ISTAF Serahkan Hak Tuan Rumah Piala Dunia Sepak Takraw 2027, Apa Persiapan Indonesia?
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 13 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – Federasi Sepak Takraw Internasional (ISTAF) resmi menyerahkan sertifikat hak tuan rumah Piala Dunia Sepak Takraw 2027 kepada Indonesia di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, Jumat (23/10/2026).
Ketua Umum Pengurus Besar Persatuan Sepak Takraw Indonesia (PB PSTI), Prof. Dr. Suranto, menerima sertifikat tersebut sebagai bagian dari persiapan Indonesia menggelar kejuaraan dunia pada 24 Mei hingga 5 Juni 2027 di Jakarta.
Penyerahan sertifikat itu menandai kepercayaan ISTAF kepada Indonesia sekaligus menjadi momentum bagi PB PSTI untuk mempercepat persiapan penyelenggaraan dan pembinaan atlet nasional.
Suranto menegaskan, PB PSTI segera memperkuat koordinasi dengan pemerintah, organisasi olahraga, pengelola arena pertandingan, serta unsur keamanan demi mendukung kelancaran kejuaraan internasional tersebut.
“Dengan adanya sertifikat ini, kami akan berkoordinasi dengan stakeholder yang ada, yaitu Kemenpora, KOI, KONI, dan yang lainnya, sehingga kami bisa melaksanakan World Cup ini dengan lancar dan sukses,” ujar Suranto.
Selain menyiapkan kebutuhan penyelenggaraan, PB PSTI juga menargetkan prestasi maksimal dengan membidik medali emas di hadapan publik sendiri.
ISTAF Percayakan Penyelenggaraan kepada Indonesia
Penyerahan sertifikat berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, di Hotel Borobudur, Jakarta Pusat, dengan Suranto mewakili PB PSTI dalam persiapan kejuaraan dunia tersebut.
Melalui kepercayaan ISTAF, Indonesia akan menggelar turnamen internasional selama 13 hari, mulai 24 Mei hingga 5 Juni 2027.
Karena jadwal pertandingan semakin dekat, PB PSTI perlu mempercepat koordinasi untuk memastikan kesiapan lokasi, kepanitiaan, fasilitas, dan kebutuhan teknis.
Suranto mengatakan, waktu persiapan yang tersisa sekitar tujuh bulan menuntut komunikasi intensif dengan seluruh pemangku kepentingan.
“Karena waktunya tersisa kurang lebih tujuh bulan, kami harus mempercepat rapat-rapat dengan semua pihak sehingga pelaksanaan World Cup ini bisa berjalan dengan lancar dan sukses,” kata Suranto.
Pernyataan tersebut menegaskan bahwa penyerahan sertifikat menjadi awal dari rangkaian pekerjaan untuk memastikan kesiapan Indonesia sebagai penyelenggara.
Oleh karena itu, PB PSTI memprioritaskan koordinasi lintas lembaga agar setiap kebutuhan turnamen mendapat perhatian sesuai tanggung jawab masing-masing pihak.
PB PSTI Matangkan Venue dan Pengamanan
Sebagai langkah awal, PB PSTI telah berkoordinasi dengan pengelola Gelora Bung Karno (GBK), Senayan, untuk menjajaki kesiapan lokasi pertandingan.
Selain itu, PB PSTI akan berkoordinasi dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora), Komite Olimpiade Indonesia (KOI), serta Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI).
Koordinasi tersebut bertujuan menyelaraskan dukungan kelembagaan dengan kebutuhan penyelenggaraan Piala Dunia Sepak Takraw 2027.
Di sisi lain, PB PSTI merencanakan komunikasi dengan Mabes Polri dan TNI untuk membahas pengamanan selama turnamen berlangsung.
Langkah ini penting karena penyelenggara harus memperhitungkan kebutuhan peserta, perangkat pertandingan, fasilitas, serta keamanan selama kejuaraan.
Meski demikian, PB PSTI masih perlu mematangkan rincian teknis, pembagian tanggung jawab, dan kebutuhan operasional bersama seluruh pihak terkait.
Dengan persiapan yang terarah, penyelenggara diharapkan mampu mengantisipasi kebutuhan turnamen sejak tahap perencanaan hingga pelaksanaan.
ISTAF Perkirakan 500 Peserta Hadiri Kejuaraan
Sekretaris Jenderal ISTAF, Datuk Halim Abdul Kadir, memperkirakan sedikitnya 500 atlet, pelatih, dan manajer dari berbagai negara akan mengikuti kejuaraan dunia di Jakarta.
Selain peserta dan pendamping, hampir 80 personel teknis internasional diperkirakan mendukung pelaksanaan pertandingan.
Ofisial teknis nasional Indonesia juga akan membantu operasional kejuaraan sesuai kebutuhan penyelenggara.
Jumlah tersebut menuntut koordinasi yang cermat, terutama untuk mengatur jadwal pertandingan, fasilitas, dan kebutuhan teknis selama kompetisi.
Halim menyampaikan apresiasi kepada PB PSTI, khususnya Suranto, atas kesediaan Indonesia menjadi tuan rumah Piala Dunia Sepak Takraw 2027.
Ia berharap PB PSTI segera memperkuat koordinasi dengan pemerintah guna membahas dukungan penyelenggaraan sekaligus persiapan atlet nasional.
Selain itu, Halim mengharapkan KONI Pusat dan KOI mendukung kebutuhan kontingen Indonesia, terutama anggaran latihan menjelang kompetisi.
Namun, keterangan yang tersedia belum merinci besaran anggaran maupun bentuk dukungan dari masing-masing lembaga.
Karena itu, kepastian dukungan kelembagaan dan pembiayaan masih menjadi bagian penting dalam persiapan menuju kejuaraan dunia.
ISTAF Dorong Peningkatan Kualitas Wasit Indonesia
Selain mempercayakan penyelenggaraan kepada Indonesia, ISTAF mendorong peningkatan peran perangkat pertandingan nasional dalam kompetisi internasional.
Halim mengatakan ISTAF akan bekerja sama dengan PB PSTI untuk mengidentifikasi sedikitnya 25 wasit dan asisten wasit yang berpotensi mendukung kejuaraan di Jakarta.
Menurut Halim, para calon perangkat pertandingan tersebut telah menjalani pelatihan selama lima bulan terakhir.
Kemampuan berbahasa Inggris juga menjadi perhatian agar para wasit mampu berkomunikasi dalam lingkungan pertandingan internasional.
Selanjutnya, ISTAF memutuskan mengirim enam wasit putra dan putri Indonesia untuk bertugas dalam kejuaraan sepak takraw di Manila, Filipina, pada November 2026.
Penugasan tersebut memberi kesempatan kepada para wasit untuk menambah pengalaman internasional sebelum mendukung penyelenggaraan turnamen di Jakarta.
Dengan demikian, persiapan Indonesia tidak hanya menyangkut fasilitas dan atlet, tetapi juga peningkatan kapasitas sumber daya manusia.
PB PSTI Bidik Emas melalui Persiapan Atlet
Di bidang prestasi, PB PSTI merencanakan pengiriman 36 atlet untuk memperkuat Indonesia dalam Piala Dunia Sepak Takraw 2027.
Komposisi tersebut mencakup 18 atlet putra dan 18 atlet putri yang akan mengikuti empat nomor pertandingan.
Suranto menegaskan, Indonesia harus memanfaatkan status tuan rumah untuk mengejar prestasi, bukan sekadar menyelenggarakan turnamen dengan sukses.
“Yang realistisnya, kami wajib mendapatkan emas. Apalagi kami sebagai tuan rumah, maka kami harus mendapatkan atlet yang potensial,” kata Suranto.
Untuk mendukung target tersebut, PB PSTI telah menyelenggarakan liga sepak takraw di lima zona guna memantau kemampuan pemain potensial.
Selanjutnya, PB PSTI menjadwalkan liga utama pada 26–30 November 2026 sebagai ajang evaluasi bagi pelatih dalam menilai performa atlet.
Hasil kompetisi domestik itu akan menjadi salah satu pertimbangan dalam menyusun komposisi tim nasional.
PB PSTI juga merencanakan pemusatan latihan nasional mulai awal 2027 untuk meningkatkan kesiapan atlet menjelang kejuaraan dunia.
Selain itu, organisasi tersebut merencanakan uji coba internasional, termasuk di Filipina pada November 2026.
Melalui kompetisi, pemusatan latihan, dan uji coba, tim pelatih dapat mengevaluasi kemampuan pemain serta mematangkan strategi menghadapi lawan dari berbagai negara.
PB PSTI juga akan mempertimbangkan potensi atlet dari liga domestik dan kerangka tim yang sebelumnya mengikuti Asian Games.
Penyerahan Sertifikat Jadi Awal Persiapan Menuju 2027
Penyerahan sertifikat oleh ISTAF pada 23 Oktober 2026 menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk memperkuat kesiapan sebagai tuan rumah kejuaraan dunia sepak takraw.
Namun, kepercayaan tersebut menuntut langkah konkret dalam menyiapkan arena pertandingan, pengamanan, perangkat teknis, pembiayaan, dan atlet nasional.
Dengan jadwal kejuaraan pada 24 Mei hingga 5 Juni 2027, PB PSTI perlu menjaga koordinasi dengan seluruh pihak agar persiapan berjalan sesuai rencana.
Pada saat yang sama, pembinaan atlet harus berjalan seiring dengan persiapan penyelenggaraan agar Indonesia mampu bersaing di hadapan pendukung sendiri.
Keberhasilan Indonesia nantinya bergantung pada kesiapan penyelenggara menjalankan turnamen dan kemampuan atlet nasional memperjuangkan target medali emas.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

