Danpusterad Ingatkan Mahasiswa Waspadai Perang Informasi di Era AI
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 15 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kota Bekasi – Danpusterad Letjen TNI Mohamad Hasan mengingatkan mahasiswa agar berpikir kritis, memverifikasi informasi, dan bijak menggunakan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) di tengah meningkatnya tantangan informasi digital.
Pesan tersebut disampaikan saat membuka Silaturahmi Kebangsaan dengan Civitas Akademika di Ballroom Hotel Harison Ultima Bekasi, Jalan Villa Raya, Kota Bekasi, Jawa Barat, Kamis (29/10/2026).
Dalam kegiatan itu, Komandan Pusat Teritorial TNI Angkatan Darat (Danpusterad) menyoroti perubahan pola ancaman di era digital yang tidak hanya berkaitan dengan kekuatan fisik, tetapi juga upaya memengaruhi pemikiran dan perilaku masyarakat melalui informasi.
Menurut Mohamad Hasan, mahasiswa memiliki peran penting dalam menghadapi tantangan tersebut karena mereka berinteraksi dengan beragam informasi melalui media sosial setiap hari.
Ia menilai kemampuan memilah informasi menjadi kebutuhan mendasar agar generasi muda tidak mudah mempercayai kabar yang belum terverifikasi, terlebih ketika informasi tersebut berpotensi memicu perselisihan di tengah masyarakat.
Perang Informasi Menuntut Sikap Kritis
Hasan menjelaskan bahwa perang informasi dan perang kognitif menyasar pola pikir, emosi, serta cara pandang masyarakat. Dalam situasi tersebut, penyebaran hoaks dan disinformasi dapat menimbulkan persoalan apabila masyarakat langsung menerima atau menyebarkannya tanpa pemeriksaan.
Karena itu, ia mendorong mahasiswa untuk membangun kebiasaan memeriksa sumber, menguji kebenaran informasi, dan mempertimbangkan konteks sebelum mengambil kesimpulan.
“Informasi yang ramai diperbincangkan belum tentu benar. Karena itu, kita harus mampu menjadi penjaga kebenaran di ruang digital dengan membiasakan diri memeriksa dan memverifikasi setiap informasi sebelum mempercayai atau menyebarkannya,” tegas Danpusterad.
Pesan tersebut menempatkan literasi digital sebagai bagian penting dari tanggung jawab mahasiswa. Sebab, kecepatan penyebaran informasi melalui media sosial tidak selalu sejalan dengan ketepatan isi maupun kejelasan sumbernya.
Selain itu, perkembangan AI menghadirkan tantangan tersendiri dalam proses pengolahan dan penyebaran informasi. Teknologi tersebut dapat mendukung kegiatan pendidikan dan pengembangan pengetahuan, tetapi penggunaannya tetap membutuhkan penilaian kritis dari penggunanya.
Mahasiswa perlu membedakan informasi yang memiliki dasar jelas dari konten yang sekadar menarik perhatian. Dengan demikian, mereka dapat menghindari penyebaran kabar yang belum teruji dan mengurangi risiko kesalahpahaman di ruang publik.
Bela Negara di Ruang Digital
Dalam sambutannya, Hasan juga menegaskan bahwa bela negara bukan hanya tanggung jawab TNI. Menurut dia, seluruh elemen bangsa, termasuk mahasiswa, memiliki peran dalam menjaga persatuan dan keutuhan nasional.
Di era digital, ia mengaitkan bela negara dengan perilaku bertanggung jawab saat menggunakan media sosial. Sikap kritis, kehati-hatian dalam membagikan informasi, serta penolakan terhadap provokasi menjadi bagian dari upaya menjaga hubungan sosial masyarakat.
Mahasiswa, sebagai bagian dari lingkungan akademik, juga memiliki kesempatan untuk menyebarkan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan. Mereka dapat memulai langkah tersebut melalui kebiasaan berdiskusi secara terbuka, memeriksa fakta, dan menghormati perbedaan pandangan.
Namun, sikap kritis tidak berarti menolak setiap informasi yang berbeda dari keyakinan pribadi. Sebaliknya, mahasiswa perlu menilai informasi berdasarkan sumber, bukti, konteks, dan relevansinya sebelum menerima atau menolaknya.
Hasan turut mengingatkan agar masyarakat mengarahkan pemanfaatan AI untuk mendukung kemajuan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Ia menekankan bahwa teknologi tersebut tidak semestinya digunakan untuk menyebarkan informasi menyesatkan atau merugikan orang lain.
Pemanfaatan AI secara bertanggung jawab membutuhkan pemahaman mengenai kemampuan sekaligus keterbatasannya. Karena itu, pengguna perlu memeriksa kembali hasil yang dihasilkan teknologi tersebut sebelum menjadikannya rujukan atau menyebarkannya kepada masyarakat.
Mahasiswa Didorong Menjadi Agen Perubahan
Lebih lanjut, Hasan berharap mahasiswa mengembangkan kemampuan berpikir kritis atau critical thinking serta memperkuat wawasan kebangsaan. Kedua hal tersebut, menurut dia, penting untuk membentuk generasi yang mampu menghadapi tantangan era digital.
Ia juga mendorong mahasiswa mengambil peran sebagai agen perubahan dan kekuatan intelektual yang memberikan kontribusi positif bagi bangsa dan negara.
Untuk mendukung tujuan tersebut, Hasan mengajak seluruh peserta mengikuti rangkaian kegiatan dengan sungguh-sungguh. Ia meminta mereka menyimak materi dari para narasumber dan terlibat aktif dalam diskusi agar memperoleh pemahaman yang lebih baik mengenai tantangan informasi digital.
Silaturahmi Kebangsaan tersebut diikuti perwakilan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia bersama para dosen. Penyelenggara mengusung tema “Sinergi TNI AD dan Mahasiswa Mewujudkan Generasi Cerdas, Kritis, dan Berdaya Saing sebagai Pemimpin Masa Depan di Era AI dan Perang Informasi”.
Melalui kegiatan ini, Pusterad menekankan pentingnya sinergi antara TNI AD dan kalangan akademisi dalam membangun kesadaran kebangsaan serta kemampuan menghadapi arus informasi.
Pada akhirnya, pesan utama kegiatan tersebut bertumpu pada tanggung jawab setiap pengguna ruang digital. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga mampu memeriksa kebenarannya, menggunakan teknologi secara bijak, dan menjaga persatuan melalui perilaku yang bertanggung jawab.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

