Rabu, 4 Nov 2026
Gensa Media Indonesia » Hukum » Mayoritas Publik Khawatir Revisi UU TNI Menghambat Reformasi

Mayoritas Publik Khawatir Revisi UU TNI Menghambat Reformasi

  • account_circle Tama
  • calendar_month Rabu, 26 Mar 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Survey – Hasil jajak pendapat Litbang Kompas menunjukkan mayoritas masyarakat Indonesia khawatir revisi Undang-Undang Tentara Nasional Indonesia (UU TNI) yang sedang dibahas di DPR dan pemerintah dapat menghambat proses reformasi yang telah dimulai sejak 1998.

Sebanyak 69,5 persen atau tujuh dari sepuluh responden menyatakan kekhawatiran terhadap perluasan jabatan TNI ke ranah sipil.

Sebelum era reformasi, militer yang saat itu dikenal sebagai Angkatan Bersenjata Republik Indonesia (ABRI) memiliki dwifungsi, yakni sebagai kekuatan pertahanan negara sekaligus aktor sosial politik yang aktif dalam pemerintahan.

Reformasi 1998 bertujuan mengembalikan fungsi utama militer sebagai alat pertahanan negara serta membatasi keterlibatannya dalam urusan sipil.

“Dengan konteks tersebut, menjadi tidak mengherankan bahwa publik ingin negara terus berpegang pada semangat reformasi dan demokrasi rakyat. Hasil jajak pendapat menunjukkan 69,5 persen responden khawatir perluasan jabatan TNI ke ranah sipil akan memundurkan proses reformasi yang telah dimulai sejak 1998,” tulis Tim Litbang Kompas dalam laporannya.

Sebanyak 58,8 persen responden berpendapat bahwa jika seorang anggota TNI masuk ke lembaga sipil, maka mereka harus mundur dari posisinya di TNI.

Kekhawatiran ini semakin mencuat seiring dengan aksi massa yang menolak revisi UU TNI, yang mencerminkan resistensi publik terhadap keterlibatan militer dalam pemerintahan sipil.

Dalam survei yang dilakukan Litbang Kompas pada 17-20 Maret 2025, ditemukan bahwa 68,6 persen responden khawatir akan potensi tumpang tindih kewenangan jika TNI masuk ke lembaga sipil.

Responden dengan pendidikan tinggi menunjukkan tingkat kekhawatiran yang lebih besar, mencapai 81,5 persen. Sementara itu, di kalangan responden dengan pendidikan dasar, angka kekhawatiran berada di 64,5 persen.

Tingginya kekhawatiran di kalangan masyarakat berpendidikan tinggi dinilai wajar.

Baca juga :  Prosedur dan Dasar Hukum Poligami di Indonesia

Kelompok ini umumnya memiliki akses informasi lebih luas serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai implikasi pengesahan undang-undang.

Secara historis, kekhawatiran ini juga berkaitan dengan pengalaman di masa Orde Baru, ketika pendekatan militer diterapkan secara luas dalam pemerintahan sipil.

Risiko Perwira Militer di Lembaga Sipil

Salah satu risiko yang menjadi sorotan adalah kemungkinan bias dalam perumusan kebijakan jika perwira militer menempati posisi strategis dalam pemerintahan sipil.

Hal ini berisiko membuat kebijakan yang seharusnya berbasis demokrasi dan profesionalisme malah diterapkan dengan pendekatan militeristik yang berorientasi pada hierarki komando.

Selain itu, jajak pendapat juga menyoroti minimnya transparansi dalam pembahasan revisi UU TNI.

Data menunjukkan bahwa hanya 34,5 persen responden yang mengetahui adanya pembahasan revisi UU TNI di DPR. Sebaliknya, hampir 70 persen responden mengaku tidak mengetahui proses tersebut.

Jika ditinjau berdasarkan tingkat pendidikan, kesenjangan pengetahuan ini semakin jelas.

Di kalangan responden berpendidikan rendah, hanya 19,8 persen yang mengetahui revisi UU TNI.

Di kelompok berpendidikan menengah, angkanya meningkat menjadi 35,2 persen.

Sedangkan di kalangan berpendidikan tinggi, tingkat pengetahuannya mencapai 70,4 persen.

Hasil survei ini menunjukkan bahwa isu revisi UU TNI masih kurang tersosialisasikan secara luas.

Mayoritas masyarakat bahkan tidak melihat adanya urgensi dalam pengesahan revisi ini.

Sebanyak 57,8 persen responden menilai revisi UU TNI tidak mendesak, sementara hanya 34,9 persen yang menganggap revisi ini perlu segera dilakukan.

Publik juga memiliki pandangan beragam mengenai dampak masuknya TNI ke ranah sipil terhadap demokrasi.

Sebanyak 46,8 persen responden menilai keterlibatan TNI dalam institusi sipil akan mengganggu demokrasi, sedangkan 49,7 persen menganggap demokrasi tidak akan terganggu.

Namun, jika dilihat dari kelompok responden berpendidikan tinggi yang lebih memahami prinsip demokrasi, resistensi terhadap revisi UU TNI lebih besar.

Baca juga :  Gus Leman Tantang Komnas HAM Lakukan Sumpah Pocong

Sebanyak 72,8 persen dari kelompok ini berpendapat bahwa masuknya TNI ke lembaga sipil akan berdampak negatif terhadap demokrasi.

Hal ini terkait dengan prinsip supremasi sipil yang menjadi pilar utama demokrasi, yang merupakan bagian dari semangat reformasi 1998 untuk memastikan pemisahan yang jelas antara ranah sipil dan militer dalam tata kelola pemerintahan.

Metodologi Jajak Pendapat

Jajak pendapat yang dilakukan oleh Litbang Kompas ini melibatkan 535 responden dari 38 provinsi di Indonesia.

Sampel ditentukan secara acak dari responden panel Litbang Kompas, sesuai dengan proporsi jumlah penduduk dari setiap provinsi.

Dengan tingkat kepercayaan 95 persen, survei ini memiliki margin of error sekitar ± 4,25 persen dalam kondisi penarikan sampel acak sederhana.

Namun, seperti halnya survei lainnya, potensi kesalahan di luar pengambilan sampel tetap ada.

Survei ini sepenuhnya dibiayai oleh Harian Kompas (PT Kompas Media Nusantara).

Hasil survei ini menjadi cerminan bagaimana publik menilai kebijakan terkait revisi UU TNI.

Dengan tingkat kekhawatiran yang tinggi, transparansi dan pelibatan masyarakat dalam proses legislasi menjadi hal yang sangat penting guna menjaga semangat reformasi dan demokrasi di Indonesia.**/

sumber: Kompas

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

Interesting

  • Satgas Yonif 112/DJ Pos Kampung 55 Pruleme Berbagi Kebahagiaan dengan Warga Puncak Jaya

    Satgas Yonif 112/DJ Pos Kampung 55 Pruleme Berbagi Kebahagiaan dengan Warga Puncak Jaya

    • calendar_month Kamis, 13 Mar 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Satgas Yonif 112/DJ di Papua Tengah berbagi kepedulian dengan warga, mempererat hubungan serta membantu meringankan kebutuhan masyarakat.

  • Panglima TNI Hadiri Upacara Nasional Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

    Panglima TNI Hadiri Upacara Nasional Hari Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

    • calendar_month Rabu, 1 Okt 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta – Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto menghadiri upacara peringatan Hari Kesaktian Pancasila Tahun 2025 yang digelar di Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya, Jakarta Timur, Rabu (1/10/2025). Upacara berlangsung khidmat dengan Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto bertindak sebagai Inspektur Upacara. Peringatan yang digelar setiap 1 Oktober ini menjadi momen penting bagi bangsa Indonesia untuk […]

  • Danlanal Bengkulu Sambut Kepala BI, Perkuat Sinergi untuk Masyarakat Maritim

    Danlanal Bengkulu Sambut Kepala BI, Perkuat Sinergi untuk Masyarakat Maritim

    • calendar_month Selasa, 23 Sep 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Bengkulu – Suasana akrab terlihat di Mako Lanal Bengkulu, Senin (22/9/2025). Komandan Pangkalan TNI AL Bengkulu, Letkol Laut (P) Nurwahidin, S.H., M.Tr. Opsla., bersama jajaran menyambut hangat kedatangan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Bengkulu, Wahyu Yuwana Hidayat, beserta rombongan. Kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi, tapi juga upaya memperkuat sinergi antara TNI AL dan Bank Indonesia […]

  • Tutup Persami, Kodim 1710/Mimika Komitmen Cetak Generasi Muda Berkarakter dan Tangguh

    Tutup Persami, Kodim 1710/Mimika Komitmen Cetak Generasi Muda Berkarakter dan Tangguh

    • calendar_month Senin, 30 Jun 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Timika – Derai semangat dan optimisme terpancar dari wajah para peserta saat Perkemahan Sabtu-Minggu (Persami) Pramuka Saka Wira Kartika Kodim 1710/Mimika resmi ditutup, Minggu (29/6/2025). Kegiatan yang berlangsung di halaman Makodim 1710/Mimika ini menjadi ajang pembinaan generasi muda yang sarat nilai-nilai disiplin, kepemimpinan, dan cinta tanah air. Penutupan dilakukan oleh Kasdim 1710/Mimika, Mayor Inf Abdul […]

  • Patroli Gabungan Babinsa Jatinegara Perkuat Kamtibmas di Titik Rawan Ibu Kota

    Patroli Gabungan Babinsa Jatinegara Perkuat Kamtibmas di Titik Rawan Ibu Kota

    • calendar_month Rabu, 6 Mei 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Timur, 5 Mei 2026 – Aparat kewilayahan bersama masyarakat menggelar patroli gabungan untuk memperkuat keamanan dan ketertiban masyarakat di wilayah Jatinegara. Babinsa Koramil 01/Jatinegara memimpin patroli bersama unsur Komponen Pendukung dengan pusat kegiatan di Pos Kamling RW 10, Jalan Pedati Raya, Bidara Cina. Kegiatan berlangsung Selasa malam, 5 Mei 2026, sebagai langkah konkret menjaga […]

  • Satlap Tri Cakti Gagalkan Penyelundupan 1,8 Ton Timah Ilegal

    Satlap Tri Cakti Gagalkan Penyelundupan 1,8 Ton Timah Ilegal

    • calendar_month Kamis, 25 Jun 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Bangka Tengah, 24 Juni 2026 – Satuan Lapangan (Satlap) Tri Cakti bersama Satgas Gabungan menggagalkan upaya penyelundupan 1,8 ton bijih timah ilegal di Pantai Pangkul, Desa Kayu Besi, Kecamatan Namang, Kabupaten Bangka Tengah, Rabu (24/6/2026) dini hari. Operasi tersebut menyelamatkan potensi penerimaan negara senilai sekitar Rp1,8 miliar dari aktivitas ilegal yang mengancam tata kelola sumber […]

expand_less