TNI dan ADF Mantapkan Latihan Pendaratan Amfibi di Pantai Banongan
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 41 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Situbondo – Prajurit Tentara Nasional Indonesia (TNI) bersama Angkatan Bersenjata Australia atau Australian Defence Force (ADF) memantapkan latihan operasi pendaratan amfibi di Pantai Banongan, Situbondo, Jawa Timur, Rabu (14/10/2026).
Latihan dalam rangka Latihan Gabungan Bersama (Latgabma) Keris Woomera 2026 tersebut menjadi persiapan menjelang demonstrasi pendaratan amfibi yang dijadwalkan berlangsung Kamis (15/10/2026).
Kegiatan ini melibatkan prajurit Komando Pasukan Katak (Kopaska), Batalyon Intai Amfibi (Taifib), Korps Marinir TNI Angkatan Laut, serta tim pengintai ADF.
Selain unsur laut dan darat, latihan tersebut mengerahkan pesawat Super Tucano TNI Angkatan Udara dan PC-21 ADF untuk mendukung simulasi bantuan udara bagi pasukan di darat.
Melalui rangkaian skenario itu, kedua angkatan bersenjata menguji koordinasi unsur laut, darat, dan udara sebelum memperagakan operasi pendaratan amfibi di hadapan pengamat.
Infiltrasi dan Pengamanan Pantai Jadi Tahap Awal
Rangkaian latihan dimulai dengan infiltrasi tim Kopaska, Taifib, dan pengintai ADF dari kapal HMAS Choules.
Dalam skenario tersebut, para personel menggunakan teknik penyelaman bawah air dan renang taktis untuk mendekati wilayah pantai yang menjadi sasaran operasi.
Setelah mencapai area yang ditentukan, tim melaksanakan simulasi pembersihan ranjau dan pengamanan pantai pendaratan.
Tahap ini menjadi bagian penting dalam skenario latihan karena pasukan harus menyiapkan jalur masuk sebelum unsur utama bergerak menuju sasaran.
Selanjutnya, pesawat Super Tucano TNI AU dan PC-21 ADF melaksanakan simulasi Close Air Support (CAS) atau dukungan udara jarak dekat.
Simulasi tersebut menggambarkan koordinasi antara unsur udara dan pasukan darat dalam mendukung tahapan operasi sesuai skenario latihan.
Kehadiran kedua jenis pesawat juga memberikan ruang bagi personel untuk menyelaraskan prosedur komunikasi dan koordinasi lintas matra selama latihan berlangsung.
Namun, keterangan yang tersedia tidak merinci jumlah pesawat, jumlah personel, maupun parameter evaluasi yang digunakan dalam setiap tahapan latihan.
Karena itu, latihan ini lebih tepat dipahami sebagai pemantapan prosedur menjelang demonstrasi, bukan sebagai bukti terukur mengenai peningkatan kemampuan operasional kedua angkatan bersenjata.
Tiga Gelombang Pendaratan Menuju Sasaran
Setelah simulasi dukungan udara, pasukan Marinir TNI AL dan ADF melaksanakan pendaratan dalam tiga gelombang.
Dalam skenario tersebut, pasukan menggunakan perahu karet, kapal pendarat, serta ponton pengangkut kendaraan untuk mencapai pantai.
Penggunaan beberapa sarana pendaratan memberikan gambaran mengenai koordinasi pergerakan personel dan kendaraan dari unsur laut menuju wilayah darat.
Setelah mendarat, pasukan bergerak untuk merebut dua sasaran yang dalam skenario latihan diberi nama sasaran A dan sasaran B.
Pasukan kemudian melaksanakan konsolidasi setelah menyelesaikan tahapan perebutan sasaran sesuai alur latihan.
Rangkaian tersebut menguji keterpaduan gerakan pasukan sejak infiltrasi awal, pengamanan pantai, dukungan udara, pendaratan utama, hingga konsolidasi.
Selain kemampuan individu, setiap tahapan membutuhkan koordinasi antarsatuan agar pergerakan unsur laut, darat, dan udara mengikuti rencana yang sama.
Dalam operasi amfibi, penyelarasan prosedur menjadi perhatian karena setiap unsur menjalankan fungsi berbeda, tetapi harus mendukung tujuan operasi yang terintegrasi.
Meski demikian, informasi resmi yang tersedia belum memuat hasil penilaian terhadap kecepatan pendaratan, tingkat keberhasilan setiap sasaran, atau catatan evaluasi teknis latihan.
Publik karena itu belum dapat mengukur capaian latihan secara kuantitatif hanya berdasarkan rangkaian kegiatan yang dilaporkan.
Perkuat Interoperabilitas TNI dan Australia
Latihan di Pantai Banongan menjadi bagian dari upaya TNI dan ADF menyelaraskan prosedur taktis dalam Latgabma Keris Woomera 2026.
Melalui interaksi langsung di lapangan, personel kedua negara berlatih mengoordinasikan pergerakan pasukan dan dukungan udara dalam satu rangkaian skenario operasi.
Interoperabilitas menjadi salah satu aspek penting dalam latihan bersama karena melibatkan kesesuaian prosedur, komunikasi, serta pemahaman tugas antarsatuan.
Selain itu, latihan memberikan kesempatan bagi personel untuk mengenali pola kerja masing-masing unsur ketika menghadapi skenario yang membutuhkan koordinasi lintas matra dan lintas negara.
Pemantapan pada Rabu (14/10/2026) juga memiliki kaitan langsung dengan demonstrasi pendaratan amfibi yang dijadwalkan berlangsung sehari kemudian.
Dengan demikian, kegiatan tersebut berfungsi sebagai tahap persiapan untuk memastikan setiap unsur memahami urutan kegiatan dan tanggung jawabnya dalam demonstrasi.
Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) menyampaikan rangkaian kegiatan tersebut sebagai bagian dari Latgabma Keris Woomera 2026.
Melalui latihan ini, TNI menegaskan upaya meningkatkan interoperabilitas dengan Australia sekaligus memperkuat kerja sama pertahanan kedua negara.
Adapun hasil akhir pemantapan latihan dan pelaksanaan demonstrasi pada Kamis (15/10/2026) masih memerlukan keterangan lanjutan untuk memberikan gambaran mengenai capaian kegiatan secara menyeluruh.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

