China Targetkan Rel Kereta Api Dali-Ruili Rampung Sebelum 2030
Info – China menargetkan penyelesaian proyek rel kereta api Dali-Ruili di Provinsi Yunnan sebelum 2030.
Jalur sepanjang sekitar 330 kilometer itu disebut sebagai salah satu proyek perkeretaapian tersulit di dunia karena menembus kawasan Pegunungan Hengduan yang memiliki kondisi geologi dan topografi paling kompleks.
Pemerintah China memproyeksikan rel tersebut akan memperkuat konektivitas regional sekaligus memangkas waktu tempuh dari Kunming menuju perbatasan Myanmar secara signifikan.
Informasi tersebut dilaporkan sejumlah media pemerintah China, antara lain China Daily pada Kamis (12/2/2026), serta diperkuat laporan China News Service dan South China Morning Post.
Proyek Dali–Ruili terbagi menjadi dua tahap pembangunan, yakni Dali–Baoshan dan Baoshan–Ruili.
Jalur ini menghubungkan Dali dan Baoshan hingga mencapai Ruili, kota setingkat kabupaten yang menjadi salah satu pintu gerbang utama perbatasan China dengan Myanmar.
Secara strategis, rel tersebut diposisikan sebagai bagian dari koridor kereta internasional China–Myanmar yang menghubungkan China dengan Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Tahap pertama, Dali–Baoshan sepanjang 133 kilometer, mulai dibangun pada 2008 dan baru rampung pada 2022.
Meski jaraknya relatif pendek dan hanya membutuhkan waktu tempuh sekitar satu jam perjalanan, konstruksinya memakan waktu 14 tahun.
Sebagai perbandingan, jalur dengan panjang serupa di wilayah datar dan stabil secara geologis umumnya dapat diselesaikan dalam tiga tahun.
Lamanya pembangunan tidak lepas dari tantangan medan.
Jalur tersebut membelah kawasan pegunungan terjal dengan lembah dalam, aktivitas tektonik intens, serta formasi batuan tidak stabil.
Kontraktor utama proyek, China Railway Group, menyebut jalur ini melintasi zona patahan besar dan empat sungai utama.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, insinyur membangun 34 jembatan dan 21 terowongan di sepanjang lintasan.
Salah satu titik paling krusial adalah Terowongan Dazhushan sepanjang 14,4 kilometer.
Terowongan ini menembus enam garis patahan geologi dan membutuhkan 12 tahun untuk diselesaikan.
Perusahaan menyatakan proyek tersebut menghadapi hampir seluruh risiko rekayasa utama yang lazim muncul dalam pembangunan terowongan skala besar.
Salah satu hambatan terbesar adalah masuknya air tanah dalam volume masif ke dalam terowongan.
Media pemerintah melaporkan volume air yang masuk setara dengan 156.000 kolam renang standar.
Kondisi itu memaksa pekerja beroperasi dalam situasi terendam air untuk waktu lama, meningkatkan risiko keselamatan dan kompleksitas teknis.
Terowongan Gaoligong dan Target 2028
Tahap kedua, Baoshan–Ruili, dimulai pada 2015 dan kini memasuki fase paling menentukan, yakni pembangunan Terowongan Kereta Gunung Gaoligong sepanjang 34,5 kilometer.
Jika rampung, terowongan ini diproyeksikan menjadi yang terpanjang di Asia.
Pemerintah Provinsi Yunnan melalui unggahan resmi pada Desember lalu menyebut pekerja menggali hingga kedalaman 765 meter di bawah permukaan Pegunungan Hengduan.
Mereka menghadapi suhu panas geotermal ekstrem, tekanan air tinggi, serta batuan rapuh yang dinilai sebagai tantangan kelas dunia.
Menurut laporan China News Service pada 11 Februari, setelah sembilan tahun pembangunan, progres terowongan tersebut baru mencapai sekitar 50 persen dari rencana.
Namun, otoritas dan kontraktor menyatakan percepatan dapat terjadi berkat penerapan teknologi pengeboran terbaru.
Surat kabar provinsi Ethnic Times melaporkan jalur Baoshan–Ruili masuk dalam daftar proyek prioritas yang ditargetkan selesai dalam periode rencana lima tahun China 2026–2030.
Jika sesuai jadwal, terowongan Gaoligong diproyeksikan selesai dan mulai beroperasi pada 2028.
Secara strategis, proyek ini diharapkan memangkas waktu tempuh dari Kunming, ibu kota Provinsi Yunnan, ke Ruili menjadi sekitar 4,5 jam, separuh dari durasi perjalanan saat ini yang mencapai sembilan jam.
Efisiensi tersebut dinilai dapat meningkatkan mobilitas barang dan penumpang di kawasan barat daya China.
Selain itu, rel Dali–Ruili dipandang sebagai bagian penting dari penguatan konektivitas lintas batas China–Myanmar.
Jalur ini berpotensi membuka rute logistik yang lebih cepat dan stabil untuk perdagangan dengan negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara.
Meski demikian, sejumlah pengamat menilai proyek ini tetap menyimpan risiko teknis dan pembengkakan biaya akibat kompleksitas geologi yang belum sepenuhnya teratasi.
Progres yang baru mencapai setengah setelah hampir satu dekade pembangunan pada tahap kedua menunjukkan besarnya tantangan yang dihadapi.
Apabila target penyelesaian sebelum 2030 tercapai, proyek Dali–Ruili akan menjadi tonggak penting dalam sejarah rekayasa perkeretaapian modern.
Jalur ini tidak hanya menguji kapasitas teknologi dan manajemen proyek China, tetapi juga menjadi simbol ambisi negara tersebut dalam memperluas jaringan transportasi lintas kawasan melalui infrastruktur berskala besar dan berisiko tinggi.**/red







