Kebun Bah Jambi Serap 500 Pekerja Lokal, Ekonomi Warga Ikut Bergerak

Simalungun, 1 September 2026 – Kebun Bah Jambi menyerap lebih dari 500 warga lokal dari 612 karyawan, memperkuat perputaran ekonomi masyarakat Simalungun. Unit usaha PTPN IV Regional 2 itu beroperasi...

-AA+

Simalungun, 1 September 2026 – Kebun Bah Jambi menyerap lebih dari 500 warga lokal dari 612 karyawan, memperkuat perputaran ekonomi masyarakat Simalungun.

Unit usaha PTPN IV Regional 2 itu beroperasi di Kecamatan Jawa Maraja Bah Jambi dan Kecamatan Tanah Jawa, Kabupaten Simalungun, Sumatera Utara.

Angka tersebut menunjukkan sekitar 80 persen tenaga kerja kebun berasal dari desa-desa sekitar wilayah operasional perusahaan.

Bagi masyarakat, penyerapan tenaga lokal membuka akses pendapatan sekaligus menghubungkan aktivitas perkebunan dengan perekonomian keluarga.

Kepala Bagian Sekretariat dan Hukum PTPN IV Regional 2 Muhammad Ridho Nasution mengatakan kontribusi perusahaan tidak hanya melalui program sosial.

Advertisement

“Kontribusi Kebun Bah Jambi terhadap masyarakat tidak hanya terlihat dari program TJSL,” kata Ridho, Selasa (1/9/2026).

Menurut Ridho, lebih dari 500 warga lokal memperoleh penghasilan dari pekerjaan di lingkungan kebun dan aktivitas operasional perusahaan.

“Manfaat ekonominya ikut berputar di lingkungan masyarakat sekitar,” ujarnya.

Penghasilan pekerja kemudian menopang kebutuhan rumah tangga dan turut menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan.

Karena itu, kontribusi perkebunan tidak hanya terlihat dari hasil produksi, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang muncul melalui lapangan pekerjaan.

TJSL Perkuat Fasilitas dan Usaha

Selain menyerap tenaga kerja, Kebun Bah Jambi menjalankan Program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan atau TJSL.

Program tersebut menyasar kebutuhan masyarakat melalui dukungan tempat ibadah, fasilitas publik, usaha warga, bibit ikan, dan penghijauan.

Ridho mengatakan perusahaan menyusun program dengan mempertimbangkan kebutuhan masyarakat serta lembaga di sekitar wilayah operasional.

“Kami berupaya agar program TJSL benar-benar menjawab kebutuhan masyarakat dan memberikan manfaat bagi lingkungan sekitar Kebun Bah Jambi,” ujarnya.

Pilihan Editor :  Danramil Pamulang Ajak Pelajar Tolak Narkoba dan Bullying

Menurut dia, perusahaan menjalankan langkah tersebut untuk memperluas manfaat aktivitas operasional bagi masyarakat sekitar.

Pada 2024, Kebun Bah Jambi mendukung pembangunan tempat parkir dan pemasangan keramik di Masjid Zahra Al Mukhlisin.

Kemudian pada 2025, perusahaan kembali mendukung pembangunan tempat ibadah, pemberian bibit ikan, serta kegiatan penghijauan.

Sementara itu, pada 2026, perusahaan memberikan sarana dan alat produksi kepada Koperasi Produsen Pandai Besi Tanah Jawa Simalungun.

Dukungan tersebut membantu pelaku usaha meningkatkan kapasitas produksi dan memperkuat kegiatan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

Berbeda dengan bantuan konsumtif, sarana produksi dapat masyarakat manfaatkan berulang kali untuk menunjang aktivitas usaha.

“Penguatan ekonomi masyarakat menjadi salah satu hal yang penting,” kata Ridho.

“Ketika usaha masyarakat berkembang, manfaatnya akan kembali kepada keluarga dan lingkungan tempat mereka menjalankan kegiatan usaha,” lanjutnya.

Bantuan Dua Unit Hampir Rp400 Juta

Kontribusi sosial perusahaan di kawasan Bah Jambi juga melibatkan Pabrik Kelapa Sawit atau PKS Bah Jambi.

PKS Bah Jambi turut menjalankan program TJSL bagi masyarakat di sekitar wilayah operasional perusahaan.

Jika digabungkan, nilai bantuan dari Kebun Bah Jambi dan PKS Bah Jambi hampir menyentuh Rp400 juta.

Nilai tersebut menjadi salah satu bentuk dukungan perusahaan terhadap kebutuhan sosial masyarakat di sekitar kawasan operasional.

Namun, kontribusi ekonomi perusahaan tidak berhenti pada bantuan sosial dan lingkungan.

Lapangan kerja bagi lebih dari 500 warga menjadi kontribusi langsung yang berlangsung seiring aktivitas operasional perkebunan.

Dengan demikian, pendapatan pekerja menjadi salah satu jalur perputaran ekonomi yang menghubungkan kegiatan perusahaan dengan kehidupan masyarakat.

Pilihan Editor :  Akses Tertutup Akibat Pendangkalan, Bakamla RI Evakuasi Ratusan Warga dari Pulau Enggano

Sejarah Panjang Kebun Bah Jambi

Kebun Bah Jambi memiliki sejarah panjang sebelum masuk dalam struktur PTPN IV Regional 2 saat ini.

Berdasarkan catatan sejarah unit usaha, perusahaan swasta Belanda NV Handels Vereeniging Amsterdam atau HVA pernah mengelola kawasan tersebut.

Pada masa itu, pengelola mengembangkan sisal atau Agave sisalana sebagai komoditas perkebunan.

Pemerintah Republik Indonesia kemudian mengambil alih aset tersebut pada 2 Mei 1959 berdasarkan Peraturan Nomor 19 Tahun 1959.

Setelah nasionalisasi, pengelolaan Kebun Bah Jambi secara bertahap masuk dalam sistem perusahaan perkebunan negara.

Perubahan kelembagaan berlanjut hingga 1996, ketika kebun tersebut menjadi bagian dari PT Perkebunan Nusantara IV.

Pada 2014-2015, Kementerian BUMN menunjuk PTPN III Persero sebagai induk Holding Perkebunan Nusantara.

Selanjutnya, pada 2023, pemerintah membentuk Subholding PalmCo dengan PTPN IV sebagai induknya.

Dalam struktur tersebut, Kebun Bah Jambi kini menjadi salah satu unit usaha PTPN IV Regional 2.

Perubahan struktur organisasi tidak mengubah kebutuhan perusahaan menjaga hubungan dengan masyarakat di sekitar wilayah operasional.

Aktivitas perkebunan tetap berjalan berdampingan dengan kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat Simalungun.

“Bagi PTPN IV Regional 2, masyarakat sekitar merupakan bagian penting,” ujar Ridho.

“Karena itu kami berupaya agar manfaat perusahaan dapat dirasakan secara nyata oleh warga, baik melalui kesempatan kerja maupun dukungan fasilitas umum,” pungkasnya.

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti
Advertisement
Advertisement