Kamis, 22 Okt 2026
Beranda » BERITA » Satgas OMC Kerahkan Pesawat Cassa, Semai 4,8 Ton Bahan di Palembang

Satgas OMC Kerahkan Pesawat Cassa, Semai 4,8 Ton Bahan di Palembang

  • account_circle Sapto Handoko
  • calendar_month 0 menit yang lalu
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Palembang – Satuan Tugas Operasi Modifikasi Cuaca (Satgas OMC) TNI melaksanakan lima sortie penerbangan untuk menyemaikan 4,8 ton bahan pendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Palembang, Sumatera Selatan, Kamis (22/10/2026).

Dalam operasi udara tersebut, Satgas menggunakan pesawat Cassa TNI Angkatan Udara untuk menyemaikan 4 ton dry ice dan 800 kilogram natrium klorida (NaCl) atau garam semai.

Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) menyebutkan, kegiatan itu menjadi bagian dari upaya mempercepat penanganan karhutla sekaligus mengurangi dampak kabut asap di wilayah Sumatera Selatan.

Dari lima sortie yang dilaksanakan, empat penerbangan membawa dry ice, sedangkan satu penerbangan lainnya menyebarkan NaCl untuk mendukung proses pembentukan hujan.

Kedua bahan tersebut memiliki fungsi berbeda dalam operasi modifikasi cuaca, mulai dari mendukung proses atmosfer hingga merangsang pembentukan presipitasi dalam kondisi yang sesuai.

Melalui kegiatan tersebut, TNI bersama tim gabungan berupaya mengoptimalkan dukungan penerbangan dan kesiapan personel untuk membantu penanganan karhutla di wilayah terdampak.

Empat Sortie untuk Penyemaian Dry Ice

Dalam rangkaian operasi pada Kamis, 22 Oktober 2026, Satgas Udara mengerahkan pesawat Cassa TNI AU untuk melaksanakan penyemaian bahan di wilayah Palembang dan sekitarnya.

Sebanyak 4 ton dry ice disemaikan melalui empat sortie penerbangan sesuai rencana operasi yang disampaikan Puspen TNI.

Bahan tersebut digunakan untuk mendukung upaya mengatasi lapisan inversi, yaitu kondisi atmosfer ketika suhu udara meningkat seiring bertambahnya ketinggian pada lapisan tertentu.

Kondisi inversi dapat menghambat pergerakan udara vertikal sehingga memengaruhi penyebaran polutan dan kabut asap di dekat permukaan.

Dalam konteks operasi ini, penyemaian dry ice diarahkan untuk membantu proses atmosfer yang diharapkan mendukung penguraian kabut asap.

Meski demikian, hasilnya bergantung pada kondisi atmosfer, termasuk profil suhu, kelembapan, pergerakan angin, serta parameter meteorologi lainnya.

Pilihan Editor :  Cerita Danlanal Dumai Menyapa Tanjung Datu dan Kuala Enok

Karena itu, keberhasilan penyemaian tidak dapat dinilai hanya dari jumlah bahan yang digunakan atau banyaknya penerbangan yang dilaksanakan.

Data pengamatan sebelum dan sesudah operasi diperlukan untuk mengetahui perubahan kondisi atmosfer serta dampaknya terhadap konsentrasi kabut asap.

Satu Sortie NaCl untuk Mendukung Pembentukan Hujan

Selain menggunakan dry ice, Satgas OMC menyemaikan 800 kilogram natrium klorida melalui satu sortie penerbangan.

NaCl atau garam semai digunakan untuk mendukung proses pembentukan hujan melalui penyemaian awan yang memenuhi persyaratan meteorologis.

Dalam kondisi yang sesuai, partikel garam dapat berperan sebagai inti kondensasi awan dan membantu pertumbuhan tetes air di dalam awan.

Namun, proses tersebut tetap bergantung pada ketersediaan awan, kandungan uap air, suhu, dan dinamika atmosfer di wilayah sasaran.

Oleh sebab itu, penyemaian garam tidak secara otomatis menghasilkan hujan apabila kondisi atmosfer tidak mendukung.

Puspen TNI menyampaikan bahwa kombinasi dry ice dan NaCl diharapkan membantu mengurangi kabut asap sekaligus memicu hujan untuk mendukung pemadaman kebakaran.

Meski begitu, keterangan yang tersedia belum mencantumkan lokasi koordinat penyemaian, kondisi awan saat operasi, maupun jumlah curah hujan yang dihasilkan setelah penerbangan.

Informasi mengenai perubahan kualitas udara dan perkembangan titik kebakaran juga belum tercantum dalam laporan tersebut.

Dengan demikian, hasil operasi masih memerlukan evaluasi berdasarkan data meteorologi dan pemantauan karhutla dari instansi terkait.

TNI dan Tim Gabungan Optimalkan Penanganan Karhutla

Pelaksanaan lima sortie penerbangan tersebut menjadi bagian dari dukungan TNI bersama tim gabungan dalam menghadapi karhutla di Sumatera Selatan.

Selain mengerahkan pesawat dan bahan semai, kesiapan personel serta koordinasi antarinstansi menjadi unsur penting dalam mendukung kelancaran operasi.

Upaya ini diarahkan untuk membantu mengurangi dampak kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan masyarakat, jarak pandang, transportasi, dan aktivitas sehari-hari.

Pilihan Editor :  HUT ke-80 TNI AL, Lanal Bengkulu Hadirkan Gerakan Pangan Murah untuk Ringankan Warga

Namun, operasi modifikasi cuaca tetap menjadi salah satu bagian dari penanganan karhutla, bukan pengganti pemadaman langsung di titik kebakaran.

Penanganan yang menyeluruh juga membutuhkan pemantauan titik panas, pemadaman di lapangan, pencegahan munculnya sumber api baru, serta pengawasan wilayah rawan.

Selain itu, data kualitas udara perlu menjadi dasar untuk menilai tingkat dampak kabut asap dan menentukan langkah perlindungan bagi masyarakat.

Puspen TNI menegaskan bahwa TNI bersama tim gabungan terus mengoptimalkan pemanfaatan alat utama sistem persenjataan (alutsista) udara dan kesiapsiagaan personel hingga kualitas udara di Sumatera Selatan berangsur membaik.

Ke depan, hasil evaluasi operasi dan perkembangan kondisi karhutla diperlukan untuk menentukan kebutuhan dukungan lanjutan.

Dengan pemantauan yang terukur dan koordinasi lintas instansi, pelaksanaan OMC diharapkan dapat mendukung upaya pengendalian karhutla serta mengurangi dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Menarik Dibaca

expand_less