Rabu, 21 Okt 2026
Beranda » OPINI » Ruang Kelas dan Makna Pendidikan yang Sering Terlupakan

Ruang Kelas dan Makna Pendidikan yang Sering Terlupakan

  • account_circle Nadya
  • calendar_month Minggu, 22 Feb 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Jhon Gipedi Nawipa
Mahasiswa Universitas Borobudur

Opini – Di tengah wacana besar tentang krisis mutu pendidikan, biaya kuliah yang terus meningkat, dan tekanan ekonomi yang menghimpit mahasiswa, ruang kelas justru sering dilupakan sebagai inti peradaban akademik.

Padahal, dari ruang kelas sederhana seperti ruang 303A di lantai tiga Gedung A Universitas Borobudur lahir proses pembentukan karakter, nalar kritis, dan integritas.

Pendidikan bukan sekadar soal hadir dan lulus, melainkan tentang bagaimana sistem dan individu bertumbuh bersama secara sehat dan bertanggung jawab.

Saya berasal dari pedalaman Papua Tengah.

Perjalanan menuju bangku kuliah bukanlah proses yang instan.

Ia lahir dari dukungan keluarga, kerja keras, dan keberanian meninggalkan zona nyaman.

Ketika akhirnya dapat menempuh pendidikan di Universitas Borobudur Jakarta, saya menyadari bahwa akses pendidikan tinggi di Indonesia masih menjadi tantangan serius, terutama bagi mahasiswa dari daerah 3T (tertinggal, terdepan, terluar).

Data Badan Pusat Statistik (BPS) dalam beberapa laporan pendidikan menunjukkan bahwa partisipasi pendidikan tinggi di Indonesia belum merata, terutama di wilayah timur Indonesia.

Artinya, ruang kelas di perguruan tinggi bukan sekadar ruang fisik, tetapi simbol kesempatan yang tidak semua orang miliki.

Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menegaskan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat.

Namun fungsi ini hanya akan tercapai apabila proses pembelajaran benar-benar berjalan aktif, partisipatif, dan inklusif.

Di sinilah pengalaman semester tujuh saya menjadi refleksi: pendidikan tidak boleh direduksi menjadi rutinitas administratif. Ia harus menjadi proses pembentukan manusia utuh.

Ruang Diskusi dan Tanggung Jawab Akademik

Di kelas, dosen tidak langsung menyampaikan materi. Kami diminta berdiskusi terlebih dahulu.

Pilihan Editor :  Anto Suroto: Media Penentu Jembatan Bangsa, Pemerintah Harus Jaga Kesejahteraan Wartawan

Metode ini selaras dengan pendekatan pembelajaran aktif (active learning) yang banyak direkomendasikan dalam praktik pendidikan modern.

Diskusi bukan sekadar formalitas; ia melatih mahasiswa berpikir kritis, menguji argumen, dan menghargai perbedaan.

Namun realitasnya, tidak semua mahasiswa nyaman berdiskusi.

Ada yang minder, takut salah, atau merasa tidak cukup mampu.

Ini bukan semata persoalan pribadi, melainkan persoalan sistemik: budaya akademik kita masih sering menempatkan mahasiswa sebagai penerima pasif, bukan subjek aktif.

Permendikbud Nomor 3 Tahun 2020 tentang Standar Nasional Pendidikan Tinggi menegaskan bahwa proses pembelajaran harus bersifat interaktif, holistik, integratif, dan berpusat pada mahasiswa.

Artinya, ruang diskusi bukan pilihan tambahan, melainkan mandat regulatif.

Jika diskusi mati, maka fungsi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan nalar kritis ikut melemah.

Di sisi lain, mahasiswa juga memiliki tanggung jawab.

Kebiasaan datang terlambat, tidak hadir tanpa alasan jelas, atau lebih fokus pada aktivitas di luar akademik daripada kewajiban belajar, adalah bentuk pengabaian terhadap amanah pendidikan.

Kritik ini bukan serangan personal, melainkan refleksi atas gejala yang jamak ditemui di banyak kampus.

Solidaritas sebelas mahasiswa yang rutin berkumpul sebelum masuk kelas menunjukkan bahwa atmosfer akademik sangat dipengaruhi oleh kebersamaan.

Ketika satu per satu absen tanpa komitmen, semangat kolektif ikut menurun.

Ini membuktikan bahwa pendidikan adalah kerja bersama, bukan proyek individual semata.

Tantangan Mahasiswa dan Realitas Sosial

Namun, kita juga tidak boleh menutup mata terhadap realitas sosial mahasiswa.

Banyak yang harus bekerja sambil kuliah. Tekanan ekonomi nyata. Biaya hidup di Jakarta tidak ringan.

Dalam kondisi demikian, sebagian mahasiswa terpaksa membagi fokus antara akademik dan kebutuhan finansial.

Karena itu, kritik terhadap rendahnya partisipasi diskusi atau kehadiran harus dibarengi pemahaman terhadap konteks sosial-ekonomi.

Pilihan Editor :  Peredaran Obat Keras Ilegal Kian Marak di Kota Bekasi, BANN Desak Aparat Bertindak Tegas

Perguruan tinggi perlu menyediakan sistem pendukung yang lebih kuat: beasiswa tepat sasaran, fleksibilitas akademik yang terukur, serta layanan konseling yang memadai.

Lingkungan kampus yang nyaman, pepohonan, taman, ruang belajar yang bersih memang penting untuk kesehatan mental.

Tetapi itu belum cukup.

Yang lebih penting adalah ekosistem akademik yang mendorong keberanian berpendapat tanpa takut dipermalukan.

Mahasiswa juga perlu membangun relasi positif: mendekati teman yang produktif, aktif bertanya, mencatat materi, dan menjalin komunikasi sehat dengan dosen.

Ini bukan sekadar tips personal, melainkan strategi bertahan dalam sistem pendidikan yang kompetitif.

Pendidikan Bukan Sekadar Gelar

Ada kecenderungan sebagian mahasiswa mengejar kuliah hanya demi gelar atau peluang ekonomi.

Tidak ada yang salah dengan ingin hidup sejahtera.

Namun ketika orientasi materi menjadi satu-satunya tujuan, ruh pendidikan bisa hilang.

Perguruan tinggi seharusnya menjadi ruang pembentukan integritas dan tanggung jawab sosial.

Mahasiswa dari berbagai daerah dari Sorong sampai Merauke bertemu bukan hanya untuk belajar teori, tetapi untuk membangun kesadaran kebangsaan.

Sebagai mahasiswa yang berasal dari pedalaman Papua, saya menyadari betul bahwa kesempatan ini bukan hal biasa.

Saya datang dengan keterbatasan bahasa dan ekonomi.

Namun justru di situlah pendidikan menemukan maknanya: sebagai alat mobilitas sosial dan pembebasan intelektual.

Saya berpandangan bahwa kualitas pendidikan tinggi tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan fasilitas, tetapi oleh budaya akademik yang hidup: diskusi yang aktif, solidaritas mahasiswa, dan dosen yang membuka ruang dialog.

Mahasiswa harus berhenti menjadi penonton di ruang kelasnya sendiri.

Perguruan tinggi juga tidak boleh puas hanya dengan administrasi dan angka kelulusan.

Pendidikan harus kembali pada mandat konstitusionalnya: mencerdaskan kehidupan bangsa.

Ruang kelas 303A mungkin sederhana. Namun dari ruang itulah lahir kesadaran bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama antara mahasiswa, dosen, dan institusi.

Pilihan Editor :  APRI Dukung Penuh Pembangunan, Dorong Legalisasi yang Berkeadilan

Jika kita ingin perubahan, maka perubahan itu harus dimulai dari cara kita hadir, berpikir, dan berdiskusi hari ini.

Pendidikan bukan sekadar perjalanan menuju wisuda.

Ia adalah proses membentuk manusia yang mampu berpikir jernih, bersikap kritis, dan bertindak bertanggung jawab bagi bangsa.**/red

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Tags
Avatar photo

Ditulis oleh:

Nadya adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Menarik Dibaca

  • Ketika Prajurit Tak Hanya Menjaga Negeri, Tapi Juga Menjaga Nyawa

    Ketika Prajurit Tak Hanya Menjaga Negeri, Tapi Juga Menjaga Nyawa

    • calendar_month Selasa, 6 Mei 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta — Di tengah kesibukan menjaga pertahanan negara, para prajurit Yonmarhanlan III Jakarta memilih untuk turun tangan—bukan ke medan perang, tapi ke medan kemanusiaan. Bertempat di Rumah Sakit Pusat Angkatan Darat (RSPAD) Gatot Subroto, mereka menggelar aksi donor darah yang sunyi, namun sarat makna. Dengan seragam loreng dan semangat khas Marinir, satu per satu prajurit […]

  • Presiden Prabowo dan Panglima TNI Luncurkan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih

    Presiden Prabowo dan Panglima TNI Luncurkan 80.000 Koperasi Desa Merah Putih

    • calendar_month Selasa, 22 Jul 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Klaten, Jawa Tengah – 21 Juli 2025Sebuah langkah besar untuk membangun ekonomi Indonesia dari akar rumput resmi dimulai. Presiden RI Prabowo Subianto bersama Panglima TNI Jenderal TNI Agus Subiyanto meluncurkan Koperasi Desa Merah Putih di Desa Bentangan, Kecamatan Wonosari, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, Senin (21/7). Tak tanggung-tanggung, sebanyak 80.000 koperasi yang tersebar di desa dan […]

  • Bakamla RI Gerak Cepat ke Aceh, Salurkan 92,2 Ton Bantuan Kemanusiaan

    Bakamla RI Gerak Cepat ke Aceh, Salurkan 92,2 Ton Bantuan Kemanusiaan

    • calendar_month Selasa, 23 Des 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Lhokseumawe, Aceh – Badan Keamanan Laut Republik Indonesia (Bakamla RI) bergerak cepat membantu masyarakat terdampak banjir dan tanah longsor di Aceh. Melalui unsur KN. Pulau Dana-323, Bakamla RI mengirim dan menyalurkan 92,2 ton bantuan kemanusiaan yang tiba di Pelabuhan Lhokseumawe, Selasa (23/12/2025). Letkol Bakamla Umar Dhani memimpin langsung pelayaran misi kemanusiaan tersebut. Setibanya di pelabuhan, […]

  • Sense Laundry Bekasi Buang Air ke Selokan, Pak RT : Kata Mereka Sudah Aman

    Sense Laundry Bekasi Buang Air ke Selokan, Pak RT : Kata Mereka Sudah Aman

    • calendar_month Jumat, 22 Nov 2024
    • account_circle Redaktur
    • 0Komentar

    Memang kami bekerjasama dengan Sense Laundry namun hanya sebatas penyerapan tenaga kerja untuk prioritas warga sini,

  • 1.658 Komcad Lulus dari SPPI Batch-3 Kolat XIII Makassar

    1.658 Komcad Lulus dari SPPI Batch-3 Kolat XIII Makassar

    • calendar_month Minggu, 13 Jul 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Makassar – Terik matahari tak mampu menyembunyikan haru dan semangat ribuan peserta yang memadati Lapangan Karebosi, Sabtu (12/7/2025). Di sinilah, sejarah kembali ditorehkan: Penutupan Pendidikan Dasar Militer dan Pelatihan Manajerial Komponen Cadangan (Komcad) SPPI Batch-3 Kolat XIII Makassar resmi digelar, dipimpin langsung oleh Pangdam XIV/Hasanuddin, Mayjen TNI Windiyatno. Sebanyak 1.658 peserta dari tiga matra pelatihan—Rindam […]

  • Misteri Penembakan Habib Bahar Tanpa Peluru dan Saksi Mata

    Misteri Penembakan Habib Bahar Tanpa Peluru dan Saksi Mata

    • calendar_month Senin, 15 Mei 2023
    • account_circle Redaktur
    • 0Komentar

    Semoga kasus ini dapat menjadi momentum bagi kita untuk lebih memperhatikan dan mendiskusikan isu-isu yang sensitif dengan cara

expand_less