CYBEREX SGS 2026 Uji Ketahanan Siber melalui Analisis Serangan
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

Bandung – Tim pertahanan siber peserta Super Garuda Shield (SGS) 2026 menguji ketahanan infrastruktur digital melalui analisis serangan dalam latihan CYBEREX.
Kegiatan tersebut berlangsung pada tahap Capstone Cyber Exercise (CYBEREX) SGS 2026 di Bandung, Rabu (9/9/2026).
Setiap Defensive Cyber Team (DCT) memaparkan kondisi infrastruktur serta hasil analisis terhadap serangan siber selama latihan berlangsung.
Paparan itu menjadi bagian penting untuk mengukur kemampuan tim menghadapi ancaman terhadap infrastruktur digital secara terkoordinasi.
Masing-masing Team Lead DCT menjelaskan kondisi terkini infrastruktur yang berada dalam tanggung jawab timnya.
Selain itu, mereka menyampaikan berbagai temuan serangan yang masuk selama pelaksanaan latihan.
Tim kemudian menganalisis karakteristik serangan untuk mengetahui pola ancaman serta dampaknya terhadap sistem.
Analisis tersebut juga mengukur potensi gangguan terhadap keberlangsungan operasional infrastruktur digital yang menjadi sasaran dalam skenario latihan.
Analisis Menentukan Langkah Pertahanan
Setelah mengidentifikasi ancaman, setiap DCT merumuskan langkah perbaikan berdasarkan hasil analisis serangan.
Tim juga menyusun strategi penguatan pertahanan untuk meningkatkan ketahanan sistem ketika menghadapi serangan berikutnya.
Dengan demikian, CYBEREX tidak hanya menguji kemampuan mendeteksi serangan, tetapi juga kemampuan mengelola insiden secara menyeluruh.
Setiap personel harus mampu menganalisis temuan sebelum menentukan respons terhadap gangguan yang muncul.
Selanjutnya, tim melakukan langkah pemulihan sebagai bagian dari pengujian kemampuan menghadapi insiden siber.
Proses tersebut menuntut koordinasi antarpersonel agar setiap keputusan tetap mengacu pada kondisi infrastruktur dan hasil analisis.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena ancaman siber dapat berkembang secara dinamis selama berlangsungnya suatu operasi.
Karena itu, peserta harus mampu bergerak dari tahap identifikasi menuju respons dan pemulihan secara terukur.
Rangkaian latihan tersebut memberikan ruang bagi setiap DCT untuk mengevaluasi kemampuan teknis sekaligus pola koordinasi internal.
Pada tahap ini, hasil analisis menjadi dasar bagi tim dalam menentukan langkah penguatan sistem.
Uji Kemampuan Menghadapi Ancaman Dinamis
CYBEREX SGS 2026 juga menguji kemampuan pengambilan keputusan ketika personel menghadapi perkembangan ancaman secara dinamis.
Setiap tim perlu menghubungkan temuan serangan dengan kondisi sistem sebelum menetapkan langkah penanganan.
Selain kemampuan teknis, koordinasi menjadi faktor penting untuk memastikan setiap unsur memahami perkembangan situasi secara bersama.
Melalui pola tersebut, latihan mendorong personel membangun respons yang lebih terarah terhadap insiden siber.
Proses itu sekaligus menguji kemampuan setiap DCT dalam bekerja secara terkoordinasi ketika menghadapi gangguan infrastruktur digital.
Puspen TNI menyebut CYBEREX sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemampuan pertahanan siber TNI bersama negara peserta latihan.
“Melalui CYBEREX SGS 2026, TNI bersama negara peserta latihan terus meningkatkan interoperabilitas dan kesiapan pertahanan siber,” demikian keterangan Puspen TNI.
Peningkatan interoperabilitas menjadi salah satu sasaran penting karena latihan melibatkan unsur pertahanan dari berbagai negara.
Melalui interaksi selama latihan, peserta dapat menguji kemampuan koordinasi dalam menghadapi skenario ancaman siber secara bersama.
Selain itu, latihan memberikan kesempatan bagi setiap tim untuk mengevaluasi respons berdasarkan kondisi infrastruktur masing-masing.
Perkuat Kesiapan Pertahanan Digital
Rangkaian CYBEREX SGS 2026 pada akhirnya menguji kemampuan personel menghadapi ancaman sejak tahap deteksi hingga pemulihan.
Setiap tahapan menuntut ketelitian dalam mengidentifikasi serangan dan menentukan dampak terhadap sistem yang menjadi tanggung jawab tim.
Selanjutnya, personel harus menerjemahkan hasil analisis menjadi langkah perbaikan dan strategi pertahanan yang relevan.
Pola tersebut memperkuat kemampuan pengambilan keputusan sekaligus meningkatkan koordinasi antarpersonel dalam menghadapi insiden siber.
Latihan juga mempertemukan kemampuan pertahanan siber TNI dengan unsur militer negara peserta dalam satu skenario latihan.
Melalui latihan bersama, peserta dapat menguji kesiapan menghadapi ancaman terhadap infrastruktur digital yang semakin kompleks.
Pada sisi lain, evaluasi terhadap serangan memberikan gambaran mengenai kemampuan tim dalam mempertahankan keberlangsungan operasional sistem.
Karena itu, CYBEREX tidak sekadar menjadi simulasi teknis, tetapi juga menjadi sarana menguji kesiapan organisasi menghadapi insiden siber.
Kemampuan mendeteksi, menganalisis, merespons, dan memulihkan sistem menjadi rangkaian yang saling berkaitan.
Jika setiap tahapan berjalan terkoordinasi, kemampuan pertahanan dapat berkembang menghadapi berbagai skenario ancaman.
TNI bersama negara peserta SGS 2026 terus memperkuat kerja sama melalui peningkatan kemampuan dan interoperabilitas pertahanan siber.
Upaya tersebut diarahkan untuk membangun kesiapan bersama dalam menghadapi ancaman terhadap infrastruktur digital secara lebih efektif dan terkoordinasi.
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

