahabat
Pelaksanaan FoF menjadi salah satu sarana untuk menguji kesiapan personel sekaligus memperkuat interoperabilitas antarmiliter negara peserta SGS 2026.
Melalui latihan bersama, setiap unsur dapat menguji kemampuan sinkronisasi dalam menghadapi situasi taktis yang berkembang secara dinamis.
Selain itu, latihan mendorong peningkatan profesionalisme personel melalui penerapan prosedur dan koordinasi dalam lingkungan operasi multinasional.
Kemampuan tersebut menjadi semakin penting ketika pasukan dari berbagai negara harus bekerja dalam satu kerangka latihan.
Karena itu, keberhasilan latihan diharapkan memperkuat kesiapan tempur dan kemampuan bekerja secara terpadu.
Latihan juga menjadi ruang untuk mempererat kerja sama pertahanan antara TNI dan militer negara-negara sahabat.
Puspen TNI menyebut kegiatan tersebut sebagai bagian dari komitmen bersama untuk memperkuat stabilitas kawasan.
Kerja sama pertahanan melalui latihan multinasional juga diarahkan untuk mendukung keamanan dan perdamaian di kawasan Indo-Pasifik.
Dengan demikian, Force on Force tidak hanya menguji kemampuan taktis personel, tetapi juga mengukur efektivitas koordinasi dalam operasi bersama.
Kewaspadaan, komunikasi, kecepatan mengambil keputusan, dan sinkronisasi menjadi unsur penting dalam mencapai tujuan latihan.
Melalui latihan tersebut, TNI dan negara peserta SGS 2026 terus membangun kesiapan menghadapi tantangan keamanan melalui kerja sama pertahanan.
Pada akhirnya, peningkatan interoperabilitas diharapkan memperkuat kemampuan pasukan dalam melaksanakan operasi bersama secara profesional dan terkoordinasi.
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

