Tokoh Adat Keerom Satukan Warga Perbatasan Lewat Nobar Piala Dunia dan Bakti Sosial Sembako
Keerom, Papua – Tokoh adat Kampung Yeti, Kabupaten Keerom, Bapak Frans Putui, menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 yang dirangkaikan dengan pembagian paket sembako kepada puluhan warga di wilayah...

Keerom, Papua – Tokoh adat Kampung Yeti, Kabupaten Keerom, Bapak Frans Putui, menggelar nonton bareng (nobar) Piala Dunia 2026 yang dirangkaikan dengan pembagian paket sembako kepada puluhan warga di wilayah perbatasan Indonesia–Papua Nugini (RI–PNG), Senin (29/6/2026). Kegiatan tersebut menjadi sarana mempererat persaudaraan sekaligus memperkuat semangat nasionalisme masyarakat yang tinggal di kawasan tapal batas.
Acara berlangsung di Kampung Yeti dengan melibatkan warga dari berbagai kalangan. Mereka memadati lokasi kegiatan sejak awal untuk mengikuti rangkaian bakti sosial dan menyaksikan pertandingan sepak bola bersama.
Tokoh adat setempat menginisiasi kegiatan tersebut sebagai bentuk kepedulian terhadap masyarakat perbatasan. Selain menghadirkan hiburan, kegiatan juga bertujuan memperkuat kebersamaan dan solidaritas sosial.
Momentum olahraga internasional dimanfaatkan sebagai ruang mempererat hubungan antarmasyarakat. Suasana penuh keakraban terlihat selama warga berkumpul dan menikmati pertandingan bersama.
Pembagian paket sembako menjadi bagian penting dalam kegiatan tersebut. Bantuan itu diharapkan membantu memenuhi kebutuhan pokok warga sekaligus memperkuat nilai gotong royong.
Perkuat Nasionalisme di Wilayah Tapal Batas
Bapak Frans Putui menegaskan masyarakat perbatasan memiliki peran strategis sebagai garda terdepan bangsa. Karena itu, semangat kebangsaan harus terus dipelihara melalui berbagai kegiatan positif.
Ia menilai kebersamaan menjadi modal utama menjaga persatuan masyarakat di kawasan perbatasan. Hubungan yang harmonis dinilai mampu memperkuat ketahanan sosial di tengah berbagai tantangan.
“Nobar ini bukan sekadar hiburan, tetapi momentum menjaga kebersamaan dan memastikan Merah Putih tetap berkibar di hati sanubari warga tapal batas,” ujar Bapak Frans Putui.
Menurutnya, masyarakat yang tinggal di wilayah perbatasan berhak memperoleh perhatian yang sama dengan masyarakat di daerah lain. Kehadiran tokoh adat harus membawa manfaat nyata bagi warga.
Selain membangun kebersamaan, kegiatan tersebut juga mengajak masyarakat memperkuat rasa cinta tanah air. Nilai itu dinilai penting untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Semangat persaudaraan yang tumbuh melalui kegiatan sosial diharapkan mampu mempererat hubungan antarkeluarga, antartetangga, dan seluruh elemen masyarakat Kampung Yeti.
Warga Sambut Positif Kegiatan Sosial
Warga menyambut antusias pelaksanaan nobar dan pembagian sembako. Mereka menilai kegiatan tersebut menghadirkan kebahagiaan sekaligus memperkuat hubungan antara tokoh adat dan masyarakat.
Sejumlah warga mengaku merasa diperhatikan melalui kegiatan sosial tersebut. Mereka berharap agenda serupa dapat terus berlangsung sebagai sarana mempererat persaudaraan.
Selain menikmati pertandingan sepak bola, warga memanfaatkan kesempatan itu untuk bersilaturahmi dan berdiskusi mengenai berbagai persoalan lingkungan secara santai.
Kegiatan berlangsung dalam suasana tertib, aman, dan penuh kehangatan. Gelak tawa serta kebersamaan mewarnai seluruh rangkaian acara hingga selesai.
Semangat masyarakat Kampung Yeti menunjukkan bahwa keterbatasan geografis tidak mengurangi rasa persatuan maupun kecintaan terhadap Indonesia. Kebersamaan justru tumbuh semakin kuat di wilayah perbatasan.
Melalui kegiatan tersebut, tokoh adat berharap masyarakat terus menjaga persaudaraan, memperkuat solidaritas sosial, serta menanamkan nilai nasionalisme dalam kehidupan sehari-hari. Kebersamaan yang terbangun diharapkan menjadi fondasi penting bagi terciptanya wilayah perbatasan yang damai, harmonis, dan semakin maju.









