TNI–ADF Uji Ketahanan Siber dalam Latihan Keris Woomera 2026
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 55 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Baluran – TNI dan Angkatan Bersenjata Australia (Australian Defence Force/ADF) menguji kemampuan pertahanan siber melalui simulasi serangan dan respons insiden digital dalam Latihan Gabungan Bersama Keris Woomera 2026 di Pusat Latihan Tempur (Puslatpur) 5 Marinir, Baluran, Jumat (16/10/2026).
Latihan ini menguji ketahanan infrastruktur digital, mulai dari pendeteksian kerentanan sistem hingga penanganan aktivitas mencurigakan yang berpotensi mengganggu keamanan jaringan.
Dalam skenario tersebut, TNI Red Team berperan sebagai pihak penyerang, sedangkan ADF Blue Team bertugas mendeteksi, menganalisis, dan merespons ancaman terhadap jaringan.
Simulasi tersebut menjadi bagian dari upaya kedua negara meningkatkan interoperabilitas serta koordinasi dalam menghadapi ancaman siber yang semakin kompleks.
Melalui latihan terpadu ini, TNI dan ADF menguji prosedur teknis pertahanan jaringan sekaligus mengukur kemampuan personel dalam membatasi dampak insiden digital.
Simulasikan Eksploitasi Kerentanan Sistem
Dalam pelaksanaannya, TNI Red Team menjalankan skenario pengujian keamanan jaringan dengan memanfaatkan kerentanan sistem operasi Windows.
Tim tersebut melakukan rangkaian simulasi mulai dari identifikasi celah keamanan, peningkatan hak akses, hingga upaya menguasai sistem direktori jaringan.
Rangkaian skenario itu dirancang untuk menguji kemampuan unsur pertahanan dalam mengenali pola aktivitas penyerang dan mengambil tindakan yang sesuai.
Sebagai tim pertahanan, ADF Blue Team menjalankan prosedur Digital Forensics and Incident Response (DFIR) untuk menyelidiki aktivitas mencurigakan serta merespons potensi kompromi sistem.
Tim menganalisis log keamanan, mengidentifikasi indikator kompromi atau Indicator of Compromise (IoC), dan melacak aktivitas yang tidak wajar di dalam jaringan.
Analisis tersebut membantu tim pertahanan menelusuri indikasi gangguan serta menentukan langkah penanganan berdasarkan temuan selama simulasi.
Selain pendeteksian dan analisis, latihan ini menguji kemampuan personel melakukan isolasi jaringan untuk membatasi penyebaran dampak insiden.
Tim juga menyimulasikan penghentian sistem secara terkendali sebagai bagian dari prosedur pengendalian gangguan terhadap infrastruktur digital.
Melalui tahapan tersebut, latihan menguji keterpaduan proses identifikasi ancaman, analisis bukti digital, pembatasan dampak, dan penanganan insiden.
Uji Deteksi, Respons, dan Pemulihan Siber
Latihan Keris Woomera 2026 tidak hanya menguji kemampuan menemukan kerentanan, tetapi juga kesiapan unsur pertahanan dalam merespons serangan secara terkoordinasi.
Dalam skenario pertahanan siber, kecepatan mendeteksi aktivitas mencurigakan menjadi salah satu aspek penting untuk membatasi potensi dampak terhadap jaringan.
Namun, pendeteksian saja tidak cukup karena tim juga perlu menganalisis bukti, menentukan tindakan penanganan, serta mengendalikan gangguan secara tepat.
Karena itu, penerapan prosedur DFIR menjadi bagian penting dalam simulasi yang melibatkan TNI dan ADF tersebut.
Melalui analisis log dan identifikasi IoC, tim pertahanan berlatih menghubungkan temuan teknis dengan aktivitas yang berpotensi mengindikasikan kompromi sistem.
Sementara itu, isolasi jaringan dan penghentian sistem secara terkendali menguji kesiapan personel dalam membatasi dampak ketika skenario serangan berlangsung.
Latihan ini juga memberikan ruang evaluasi terhadap koordinasi antara tim penyerang dan tim pertahanan dalam lingkungan simulasi yang telah ditentukan.
Meski demikian, informasi yang tersedia belum memuat hasil terperinci mengenai tingkat keberhasilan setiap tim, jumlah insiden simulasi, atau capaian teknis yang diukur.
Karena itu, efektivitas latihan perlu merujuk pada hasil evaluasi resmi, bukan semata-mata pada pelaksanaan skenario yang telah direncanakan.
Evaluasi Standar GO/NO-GO
Untuk mengukur pencapaian sasaran latihan, Joint Cyber Command/Exercise Control (JFCyC/EXCON) melaksanakan evaluasi menggunakan standar penilaian GO/NO-GO.
Metode tersebut digunakan untuk menilai apakah unsur yang diuji memenuhi kriteria sasaran latihan berdasarkan ketentuan evaluasi yang ditetapkan.
Evaluasi ini menjadi bagian dari proses pengukuran kesiapan operasional dan kemampuan personel dalam menjalankan prosedur pertahanan siber.
Hasil penilaian dapat menjadi bahan bagi penyelenggara untuk mengidentifikasi aspek yang telah memenuhi sasaran maupun bagian yang masih memerlukan peningkatan.
Namun, bahan keterangan kegiatan ini belum mencantumkan hasil akhir penilaian GO/NO-GO ataupun rincian capaian masing-masing tim.
Dengan demikian, latihan tersebut dapat dipahami sebagai bagian dari pengujian kemampuan dan koordinasi, sementara kesimpulan mengenai tingkat kesiapan operasional memerlukan hasil evaluasi yang lebih terperinci.
Perkuat Interoperabilitas Pertahanan Siber Indonesia–Australia
Pelaksanaan simulasi di Puslatpur 5 Marinir, Baluran, menunjukkan bahwa kerja sama TNI dan ADF dalam Keris Woomera 2026 juga mencakup pengujian kemampuan menghadapi ancaman di ruang digital.
Kerja sama tersebut menitikberatkan pada deteksi, respons, penanganan insiden, serta koordinasi antartim dalam menghadapi skenario serangan siber.
Kemampuan berkoordinasi menjadi aspek penting karena penanganan insiden digital membutuhkan pertukaran informasi dan pemahaman prosedur yang selaras.
Melalui latihan bersama, personel kedua negara berkesempatan menguji mekanisme kerja dalam skenario yang dirancang untuk mengevaluasi kemampuan pertahanan jaringan.
Selain itu, penggunaan standar evaluasi memberikan kerangka untuk menilai pencapaian sasaran latihan secara sistematis.
Kegiatan pada Jumat, 16 Oktober 2026 tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat interoperabilitas pertahanan siber TNI dan ADF dalam mendukung stabilitas keamanan kawasan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

