Lagi-lagi Dapur MBG di Kelurahan Bojong Menteng Jadi Sorotan
Kota Bekasi – Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) Bojong Menteng III yang berlokasi di Jalan Caringin RT 002 RW 006, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawa Lumbu, mulai beroperasi pada Senin (12/1/2026) pukul 11.00 WIB.
Menurut Ardiwidianto, S.H., selaku ketua RW 006 mangatakan, pengelola MBG belum menunjukkan sikap kooperatif terhadap lingkungan sekitar.
Namun, sejak hari pertama beroperasi, keberadaan MBG langsung memantik perhatian warga, Ardi menilai Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) tersebut belum menunjukkan sikap kooperatif terhadap lingkungan sekitar.
Ia menegaskan bahwa Kepala dapur MBG jarang berkomunikasi dengan warga dan belum melibatkan lingkungan secara optimal.
Selain itu, Rizal selaku Kepala SPPG di bawah naungan Yayasan SmartCo Bersama Indonesia, menyampaikan keterangan berbeda.
Ia mengaku telah berkoordinasi dengan RT, RW, kelurahan, hingga kecamatan.
“Kami sudah koordinasi dengan lingkungan bang,” kata Rizal kepada awak media (12/12/2025).
Meski demikian, Rizal hanya menjelaskan peran warga sebatas relawan pekerja di SPPG MBG, Ia pun tetap menegaskan bahwa lingkungan sekitar tidak menghadapi persoalan.
Dugaan Tidak Adanya Saluran Air di SPPG MBG III
Sebaliknya, Ardi kembali mengangkat persoalan teknis yang berpotensi berdampak langsung kepada warga, terutama terkait saluran air.
Ia menyebut dapur MBG tersebut memiliki kendala pada saluran pembuangan.
“Itu bersebelahan dengan PT, tepat di perbatasan. Seharusnya PT yang mengarah ke Pabrik Osung diperbaiki dulu salurannya,” tegas Ardi.
Lebih lanjut, Ardi menilai pihak SPPG MBG membangun komunikasi yang minim dan tidak intens dengan lingkungan.
Menanggapi hal tersebut, Inan selaku petugas keamanan (Security) pada dapur MBG langsung membantah adanya masalah pada saluran pembuangan.
“Saluran pembuangan kami tidak bermasalah,” tegas Inan, Selasa (13/1/2026).
Inan mengaku sebagai warga sekaligus ketua lingkungan di RT/RW 006/002, Kelurahan Bojong Menteng, Kecamatan Rawa Lumbu.
Ia menjelaskan bahwa persoalan saluran muncul karena saluran air milik Inkopol tertutup dan berubah fungsi menjadi jembatan kendaraan.
“Saluran Inkopol dijadikan akses kendaraan, sehingga aliran air tertutup,” jelasnya.
Oleh karena itu, pihak SPPG berencana menemui pengelola Inkopol untuk membahas solusi atas persoalan tersebut.
“Sampai sekarang kami belum sempat bertemu Inkopol. Namun saluran kami tidak tertutup, karena masih ada saluran aliran air ke arah sebaliknya,” tambah Inan (43).
Melalui penjelasan ini, pihak SPPG menegaskan bahwa mereka tetap memiliki saluran pembuangan yang berfungsi.
Perbedaan pandangan antara pengurus lingkungan dan pengelola dapur MBG kini menjadi perhatian warga.
Situasi ini sekaligus menegaskan pentingnya komunikasi terbuka agar keberadaan MBG Bojong Menteng III benar-benar berjalan seiring dengan kepentingan dan kenyamanan lingkungan sekitar.







