Hari Ketujuh OMC, TNI Salurkan 17,4 Ton Bahan Semai ke Dua Wilayah
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 36 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – TNI mengirim 17,4 ton bahan pendukung Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) ke Palembang, Sumatera Selatan, dan Banjarmasin, Kalimantan Selatan, Kamis (22/10/2026), untuk mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Pengiriman pada hari ketujuh operasi tersebut mencakup 7,2 ton dry ice dan 10,2 ton natrium klorida (NaCl) atau garam semai.
Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) menyebutkan, distribusi bahan itu menggunakan pesawat Hercules yang berangkat dari Pangkalan TNI AU Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur.
Dalam kegiatan tersebut, TNI mengerahkan enam sortie penerbangan untuk mendukung kebutuhan operasi di kedua wilayah.
Selain mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca, upaya ini diarahkan untuk membantu penanganan karhutla dan mengurangi dampak kabut asap yang berpotensi mengganggu aktivitas masyarakat.
Pengiriman bahan semai secara berkelanjutan menjadi bagian dari dukungan TNI bersama instansi terkait dalam menghadapi dampak kebakaran hutan dan lahan.
Enam Sortie Angkut Bahan Semai ke Palembang dan Banjarmasin
Pada Kamis, 22 Oktober 2026, TNI mengerahkan pesawat Hercules untuk mengangkut bahan pendukung OMC dari Lanud Halim Perdanakusuma menuju wilayah operasi.
Total muatan mencapai 17,4 ton, dengan rincian 7,2 ton dry ice dan 10,2 ton NaCl.
Kedua jenis bahan tersebut mendukung pelaksanaan operasi modifikasi cuaca, meskipun memiliki fungsi dan penerapan teknis yang berbeda dalam kegiatan penyemaian.
Enam sortie penerbangan menunjukkan adanya dukungan logistik udara untuk memenuhi kebutuhan operasi di Palembang dan Banjarmasin.
Namun, keterangan Puspen TNI belum merinci pembagian jumlah penerbangan untuk masing-masing wilayah, kapasitas muatan setiap penerbangan, maupun jumlah bahan yang diterima tiap pangkalan tujuan.
Informasi mengenai jenis pesawat Hercules yang digunakan serta waktu kedatangan bahan di masing-masing lokasi juga belum tercantum dalam keterangan tersebut.
Meski demikian, pengiriman ini menjadi bagian dari rangkaian dukungan operasional untuk menjaga ketersediaan bahan semai selama penanganan karhutla berlangsung.
TNI Sebut Dry Ice Difokuskan untuk Mengurai Asap
Puspen TNI menjelaskan bahwa penggunaan dry ice dalam operasi kali ini difokuskan untuk membantu mengurai kabut asap.
Upaya tersebut diharapkan dapat membantu mengangkat asap yang terperangkap di dekat permukaan tanah sehingga dapat menyebar mengikuti pergerakan angin.
Meski demikian, keberhasilan upaya tersebut bergantung pada kondisi atmosfer dan dinamika angin di wilayah operasi.
Secara teknis, dry ice merupakan karbon dioksida dalam bentuk padat yang dapat digunakan sebagai bahan penyemaian awan dalam kondisi atmosfer tertentu.
Sementara itu, NaCl atau natrium klorida merupakan bahan yang juga dapat digunakan dalam operasi penyemaian awan sesuai metode dan kondisi meteorologis yang dibutuhkan.
Karena itu, efektivitas penggunaan setiap bahan perlu dinilai berdasarkan tujuan operasi, kondisi atmosfer, serta hasil pengamatan sebelum dan sesudah kegiatan.
Keterangan yang tersedia belum memuat data mengenai kondisi awan, kelembapan, arah angin, maupun hasil pengukuran kualitas udara setelah pelaksanaan OMC.
Dengan demikian, pengiriman bahan dan pengerahan pesawat menunjukkan dukungan operasional yang berlangsung, tetapi belum cukup untuk memastikan besarnya perubahan kualitas udara atau penurunan dampak kabut asap.
Data evaluasi tersebut penting untuk memberikan gambaran terukur mengenai hasil operasi di masing-masing wilayah.
Penanganan Karhutla Membutuhkan Upaya Terpadu
Pelaksanaan OMC secara berkelanjutan merupakan bagian dari dukungan TNI bersama instansi terkait dalam menangani karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.
Selain mengupayakan dukungan melalui modifikasi cuaca, penanganan karhutla juga membutuhkan pemadaman langsung pada titik kebakaran, pemantauan wilayah rawan, serta pencegahan munculnya sumber api baru.
Koordinasi antarlembaga diperlukan agar langkah penanganan dapat menyesuaikan kondisi lapangan dan kebutuhan masing-masing wilayah.
Di sisi lain, pemantauan kualitas udara tetap penting untuk mengetahui tingkat paparan kabut asap dan potensi dampaknya terhadap kesehatan serta aktivitas masyarakat.
Karena itu, hasil OMC perlu dilihat bersama perkembangan titik panas, luas area terbakar, kondisi meteorologi, dan data kualitas udara dari instansi berwenang.
Puspen TNI menyatakan bahwa operasi tersebut bertujuan mendukung penanggulangan karhutla, mengurangi dampak kabut asap, serta membantu pemulihan kualitas udara di wilayah terdampak.
Namun, hingga keterangan ini disampaikan, belum tersedia angka terbaru mengenai luas kebakaran, jumlah titik panas, tingkat pencemaran udara, ataupun perubahan kondisi setelah pelaksanaan operasi pada hari ketujuh.
Informasi tersebut diperlukan untuk menilai perkembangan penanganan karhutla secara menyeluruh, bukan hanya dari jumlah bahan yang dikirim dan penerbangan yang dikerahkan.
Melalui dukungan logistik udara dan koordinasi dengan instansi terkait, TNI melanjutkan perannya dalam mendukung operasi penanganan karhutla di Palembang dan Banjarmasin.
Selanjutnya, pemantauan kondisi atmosfer serta evaluasi hasil operasi menjadi unsur penting untuk menentukan kebutuhan dukungan dan langkah penanganan berikutnya.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

