Kasum TNI Pimpin Rakor Karhutla, Bahas Optimalisasi Modifikasi Cuaca
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta Timur– Kepala Staf Umum (Kasum) TNI Letjen TNI Richard Taruli H. Tampubolon memimpin rapat koordinasi penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Rabu (14/10/2026).
Rapat yang berlangsung di Ruang Rapat Kasum TNI, Gedung Soedirman, tersebut mempertemukan pejabat tinggi TNI dengan perwakilan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat koordinasi penanganan karhutla.
Sejumlah instansi yang hadir meliputi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), serta Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB).
Pertemuan tersebut membahas langkah penanganan karhutla, optimalisasi penerapan TMC, serta penggunaan dry ice sebagai salah satu bahan dalam proses modifikasi cuaca.
Melalui koordinasi lintas instansi, TNI bersama kementerian dan lembaga terkait berupaya menyelaraskan langkah untuk mendukung penanggulangan karhutla secara terpadu dan tepat sasaran.
Koordinasi Lintas Instansi untuk Penanganan Karhutla
Karhutla membutuhkan penanganan yang melibatkan berbagai instansi karena upaya pencegahan, pemantauan, dan penanggulangan memerlukan dukungan sesuai tugas serta kewenangan masing-masing.
Dalam konteks tersebut, rapat koordinasi yang dipimpin Kasum TNI menjadi forum untuk membahas penyelarasan langkah antara unsur TNI dan lembaga yang memiliki peran dalam penanganan bencana.
BMKG memiliki keahlian di bidang meteorologi, klimatologi, dan pemantauan kondisi atmosfer, sedangkan BRIN mendukung pengembangan ilmu pengetahuan serta teknologi.
Sementara itu, BNPB menjalankan peran dalam koordinasi penanggulangan bencana sesuai tugas dan kewenangannya.
Keterlibatan ketiga lembaga tersebut membuka ruang koordinasi antara aspek meteorologi, pengembangan teknologi, dan penanganan bencana dalam menghadapi ancaman karhutla.
Selain itu, keterpaduan langkah dapat membantu setiap instansi memahami kebutuhan dukungan dan menyelaraskan pelaksanaan tugas di lapangan.
Namun, keterangan resmi mengenai rapat tersebut belum merinci wilayah prioritas penanganan, jumlah titik api, tingkat kerawanan, maupun target operasional yang menjadi pembahasan khusus.
Informasi tersebut diperlukan untuk memberikan gambaran lebih terukur mengenai skala ancaman dan prioritas penanganan karhutla.
Karena itu, hasil konkret koordinasi akan bergantung pada tindak lanjut, pembagian tugas, serta pelaksanaan langkah yang telah disepakati oleh setiap pemangku kepentingan.
Teknologi Modifikasi Cuaca dan Penggunaan Dry Ice
Selain penanganan karhutla, rapat tersebut membahas optimalisasi Teknologi Modifikasi Cuaca sebagai salah satu pendekatan yang dapat mendukung upaya penanggulangan bencana dalam kondisi tertentu.
TMC memanfaatkan proses fisika atmosfer melalui intervensi yang dirancang untuk memengaruhi pembentukan atau perkembangan awan sesuai kondisi meteorologis dan tujuan operasi.
Dalam pelaksanaannya, kebutuhan data atmosfer, analisis kondisi cuaca, serta penilaian teknis menjadi bagian penting dalam menentukan kelayakan suatu operasi modifikasi cuaca.
Rapat tersebut juga menyoroti penggunaan dry ice atau es kering sebagai salah satu bahan dalam proses modifikasi cuaca.
Meski demikian, efektivitas penerapan TMC bergantung pada kondisi atmosfer, ketersediaan awan yang sesuai, serta rancangan operasi berdasarkan analisis teknis.
Oleh sebab itu, penggunaan teknologi tersebut tidak dapat dipandang sebagai solusi tunggal untuk mengatasi seluruh persoalan karhutla.
Upaya pencegahan kebakaran, deteksi dini, pemadaman di lapangan, dan pengawasan wilayah tetap memerlukan perhatian sesuai kondisi serta tingkat ancaman.
Keterangan rapat belum menjelaskan metode teknis yang akan digunakan, wilayah operasi TMC, jadwal pelaksanaan, maupun jumlah bahan yang disiapkan.
Dengan demikian, pembahasan penggunaan dry ice menunjukkan salah satu aspek yang menjadi perhatian dalam koordinasi, tetapi belum cukup untuk menyimpulkan bentuk operasi atau hasil yang akan dicapai.
Sinergi untuk Mengurangi Dampak Karhutla
Melalui rapat koordinasi tersebut, TNI bersama kementerian dan lembaga terkait mengharapkan kesamaan langkah dalam mengantisipasi serta menangani kebakaran hutan dan lahan.
Koordinasi yang baik diperlukan agar dukungan teknis, informasi cuaca, dan kebutuhan penanggulangan bencana dapat saling melengkapi.
Selain membantu melindungi masyarakat, upaya penanganan karhutla juga berkaitan dengan perlindungan lingkungan serta pengurangan dampak kebakaran terhadap kehidupan sosial dan aktivitas ekonomi.
Asap akibat karhutla dapat mengganggu kualitas udara dan aktivitas masyarakat, sedangkan kebakaran yang meluas berpotensi merusak ekosistem serta kawasan yang terdampak.
Karena itu, langkah penanggulangan membutuhkan pendekatan yang terintegrasi, mulai dari pencegahan hingga respons ketika kebakaran terjadi.
Di sisi lain, koordinasi antarlembaga perlu menghasilkan tindak lanjut yang jelas agar pembahasan dalam rapat dapat mendukung pelaksanaan tugas secara efektif.
Evaluasi terhadap langkah yang dijalankan juga penting untuk mengukur efektivitas penanganan serta mengidentifikasi kebutuhan perbaikan.
Melalui forum tersebut, TNI dan instansi terkait berupaya memperkuat kerja sama dalam menghadapi ancaman karhutla sekaligus mendukung perlindungan masyarakat dan kelestarian lingkungan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

