Jangan Langsung Pakai Celana Dalam Baru, Ini Risikonya
Info – Banyak orang langsung mengenakan celana dalam yang baru dibeli tanpa mencucinya terlebih dahulu.
Kebiasaan ini kerap dianggap sepele karena pakaian terlihat bersih, terlipat rapi, dan masih berlabel.
Namun, dari sisi kebersihan dan kesehatan, tindakan tersebut tidak dianjurkan.
Sejumlah ahli menyebutkan, pakaian dalam baru belum tentu steril dan berpotensi membawa bakteri, jamur, hingga residu bahan kimia dari proses produksi.
Informasi ini antara lain dilaporkan media gaya hidup asal Amerika Serikat, Real Simple.
Dalam ulasannya, disebutkan bahwa pakaian dalam termasuk jenis pakaian yang paling rentan terkontaminasi mikroorganisme dibandingkan jenis pakaian lain.
Pakaian dalam baru dapat mengandung bakteri, jamur, kotoran mikroskopis, serta residu zat kimia yang tidak terlihat secara kasatmata.
Meski terlihat bersih di rak toko, produk tersebut bisa saja telah disentuh atau bahkan dicoba oleh pelanggan lain.
Semua konsumen berisiko, terutama mereka yang memiliki kulit sensitif.
Area tubuh yang tertutup pakaian dalam merupakan bagian yang lembap dan sensitif, sehingga lebih rentan mengalami iritasi, ruam, atau gatal jika terpapar zat asing.
Potensi kontaminasi bisa terjadi di toko saat proses penjualan maupun selama distribusi dan penyimpanan.
Di sejumlah toko, pelanggan diperbolehkan mencoba pakaian dalam dengan syarat tertentu, misalnya dipakai di atas pakaian dalam yang sedang dikenakan atau menggunakan pelindung khusus.
Namun, tidak ada jaminan seluruh pelanggan mematuhi aturan tersebut.
Selain itu, barang retur juga menjadi faktor risiko.
Tidak semua toko menerapkan prosedur sterilisasi terhadap produk yang dikembalikan pembeli.
Beberapa merek besar, seperti Victoria’s Secret, diketahui menggunakan perlakuan ozon untuk membantu mensterilkan barang retur sebelum dijual kembali.
Namun, kebijakan ini tidak berlaku universal di semua gerai atau merek.
Risiko muncul saat pakaian dalam baru langsung bersentuhan dengan kulit tanpa proses pencucian.
Kontak langsung ini memungkinkan bakteri, jamur, atau residu bahan kimia menempel dan memicu reaksi pada kulit.
Selain faktor kemungkinan kontaminasi dari toko, pakaian baru umumnya melewati berbagai proses kimia selama produksi.
Produsen menggunakan bahan tertentu untuk menjaga kain tetap rapi, tidak mudah kusut, serta tahan lembap selama pengiriman dan penyimpanan.
Salah satu bahan yang kerap digunakan adalah urea-formaldehida.
Zat ini berfungsi mencegah kain menjadi lembap dan berjamur.
Namun, residunya dapat memicu iritasi kulit pada sebagian orang.
Bagi pemilik kulit sensitif, paparan zat kimia tersebut berpotensi menyebabkan kemerahan, rasa perih, atau gatal.
Selain bahan kimia, pakaian baru juga sering masih mengandung sisa pewarna kain.
Jika tidak dicuci terlebih dahulu, pewarna tersebut dapat luntur dan berpindah ke kulit.
Kondisi ini tidak hanya menimbulkan perubahan warna pada kulit sementara, tetapi juga berisiko memicu iritasi, terutama pada pakaian dalam berwarna gelap atau mencolok.
Cara Aman Mencuci Pakaian Dalam Baru
Bagaimana langkah yang tepat? Mencuci pakaian dalam baru tidak memerlukan perlakuan ekstrem, tetapi tetap harus dilakukan dengan benar.
Pertama, pisahkan dari cucian lain.
Pakaian dalam mudah tersangkut resleting, kancing, atau pengait, terutama jika berbahan renda atau jaring.
Konsumen disarankan mencucinya secara terpisah atau menggunakan kantong laundry berbahan jaring untuk melindungi serat kain.
Kedua, gunakan deterjen yang lembut.
Pilih deterjen tanpa pewangi dan tanpa pewarna, terutama bagi pemilik kulit sensitif.
Tidak perlu menggunakan pemutih atau deterjen berbahan keras karena dapat merusak serat kain dan meninggalkan residu tambahan.
Ketiga, pilih mode pencucian lembut atau cuci tangan.
Sebagian besar pakaian dalam dibuat dari bahan halus dan elastis.
Mode lembut atau pencucian manual membantu menjaga bentuk dan elastisitasnya agar tetap awet.
Keempat, gunakan air dingin.
Air dingin lebih ramah terhadap serat kain dan membantu mempertahankan warna.
Selain itu, penggunaan air dingin juga lebih hemat energi dibandingkan air panas.
Kelima, jemur secara alami jika memungkinkan.
Sinar matahari membantu mengurangi sisa bakteri yang mungkin masih menempel setelah pencucian.
Pengeringan alami juga lebih lembut dibandingkan mesin pengering yang dapat merusak serat elastis.
Mencuci pakaian dalam sebelum digunakan merupakan langkah sederhana namun penting untuk menjaga kebersihan dan kesehatan kulit.
Konsumen sebaiknya tidak mengabaikan tahap ini demi mengurangi risiko iritasi maupun paparan mikroorganisme yang tidak terlihat.
Kebiasaan kecil ini dapat menjadi bagian dari praktik hidup bersih yang lebih disiplin dan bertanggung jawab.**/Red

Nadya
Nadya adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi






