TNI Semai Lebih dari 10 Ton Bahan dalam Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 43 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kalimantan – TNI mengerahkan sejumlah pesawat untuk menyebarkan lebih dari 10 ton bahan semai dalam Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mendukung penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), Minggu (25/10/2026).
Operasi tersebut melibatkan pesawat Hercules C-130, CN-295, dan Cassa C-212 yang menjalankan misi penyemaian menggunakan natrium klorida (NaCl) atau garam serta dry ice.
Pengerahan armada udara ini menjadi bagian dari upaya TNI mendukung pembentukan awan hujan di wilayah Kalimantan, terutama untuk membantu penanganan karhutla dan mengurangi dampak kabut asap terhadap masyarakat.
Berdasarkan keterangan Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI), setiap jenis pesawat menjalankan tugas penyemaian dengan jumlah bahan dan pola penerbangan yang berbeda.
Pesawat Hercules C-130 menyebarkan 4,8 ton garam, sedangkan CN-295 menaburkan 2 ton bahan yang sama.
Sementara itu, pesawat Cassa C-212 melaksanakan lima sorti penerbangan dengan membawa 622 kilogram garam dan 2,7 ton dry ice untuk mendukung proses penyemaian awan.
Pengerahan ketiga jenis pesawat tersebut menunjukkan keterlibatan unsur udara TNI dalam mendukung operasi penanganan bencana lingkungan melalui pendekatan modifikasi cuaca.
Tiga Jenis Pesawat Dukung Penyemaian Awan
Dalam pelaksanaan OMC, pesawat Hercules C-130 menyebarkan 4,8 ton NaCl sebagai bahan semai.
Pada saat yang sama, pesawat CN-295 menyumbangkan dukungan penyemaian melalui penaburan 2 ton garam.
Adapun Cassa C-212 melaksanakan lima sorti penerbangan dengan menyebarkan 622 kilogram NaCl dan 2,7 ton dry ice.
Berdasarkan rincian tersebut, total NaCl yang tercatat mencapai 7,422 ton, sedangkan jumlah dry ice mencapai 2,7 ton.
Dengan demikian, jumlah bahan semai yang disebutkan dalam laporan mencapai sekitar 10,122 ton atau lebih dari 10 ton.
Perhitungan itu mengacu pada angka yang tercantum dalam keterangan Puspen TNI. Namun, rincian tersebut belum menjelaskan distribusi bahan semai untuk setiap sorti penerbangan Cassa C-212 maupun lokasi penyemaian masing-masing pesawat.
Informasi mengenai lokasi spesifik, luas wilayah sasaran, serta hasil pengukuran curah hujan setelah penyemaian juga belum tercantum dalam keterangan tersebut.
Karena itu, jumlah bahan yang digunakan dapat menjelaskan skala dukungan operasional, tetapi belum cukup untuk mengukur dampak OMC terhadap penurunan titik panas atau luas kebakaran.
OMC Jadi Bagian dari Upaya Penanganan Karhutla
Operasi Modifikasi Cuaca merupakan salah satu upaya untuk mendukung pembentukan hujan melalui penyemaian bahan tertentu pada awan yang memenuhi kondisi atmosfer yang sesuai.
Dalam pelaksanaannya, efektivitas penyemaian bergantung pada sejumlah faktor, termasuk ketersediaan awan, kandungan air, perkembangan atmosfer, dan ketepatan waktu penerbangan.
Oleh sebab itu, pengerahan pesawat dan penyebaran bahan semai menjadi bagian dari proses operasional, sedangkan hasil akhirnya perlu dinilai melalui data cuaca dan pengamatan di wilayah sasaran.
Dalam konteks penanganan karhutla, hujan dapat membantu membasahi vegetasi dan permukaan tanah serta mendukung upaya pengendalian kebakaran.
Meski demikian, OMC tidak menggantikan kebutuhan pemadaman langsung, pemantauan titik panas, patroli kawasan rawan, dan koordinasi antarlembaga.
Upaya tersebut tetap diperlukan untuk menangani sumber api dan mencegah kebakaran meluas, terutama ketika kondisi cuaca mendukung penyebaran api.
Selain itu, pengukuran curah hujan, perubahan jumlah titik panas, luas lahan terbakar, serta kualitas udara dapat memberikan gambaran lebih terukur mengenai perkembangan penanganan karhutla.
Data tersebut juga membantu membedakan antara keberhasilan pelaksanaan penerbangan dan dampak nyata operasi terhadap kondisi lingkungan.
TNI Optimalkan Dukungan Udara
Puspen TNI menyatakan bahwa pengerahan pesawat dalam OMC menegaskan komitmen TNI untuk mendukung penanganan karhutla melalui operasi yang terkoordinasi dengan instansi terkait.
TNI juga terus mengoptimalkan dukungan operasional guna membantu penanganan kebakaran dan mengurangi dampak kabut asap bagi masyarakat di wilayah terdampak.
Koordinasi antarlembaga menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi, mengingat penanganan karhutla membutuhkan dukungan dari berbagai unsur sesuai tugas dan kewenangannya.
Di sisi lain, kesiapan armada, perencanaan penerbangan, ketersediaan bahan semai, dan pemantauan cuaca turut menunjang kelancaran pelaksanaan OMC.
Namun, keterangan yang tersedia belum merinci instansi mitra yang terlibat, wilayah penerbangan setiap pesawat, maupun hasil evaluasi operasi pada 25 Oktober 2026.
Dengan demikian, informasi mengenai dampak operasi terhadap kondisi karhutla di Kalimantan masih memerlukan dukungan data lanjutan yang dapat diverifikasi.
Pengerahan lebih dari 10 ton bahan semai tersebut menunjukkan skala dukungan udara yang TNI berikan dalam upaya penanganan bencana lingkungan.
Selanjutnya, pemantauan cuaca dan perkembangan karhutla diperlukan untuk menilai manfaat operasi secara objektif, sekaligus memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat mengenai hasil penanganan kebakaran hutan dan lahan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

