Negosiasi Nuklir Masih Alot, Iran Ancam Serang Pangkalan Militer AS
Iran juga memperingatkan bahwa pihaknya akan menyerang pangkalan AS di kawasan Timur Tengah jika lebih dulu menjadi sasaran serangan.

Nasional – Perundingan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) untuk membatasi program nuklir Teheran kembali menemui jalan terjal.
Kedua negara dilaporkan masih berbeda pandangan terkait mekanisme dan jadwal pencabutan sanksi, isu krusial yang menjadi titik sengketa utama dalam upaya meredakan ketegangan panjang di antara keduanya.
Mengutip laporan Reuters, Minggu (22/2/2026), jalur negosiasi kembali dibuka pada awal bulan ini.
Langkah tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah, setelah AS memperkuat kehadiran militernya.
Situasi itu memicu kekhawatiran akan potensi eskalasi konflik yang lebih luas.
Seorang pejabat senior Iran, yang dikutip Reuters, menyatakan bahwa putaran pembicaraan terakhir menunjukkan adanya perbedaan mendasar mengenai cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi.
Menurutnya, gagasan Washington tidak sejalan dengan tuntutan Teheran.
“Putaran pembicaraan terakhir menunjukkan bahwa gagasan AS mengenai cakupan dan mekanisme pencabutan sanksi berbeda dari tuntutan Iran. Kedua belah pihak perlu mencapai jadwal yang logis untuk mencabut sanksi,” ujar pejabat tersebut.
Ia menambahkan bahwa peta jalan pencabutan sanksi harus disusun secara rasional dan berlandaskan kepentingan bersama.
Bagi Iran, pencabutan sanksi bukan sekadar langkah simbolik, melainkan bagian integral dari setiap kesepakatan yang akan dicapai.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump mengaku tengah mempertimbangkan opsi serangan militer terbatas.
Pernyataan tersebut muncul di tengah proses diplomasi yang masih berlangsung dan dinilai sejumlah pengamat dapat memperumit suasana negosiasi.
Iran sebelumnya juga memperingatkan bahwa pihaknya akan menyerang pangkalan AS di kawasan Timur Tengah jika lebih dulu menjadi sasaran serangan.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa dinamika perundingan berlangsung di bawah bayang-bayang potensi konfrontasi militer.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi menyampaikan bahwa draf usulan balasan dari Teheran diperkirakan siap dalam beberapa hari.
Draf itu diyakini akan memuat rincian teknis terkait langkah pembatasan aktivitas nuklir serta mekanisme timbal balik dalam pencabutan sanksi.
Sinyal Kompromi dan Tawaran Ekonomi
Meski menolak tuntutan AS terkait “pengayaan nol” uranium, Iran memberi sinyal kesiapan untuk berkompromi dalam batas tertentu.
Washington menilai pengayaan uranium di dalam negeri Iran berpotensi membuka jalan menuju pengembangan senjata nuklir.
Tuduhan tersebut secara konsisten dibantah Teheran, yang menegaskan program nuklirnya bertujuan damai.
AS juga mendesak Iran untuk melepaskan cadangan uranium yang sangat diperkaya atau Highly Enriched Uranium (HEU).
Lembaga pengawas nuklir di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa memperkirakan Iran memiliki lebih dari 440 kilogram uranium dengan tingkat kemurnian 60 persen.
Angka tersebut mendekati ambang 90 persen yang secara teknis dikategorikan sebagai tingkat kemurnian untuk senjata.
Seorang pejabat Iran menyatakan bahwa Teheran dapat mempertimbangkan beberapa opsi sebagai bagian dari kompromi, antara lain mengekspor sebagian HEU, menurunkan tingkat kemurnian uranium melalui pengenceran, serta membentuk konsorsium pengayaan regional.
Namun, langkah-langkah itu hanya dapat dilakukan apabila hak Iran atas pengayaan nuklir untuk tujuan damai diakui secara resmi.
“Negosiasi terus berlanjut dan kemungkinan untuk mencapai kesepakatan sementara ada,” ujarnya.
Selain isu teknis nuklir, Iran juga mengaitkan pembicaraan dengan peluang kerja sama ekonomi.
Dalam paket yang sedang dibahas, Teheran disebut membuka peluang bagi AS untuk berinvestasi di sektor minyak Iran.
Tawaran tersebut dipandang sebagai insentif ekonomi guna mendorong tercapainya solusi diplomatik.
Pejabat Iran menegaskan bahwa dalam paket ekonomi yang dinegosiasikan, perusahaan-perusahaan AS dapat memperoleh peluang investasi signifikan dan kepentingan ekonomi nyata di industri energi Iran.
Namun, ia menekankan bahwa Iran tidak akan menyerahkan kendali atas sumber daya alamnya.
“Pada akhirnya, AS dapat menjadi mitra ekonomi bagi Iran, tidak lebih. Perusahaan-perusahaan Amerika selalu dapat berpartisipasi sebagai kontraktor di ladang minyak dan gas Iran,” katanya.
Perundingan ini berlangsung dalam konteks sejarah panjang ketegangan antara kedua negara, terutama sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir sebelumnya dan kembali memberlakukan sanksi ekonomi terhadap Iran.
Sanksi tersebut berdampak besar terhadap perekonomian Iran, mulai dari sektor energi hingga sistem keuangan.
Kini, dengan ancaman militer yang kembali mencuat dan perbedaan tajam mengenai pencabutan sanksi, masa depan negosiasi masih belum pasti.
Meski kedua pihak mengindikasikan adanya ruang kompromi, kesepakatan hanya dapat tercapai jika kepentingan keamanan dan ekonomi masing-masing pihak menemukan titik temu yang realistis dan terukur.
Diplomasi yang berjalan saat ini menjadi ujian apakah jalur perundingan masih mampu meredam potensi konflik terbuka, atau justru kembali terhenti di tengah tarik-menarik kepentingan strategis kedua negara.**/red













