Bekasi Dibakar Pasukan Inggris, Ratusan Rumah Jadi Korban

BEKASI – Bekasi pernah menjadi medan kekerasan dalam fase awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia. Pada 13 Desember 1945, pasukan Inggris-India melancarkan operasi pembalasan yang berujung pada pemboman dan pembakaran sebagian besar...

Bekasi Dibakar Pasukan Inggris, Ratusan Rumah Jadi Korban – Foto Istimewa
-AA+

BEKASI – Bekasi pernah menjadi medan kekerasan dalam fase awal Revolusi Kemerdekaan Indonesia.

Pada 13 Desember 1945, pasukan Inggris-India melancarkan operasi pembalasan yang berujung pada pemboman dan pembakaran sebagian besar kawasan Bekasi setelah sebelumnya terjadi bentrokan dengan kelompok bersenjata Indonesia serta kematian penumpang dan awak pesawat Dakota yang jatuh di sekitar Bekasi.

Peristiwa tersebut kemudian dikenal sebagai Bekasi Lautan Api.

Pembakaran itu bukan peristiwa yang berdiri sendiri.

Rangkaian kekerasan berlangsung sejak akhir November 1945, ketika sebuah pesawat angkut Dakota yang membawa personel militer Inggris mengalami kecelakaan di sekitar Bekasi pada 23 November.

Advertisement

Para penumpang dan awak pesawat dilaporkan sempat selamat dari kecelakaan sebelum situasi berubah menjadi konflik dengan warga dan kelompok bersenjata setempat.

Pesawat tersebut membawa personel dari Batalion 2, Resimen Hyderabad ke-19.

Ketika pasukan Inggris tiba di lokasi kecelakaan sehari kemudian, mereka menemukan pesawat dalam kondisi terbakar dan satu jenazah penumpang India yang mengalami mutilasi.

Komandan pasukan Inggris di Jakarta, Letnan Jenderal Philip Christison, kemudian mengeluarkan ultimatum agar para penumpang dan awak yang selamat dikembalikan ke Jakarta dalam waktu 24 jam.

Namun, berdasarkan catatan Jenderal Abdul Haris Nasution yang dikutip dalam sejumlah kajian sejarah, para penyintas pesawat tersebut telah ditangkap setelah terjadi kerumunan warga di lokasi jatuhnya pesawat.

Mereka kemudian diserahkan kepada kelompok bersenjata lokal dan diteruskan kepada unsur Tentara Keamanan Rakyat (TKR).

Nasution menyebut para penyintas kemudian dibunuh dalam perjalanan. Wikipedia, dengan merujuk pada sumber-sumber sejarah, mengaitkan pembunuhan tersebut dengan anggota Barisan Banteng Hitam pada 26 atau 27 November 1945.

Pilihan Editor :  67 Warga Daftar Donor Darah di RSUD Jatisampurna, 34 Lolos Skrining

Namun, penting dicatat bahwa atribusi tanggung jawab dan kronologi detail peristiwa tersebut berasal dari sumber sejarah yang berbeda sehingga tidak seluruh versinya sepenuhnya seragam.

Ketegangan meningkat ketika pasukan Inggris kembali bergerak menuju Bekasi pada 29 November 1945.

Pasukan dari Resimen Punjab ke-16, yang didukung tank, menghadapi perlawanan kelompok Hizbullah yang dipimpin KH Noer Alie dan sejumlah unsur TKR.

Pertempuran terjadi di kawasan Sasak Kapuk. Sekitar 100 anggota Hizbullah disebut terlibat dalam perlawanan.

Sebagian menggunakan senjata api, sementara lainnya membawa golok dan bambu runcing.

Dalam bentrokan tersebut, sekitar 30 anggota milisi Indonesia tewas, 20 lainnya terluka, dan 15 orang ditangkap.

Dari pihak Inggris, satu prajurit India dilaporkan terluka.

Peristiwa itu memperlihatkan betapa rapuhnya situasi keamanan di sekitar Jakarta beberapa bulan setelah Proklamasi Kemerdekaan.

Pemerintah Republik Indonesia saat itu berusaha menjaga hubungan dengan pasukan Sekutu, sementara di tingkat lokal berbagai kelompok bersenjata mempertahankan wilayah yang mereka anggap sebagai bagian dari perjuangan mempertahankan kemerdekaan.

Pembalasan Inggris dan Bekasi yang Dibakar

Setelah mengetahui adanya pembunuhan terhadap penumpang dan awak pesawat Dakota, Christison memerintahkan operasi pembalasan terhadap Bekasi.

Pada 13 Desember 1945, pasukan Inggris-India bergerak dengan dukungan pesawat De Havilland Mosquito dan meriam 25-pounder.

Serangan dimulai setelah pagi hari, sementara sebagian warga sipil dan pasukan TKR telah meninggalkan kawasan tersebut sebelum serangan berlangsung.

Pasukan Inggris kemudian menyisir wilayah Bekasi, mencari persenjataan dan amunisi.

Sekitar 600 rumah dilaporkan dibakar pada 13 Desember 1945.

Sebelumnya, dalam rangkaian operasi di sekitar lokasi jatuhnya pesawat, sekitar 200 rumah di sejumlah desa juga disebut telah dibakar.

Pilihan Editor :  Buka Puasa dan Santunan Yatim, Ketua MPC PP Bekasi Timur Larang Anggota Minta THR

Pasukan Inggris juga dilaporkan meninggalkan ranjau dan jebakan di sejumlah bangunan pemerintahan sebelum meninggalkan Bekasi.

Unsur TKR kemudian membongkar jebakan tersebut setelah kembali menguasai kawasan itu.

Skala kehancuran tersebut membuat peristiwa ini dikenang sebagai Bekasi Lautan Api.

Sebutan itu kemudian menempatkan tragedi Bekasi dalam ingatan sejarah perjuangan mempertahankan kemerdekaan, meskipun konteks dan motifnya berbeda dengan peristiwa Bandung Lautan Api pada 1946.

Pembalasan terhadap Bekasi juga menuai kritik.

Perdana Menteri Republik Indonesia Sutan Sjahrir mengecam tindakan tersebut.

Bahkan, Lord Louis Mountbatten, atasan Christison, disebut merasa kecewa karena tidak diberi informasi terlebih dahulu mengenai pembakaran Bekasi.

Dalam catatannya, Mountbatten menegaskan bahwa tindakan pembalasan tidak semestinya dilakukan secara membabi buta.

Sejarawan Richard McMillan mencatat adanya perdebatan mengenai dampak penghancuran terhadap kawasan permukiman masyarakat Tionghoa di Bekasi.

Sumber yang dikutip Wikipedia menyebut kawasan tersebut relatif terhindar, tetapi kesaksian warga Tionghoa-Indonesia memberikan gambaran berbeda.

Perbedaan ini menunjukkan bahwa sejarah Bekasi Lautan Api masih memiliki ruang untuk dikaji melalui arsip, kesaksian primer, dan penelitian sejarah lokal.

Kajian akademik yang dipublikasikan melalui BRIN juga menempatkan pembakaran Bekasi pada 13 Desember 1945 sebagai tindakan pembalasan Sekutu terhadap pembunuhan personel pesawat yang jatuh.

Kajian tersebut mencatat bahwa pemerintah Indonesia kemudian mengeluarkan pernyataan keras yang mengecam tindakan pasukan Sekutu sebagai tindakan yang melampaui batas kemanusiaan.

Kini, peristiwa tersebut tidak sekadar menjadi catatan tentang bangunan yang terbakar.

Bekasi Lautan Api mencerminkan kerasnya fase awal revolusi ketika konflik bersenjata, ketegangan antara Republik dan Sekutu, serta tindakan pembalasan militer saling berkelindan.

Sebuah monumen di Bekasi juga dibangun untuk mengenang peristiwa tersebut. Monumen itu menggunakan sejumlah benda peninggalan perang, termasuk granat tangan, selongsong artileri, dan selongsong peluru sebagai bagian dari penanda sejarah.

Pilihan Editor :  Dua Kali Serbu Batavia, Mengapa Pasukan Sultan Agung Gagal Menaklukkan VOC?

Dengan demikian, Bekasi Lautan Api perlu ditempatkan dalam konteks sejarah yang lebih luas. Peristiwa tersebut tidak dapat dibaca semata-mata sebagai kisah heroisme atau pembalasan. Di dalamnya terdapat korban, kekerasan terhadap manusia dan permukiman, keputusan militer, serta kontroversi mengenai tanggung jawab masing-masing pihak.

Bagi Bekasi, 13 Desember 1945 menjadi salah satu tanggal penting yang menunjukkan bahwa perjuangan mempertahankan kemerdekaan berlangsung dengan harga yang mahal. Api yang membakar ratusan rumah pada masa itu meninggalkan jejak panjang dalam ingatan sejarah kota dan menjadi pengingat mengenai konsekuensi ketika konflik bersenjata berkembang menjadi tindakan pembalasan terhadap sebuah wilayah dan penduduknya.

Referensi:

  1. Wikipedia – Burning of Bekasi
  2. Richard McMillan, The British Occupation of Indonesia: 1945–1946: Britain, The Netherlands and the Indonesian Revolution, Routledge, 2006.
  3. R.B. Cribb, Gangsters and Revolutionaries: The Jakarta People’s Militia and the Indonesian Revolution 1945–1949, University of Hawaii Press, 1991.
  4. Randy Wirayudha, “Bekasi Lautan Api di Mata Dua Saksi”, Historia.id, 13 Desember 2018.
  5. Randy Wirayudha, “Setelah Inggris Menjadikan Bekasi Lautan Api”, Historia.id, 12 Desember 2024.
  6. Muhammad Yuanda Zara, Wandering through the exotic battle zone, kajian yang tersedia melalui BRIN, 2024.

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti