8 Tanaman yang Dipercaya Mengusir Ular dari Rumah, Benarkah Efektif?
- account_circle Firman Ugm
- calendar_month 10 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Kemunculan ular di pekarangan rumah dapat menimbulkan kekhawatiran, terutama ketika lingkungan dipenuhi semak, tumpukan barang, atau tempat yang berpotensi menjadi persembunyian hewan tersebut.
Sejumlah tanaman, seperti marigold, lavender, rosemary, serai, hingga eucalyptus, kerap disebut sebagai pengusir ular alami karena memiliki aroma khas. Tanaman-tanaman tersebut juga dapat memperindah halaman dan menambah variasi penghijauan di sekitar rumah.
Namun, masyarakat perlu memahami bahwa belum ada bukti ilmiah kuat yang menunjukkan bahwa delapan tanaman tersebut dapat mengusir ular secara konsisten atau menjamin rumah terbebas dari ular.
Ular mendatangi suatu lingkungan terutama untuk mencari makanan, tempat berlindung, dan kondisi yang mendukung kelangsungan hidupnya. Karena itu, pengelolaan pekarangan, pengendalian hewan pengerat, serta penutupan celah masuk bangunan merupakan langkah pencegahan yang lebih masuk akal dibandingkan hanya mengandalkan tanaman beraroma tertentu.
Informasi mengenai tanaman pengusir ular perlu dipahami secara proporsional. Tanaman dapat dipilih untuk kebutuhan penghijauan, tetapi fungsinya sebagai penghalau ular tidak boleh dianggap sebagai perlindungan yang sudah terbukti.
Apakah Tanaman Beraroma Bisa Mengusir Ular?
Anggapan bahwa tanaman beraroma kuat dapat mengusir ular umumnya berkaitan dengan kandungan senyawa aromatik atau minyak atsiri pada bagian tertentu tanaman.
Sebagian tanaman memang menghasilkan senyawa yang memengaruhi perilaku serangga atau organisme tertentu. Namun, efek terhadap satu jenis hewan tidak otomatis berlaku terhadap ular.
Ular memiliki sistem sensorik yang berbeda dari manusia. Selain menggunakan penglihatan dan getaran, ular memanfaatkan lidah untuk mengambil partikel kimia dari lingkungan dan menyalurkannya ke organ Jacobson atau organ vomeronasal untuk membantu mengenali isyarat kimia.
Mekanisme tersebut tidak berarti bahwa ular pasti menjauhi tanaman yang aromanya terasa menyengat bagi manusia.
Efek suatu senyawa terhadap ular juga bergantung pada jenis ular, konsentrasi bahan, cara paparan, kondisi lingkungan, dan konteks perilakunya. Bukti bahwa suatu bahan tertentu memengaruhi respons ular dalam kondisi penelitian tidak otomatis membuktikan bahwa tanaman hidup yang ditanam di pekarangan menghasilkan efek pengusiran yang sama.
Oleh karena itu, klaim bahwa aroma tanaman tertentu dapat membuat ular menjauh perlu dibedakan dari bukti pengujian yang benar-benar menunjukkan penurunan kemungkinan ular memasuki rumah.
8 Tanaman yang Kerap Dikaitkan dengan Pengusir Ular
Berikut delapan tanaman yang sering disebut dalam pembahasan mengenai pengusir ular alami, beserta manfaat dan keterbatasannya.
1. Marigold
Marigold merupakan tanaman berbunga dengan warna mencolok, seperti kuning, jingga, dan kemerahan, bergantung pada jenisnya. Tanaman ini kerap digunakan sebagai penghias taman dan pembatas area tanam.
Beberapa jenis marigold juga dikenal dalam praktik berkebun karena kaitannya dengan pengelolaan hama tertentu. Akan tetapi, manfaat tersebut tidak dapat dijadikan bukti bahwa marigold mampu mengusir ular.
Pemilik rumah dapat menanam marigold untuk memperindah pekarangan, terutama di bagian yang memperoleh cahaya matahari memadai dan memiliki drainase yang baik.
Jika digunakan di sekitar rumah, pastikan penataannya tidak menciptakan semak terlalu rapat atau menyulitkan pemeriksaan area tanah. Kebersihan di sekitar tanaman tetap perlu dijaga.
Kesimpulan: marigold layak dipilih sebagai tanaman hias, tetapi belum terbukti sebagai pengusir ular yang dapat diandalkan.
2. Lavender
Lavender dikenal karena bunga berwarna ungu dan aromanya yang digunakan dalam berbagai produk pewangi. Tanaman ini umumnya membutuhkan sinar matahari cukup dan media tanam dengan drainase baik.
Aroma lavender sering dikaitkan dengan upaya menghalau berbagai hewan pengganggu. Namun, klaim bahwa lavender mampu membuat ular menjauh dari rumah belum memiliki dukungan bukti lapangan yang kuat.
Keberadaan lavender tidak menghilangkan sumber makanan ular, tidak menutup celah masuk bangunan, dan tidak mencegah ular berlindung di tumpukan material.
Jika ingin menanam lavender, sesuaikan jenis tanaman dan perawatannya dengan iklim setempat. Kondisi tumbuh yang terlalu lembap dapat menjadi tantangan bagi sejumlah jenis lavender.
Kesimpulan: lavender dapat mempercantik taman dan memberikan aroma khas, tetapi jangan mengandalkannya sebagai penghalau ular.
3. Rosemary
Rosemary merupakan tanaman herba aromatik yang banyak digunakan sebagai bumbu masakan. Daunnya menghasilkan aroma khas ketika diremas atau dipotong.
Karena aromanya kuat, rosemary terkadang direkomendasikan sebagai tanaman yang dapat membantu menghalau ular. Namun, belum ada bukti kuat bahwa menanam rosemary di sepanjang pagar atau tepian halaman mampu mencegah ular memasuki area rumah.
Manfaat yang lebih relevan dalam pengelolaan pekarangan adalah penggunaannya sebagai tanaman herba yang dapat ditata dalam pot atau area khusus.
Letakkan pot di lokasi yang mudah dijangkau untuk perawatan. Pangkas bagian yang tumbuh terlalu lebat dan pastikan area di bawah pot tidak menjadi tempat penumpukan sampah atau barang.
Kesimpulan: rosemary bermanfaat sebagai tanaman herba, tetapi efeknya sebagai pengusir ular belum dapat dipastikan.
4. Serai
Serai merupakan tanaman yang mudah ditemukan di Indonesia dan umum digunakan sebagai bumbu masakan. Tanaman ini memiliki daun panjang serta aroma khas yang berasal dari senyawa aromatiknya.
Serai kerap disebut sebagai pengusir alami karena aromanya dianggap tidak disukai sejumlah hewan. Meskipun demikian, anggapan tersebut tidak membuktikan bahwa serai efektif mengusir ular dari pekarangan.
Serai tetap dapat ditanam sebagai tanaman bumbu sekaligus penghijauan. Pemilik rumah sebaiknya mengatur jarak tanam agar rumpunnya tidak terlalu rapat dan bagian bawah tanaman tetap mudah diperiksa.
Daun kering dan sisa pemangkasan perlu dibersihkan secara berkala. Jangan biarkan rumpun bercampur dengan tumpukan kayu, puing, atau barang yang jarang dipindahkan.
Kesimpulan: serai cocok untuk kebutuhan dapur dan penghijauan, tetapi tidak dapat dijadikan satu-satunya cara mencegah ular.
5. Lidah Mertua
Lidah mertua, yang dikenal dengan nama Inggris snake plant, merupakan tanaman hias berdaun tegak dan relatif mudah dirawat. Tanaman ini sering dipilih untuk mempercantik teras maupun bagian dalam rumah.
Namanya yang mengandung kata snake terkadang menimbulkan anggapan bahwa tanaman ini memiliki hubungan khusus dengan ular atau dapat mengusirnya.
Anggapan tersebut tidak memiliki dasar yang cukup untuk dijadikan pedoman pencegahan ular. Nama umum tanaman tidak menunjukkan bahwa tanaman tersebut mempunyai efek tertentu terhadap perilaku ular.
Lidah mertua dapat dimanfaatkan sebagai tanaman hias, tetapi penempatannya tetap perlu mempertimbangkan akses pemeriksaan di sekitar dinding, pintu, ventilasi, dan sudut bangunan.
Pemilik rumah juga perlu memeriksa keamanan tanaman bagi anak-anak dan hewan peliharaan. Jika bagian tanaman berpotensi tertelan, jauhkan dari jangkauan yang tidak aman.
Kesimpulan: lidah mertua merupakan tanaman hias, bukan penghalang ular yang terbukti efektif.
6. Eucalyptus
Eucalyptus merupakan kelompok tanaman yang dikenal memiliki aroma khas dari senyawa alami pada bagian tertentu tanaman. Daun dan minyaknya dimanfaatkan dalam berbagai keperluan, bergantung pada jenis dan pengolahannya.
Aroma eucalyptus sering dikaitkan dengan klaim pengusir hewan, termasuk ular. Namun, keberadaan aroma tersebut tidak membuktikan bahwa tanaman eucalyptus yang hidup di pekarangan dapat mencegah ular mendekat.
Sebelum menanam eucalyptus, pertimbangkan ukuran tanaman saat dewasa, kebutuhan ruang tumbuh, kondisi tanah, dan jaraknya dari bangunan. Sejumlah jenis dapat tumbuh menjadi pohon besar sehingga kurang sesuai untuk halaman sempit.
Minyak eucalyptus pekat juga tidak boleh disamakan dengan tanaman hidup. Bahan pekat dapat menimbulkan risiko paparan bagi manusia dan hewan peliharaan apabila digunakan secara tidak tepat.
Kesimpulan: eucalyptus dapat dipertimbangkan untuk penghijauan apabila sesuai dengan kondisi lahan, tetapi tidak terbukti sebagai solusi utama untuk mengusir ular.
7. Daffodil
Daffodil merupakan tanaman berbunga yang umumnya dikenal melalui bunga berwarna kuning atau putih. Tanaman ini sering dibahas dalam konteks taman hias dan pengelolaan lingkungan kebun.
Daffodil terkadang dikaitkan dengan upaya mengurangi gangguan hewan pengerat. Hubungan tidak langsung ini kemudian dapat dikaitkan dengan anggapan bahwa berkurangnya hewan pengerat akan membuat ular kehilangan sumber makanan.
Namun, rantai hubungan tersebut tidak menjamin bahwa menanam daffodil dapat mengurangi kehadiran ular. Keberadaan ular juga dipengaruhi oleh jenis mangsa lain, tempat berlindung, dan kondisi lingkungan.
Selain itu, daffodil mengandung senyawa beracun apabila tertelan. Penanamannya perlu mempertimbangkan keberadaan anak-anak dan hewan peliharaan.
Daffodil juga bukan pilihan yang otomatis sesuai untuk semua pekarangan di Indonesia. Kebutuhan tumbuhnya berbeda dari tanaman tropis yang umum dijumpai di lingkungan rumah.
Kesimpulan: daffodil lebih tepat dipandang sebagai tanaman hias dengan persyaratan dan risiko tersendiri, bukan sebagai pengusir ular yang terbukti.
8. Tanaman Beraroma Khas Lainnya
Selain tujuh tanaman tersebut, sejumlah tanaman aromatik lain juga sering disebut dalam berbagai rekomendasi pengusir ular alami.
Klaim tersebut biasanya bertumpu pada aroma yang kuat, kandungan minyak atsiri, atau anggapan bahwa ular tidak menyukai bau tertentu.
Namun, penilaian efektivitas tidak cukup hanya berdasarkan karakter aroma. Diperlukan bukti yang menunjukkan bahwa tanaman atau bahan tertentu benar-benar mengurangi kemungkinan ular mendatangi suatu area dalam kondisi penggunaan yang relevan.
Jika tanaman aromatik dipilih untuk pekarangan, pertimbangkan fungsi utamanya, kesesuaian dengan iklim, kebutuhan perawatan, dan keamanan bagi penghuni rumah.
Jangan menyemprotkan minyak atsiri pekat atau mencampurkan bahan kimia secara sembarangan di sekitar pintu, ventilasi, atau tempat bermain anak dengan tujuan mengusir ular. Efektivitasnya belum tentu terbukti dan penggunaannya dapat menimbulkan risiko lain.
Kesimpulan: tanaman aromatik dapat menjadi bagian dari taman rumah, tetapi aroma kuat tidak bisa dianggap sebagai jaminan bahwa ular akan menjauh.
Cara Mencegah Ular Masuk ke Pekarangan Rumah
Langkah yang lebih dapat dipertanggungjawabkan adalah mengurangi kondisi yang membuat pekarangan menarik bagi ular dan mangsanya.
Panduan dari University of California Statewide Integrated Pest Management Program menyebutkan bahwa tidak ada tanaman yang terbukti dapat mengusir ular secara andal. Pengelolaan lingkungan dan pengurangan tempat persembunyian lebih layak diprioritaskan.
1. Pangkas rumput dan semak secara berkala
Rumput yang tinggi dan semak yang terlalu rapat dapat menyulitkan penghuni rumah melihat keberadaan ular.
Pangkas rumput secara rutin, rapikan tanaman yang tumbuh menempel pada dinding, dan pastikan area di sekitar pintu masuk serta jalur pejalan kaki mudah diperiksa.
Tidak semua tanaman harus dibuang. Yang perlu dihindari adalah pertumbuhan yang terlalu lebat hingga menciptakan banyak tempat persembunyian yang tidak terpantau.
2. Singkirkan tumpukan kayu, batu, dan puing
Tumpukan kayu, batu bata, genteng bekas, pot kosong, dan material bangunan dapat menjadi tempat berlindung bagi ular maupun hewan kecil yang menjadi mangsanya.
Pindahkan barang yang tidak diperlukan dan simpan material yang masih digunakan secara rapi, tidak langsung berserakan di tanah, serta sejauh mungkin dari area aktivitas penghuni rumah.
Jika perlu membersihkan tumpukan lama, gunakan alas kaki tertutup dan sarung tangan kerja yang sesuai. Periksa area dengan hati-hati tanpa memasukkan tangan ke celah yang tidak terlihat.
3. Kendalikan tikus dan sumber makanan lainnya
Sejumlah jenis ular memangsa tikus dan hewan pengerat lain. Karena itu, keberadaan makanan yang mudah dijangkau dapat mendukung kehadiran mangsa, yang pada kondisi tertentu kemudian menarik ular.
Simpan makanan dan pakan hewan dalam wadah tertutup, bersihkan sisa makanan, kelola sampah dengan baik, serta tutup akses yang memungkinkan tikus masuk ke bangunan.
Pengendalian tikus tidak menjamin ular tidak datang karena makanan ular berbeda-beda menurut spesies. Namun, langkah ini membantu mengurangi salah satu faktor yang dapat membuat lingkungan rumah menarik bagi hewan tersebut.
4. Tutup celah masuk bangunan
Periksa celah di bawah pintu, lubang di sekitar pipa, saluran yang tidak terlindungi, serta retakan pada bagian bangunan yang berhubungan langsung dengan tanah.
Tutup celah dengan bahan yang sesuai dengan konstruksinya. Pasang kasa atau pelindung pada lubang ventilasi dan saluran tertentu jika diperlukan, tanpa mengganggu fungsi ventilasi maupun drainase.
Periksa pula gudang, ruang penyimpanan, dan area yang jarang dibuka. Penutupan celah perlu disertai pemeriksaan berkala karena pelindung dapat rusak atau bergeser.
5. Atur taman agar mudah diperiksa
Tanaman hias tetap dapat dipertahankan selama penataannya tidak membuat area sekitar rumah sulit dipantau.
Gunakan jarak tanam yang memungkinkan bagian bawah tanaman terlihat, hindari menumpuk pot di sudut gelap, dan bersihkan daun kering secara berkala.
Periksa pula area dekat pagar, saluran air, gudang, dan tempat penyimpanan barang. Bagian-bagian tersebut perlu mendapat perhatian karena sering luput dari pembersihan rutin.
6. Pertimbangkan penghalang fisik jika risikonya tinggi
Pada lokasi yang sering didatangi ular, penghalang fisik dapat dipertimbangkan sesuai kondisi lahan dan jenis ular setempat.
Pemasangan harus memperhatikan celah di bagian bawah, sambungan, pintu, dan titik pertemuan pagar dengan tanah. Desain yang tidak sesuai dapat menyisakan jalur masuk.
Untuk lokasi dengan kejadian berulang, mintalah saran petugas atau tenaga yang berpengalaman dalam penanganan satwa liar. Jangan menganggap pagar biasa otomatis dapat mencegah semua jenis ular.
Apa yang Harus Dilakukan Jika Menemukan Ular?
Upaya pencegahan perlu disertai langkah keselamatan jika ular telanjur muncul di pekarangan atau masuk ke rumah.
1. Jaga jarak dan jangan mendekat
Jangan mencoba menyentuh, menangkap, memukul, atau membunuh ular. Jangan menganggap ular aman hanya karena ukurannya kecil atau bentuk kepalanya tampak tertentu.
2. Jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan
Batasi akses ke area tempat ular terlihat. Beri tahu penghuni rumah agar tidak melewati lokasi tersebut sampai situasi aman.
3. Hubungi petugas yang kompeten
Jika ular berada di dalam rumah, dekat jalur aktivitas, atau tidak dapat dibiarkan tanpa risiko, hubungi petugas pemadam kebakaran atau layanan penanganan satwa liar setempat yang menerima laporan tersebut.
4. Segera cari pertolongan medis jika terjadi gigitan
Jauhkan korban dari ular, batasi gerakan anggota tubuh yang tergigit, dan segera bawa ke fasilitas kesehatan. Jangan menyayat luka, mengisap bisa, memasang torniket ketat, atau mengandalkan ramuan tradisional.
Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menekankan pentingnya membawa korban gigitan ular yang dicurigai berbisa ke fasilitas kesehatan sesegera mungkin. Penanganan medis yang tepat jauh lebih penting daripada mencoba mengobati gigitan sendiri.
Jika memungkinkan, amati ular dari jarak aman untuk membantu petugas mengenali jenisnya. Jangan mengambil foto dengan cara mendekat atau mengambil risiko tambahan.
Kesalahan yang Perlu Dihindari Saat Mengusir Ular
Beberapa tindakan yang terlihat praktis justru dapat meningkatkan risiko bagi penghuni rumah.
Mengandalkan tanaman sebagai perlindungan utama. Tanaman beraroma tidak menggantikan pemeriksaan lingkungan, pengendalian tikus, dan penutupan celah bangunan.
Menggunakan kapur barus atau bahan kimia secara sembarangan. Kapur barus yang mengandung naftalena atau paradiklorobenzena dapat membahayakan manusia dan hewan peliharaan. Penggunaan bahan tersebut sebagai pengusir ular tidak dapat dianggap sebagai metode yang aman dan terbukti efektif.
Mencoba menangkap ular sendiri. Upaya memegang, memindahkan, atau membunuh ular meningkatkan risiko kontak langsung dan gigitan. Penanganan sebaiknya diserahkan kepada petugas yang terlatih.
Menganggap semua ular berbisa atau tidak berbisa berdasarkan penampilan. Identifikasi yang keliru dapat menimbulkan rasa aman palsu. Jika jenis ular tidak diketahui, perlakukan sebagai potensi bahaya dan jaga jarak.
Membersihkan semak tanpa memeriksa kondisi sekitar. Jangan memasukkan tangan ke balik tumpukan kayu, batu, atau barang yang tidak terlihat bagian dalamnya. Gunakan alat yang sesuai dan hindari kontak langsung dengan area yang berpotensi menjadi persembunyian ular.
Apakah Ada Perubahan Terbaru dalam Bukti tentang Pengusir Ular?
Penelitian mengenai bahan pengusir ular terus berkembang, sehingga klaim tentang bahan tertentu perlu dinilai berdasarkan jenis penelitian, spesies ular yang diuji, dan kondisi penggunaannya.
Sebuah artikel penelitian yang diterbitkan dalam Frontiers in Public Health pada 2026 membahas keamanan dan efektivitas produk pengusir ular di Afrika sub-Sahara.
Kajian tersebut menyoroti keterbatasan bukti efektivitas banyak produk yang dipasarkan, termasuk produk berbahan minyak esensial.
Penulis juga membedakan hasil pengujian dalam kondisi terkendali dari kemampuan suatu produk mencegah ular mendekati rumah dalam situasi nyata.
Temuan itu tidak berarti bahwa semua senyawa aromatik pasti tidak memiliki pengaruh terhadap setiap spesies ular.
Namun, bukti mengenai respons terhadap senyawa tertentu tidak cukup untuk menyimpulkan bahwa menanam tanaman penghasil aroma yang sama akan efektif di pekarangan.
Sampai terdapat bukti yang lebih kuat dan relevan dengan kondisi penggunaan, masyarakat sebaiknya tidak menjadikan tanaman, minyak atsiri, perangkat ultrasonik, atau produk pengusir komersial sebagai satu-satunya perlindungan.
Panduan pencegahan yang tersedia dari lembaga penyuluhan dan pengelolaan hama juga konsisten menempatkan pengelolaan habitat, pengurangan tempat persembunyian, pengendalian mangsa, serta penutupan akses masuk sebagai langkah utama.
Kesimpulan
Marigold, lavender, rosemary, serai, lidah mertua, eucalyptus, daffodil, dan tanaman beraroma khas lainnya dapat dipilih untuk memperindah pekarangan atau memenuhi kebutuhan berkebun.
Namun, belum ada bukti kuat bahwa tanaman-tanaman tersebut dapat diandalkan untuk mengusir ular dari rumah.
Cara yang lebih masuk akal adalah menjaga rumput tetap pendek, memangkas semak, menyingkirkan tumpukan barang, mengendalikan tikus, serta menutup celah yang memungkinkan ular masuk ke bangunan.
Jika ular ditemukan di sekitar rumah, jangan mencoba menangkap atau membunuhnya sendiri.
Jaga jarak dan hubungi petugas yang kompeten, terutama jika ular berada di dalam bangunan atau mengancam keselamatan penghuni.
Dengan demikian, tanaman sebaiknya dipandang sebagai bagian dari penghijauan, bukan sebagai jaminan keamanan dari ular.
Pencegahan yang paling bertanggung jawab menggabungkan lingkungan yang terawat, akses bangunan yang terlindungi, dan perilaku aman saat berhadapan dengan satwa liar.
Sumber dan Referensi
- University of California Statewide Integrated Pest Management Program – Rattlesnakes: Home and Landscape.
- University of Maryland Extension – Snakes in the Yard!.
- Mississippi State University Extension Service – Reducing Snake Problems Around Homes.
- World Health Organization – Snakebite.
- Wampande LN dan rekan-rekan – Snake repellent safety and efficacy in Sub-Saharan Africa: What is the evidence?, Frontiers in Public Health, 2026.
Referensi tersebut digunakan untuk mendukung pembahasan tentang keterbatasan pengusir ular dan langkah pencegahan.
Daftar delapan tanaman di atas merupakan tanaman yang kerap dikaitkan dengan klaim pengusiran ular, bukan daftar tanaman yang telah terbukti efektif mengusir ular di lingkungan rumah Indonesia.
FAQ: Tanaman Pengusir Ular dari Rumah
Apakah tanaman tertentu terbukti efektif mengusir ular dari rumah?
Belum ada bukti ilmiah kuat bahwa tanaman seperti marigold, lavender, rosemary, serai, lidah mertua, eucalyptus, dan daffodil dapat diandalkan untuk mengusir ular dari rumah. Tanaman tersebut sebaiknya dipilih untuk kebutuhan penghijauan, bukan sebagai perlindungan utama terhadap ular.
Apakah serai dan lavender bisa mencegah ular masuk ke pekarangan?
Serai dan lavender memiliki aroma khas, tetapi belum ada bukti kuat bahwa menanam keduanya di pekarangan dapat mencegah ular masuk secara konsisten. Pencegahan lebih baik dilakukan dengan menjaga kebersihan halaman, mengurangi tempat persembunyian, dan menutup celah masuk bangunan.
Mengapa ular bisa masuk ke pekarangan rumah?
Ular dapat mendatangi pekarangan untuk mencari makanan, tempat berlindung, atau kondisi lingkungan yang mendukung kelangsungan hidupnya. Tumpukan kayu, puing, semak lebat, serta keberadaan tikus dapat menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Bagaimana cara mencegah ular masuk ke rumah?
Pangkas rumput dan semak secara berkala, singkirkan tumpukan barang yang tidak diperlukan, kendalikan tikus, simpan makanan dalam wadah tertutup, serta periksa dan tutup celah di bawah pintu, sekitar pipa, ventilasi, dan bagian bangunan yang terhubung dengan tanah.
Apakah kapur barus atau minyak aromatik aman untuk mengusir ular?
Kapur barus dan minyak aromatik tidak boleh dianggap sebagai metode pengusir ular yang terbukti efektif. Bahan tertentu dapat membahayakan manusia dan hewan peliharaan apabila digunakan secara tidak tepat. Hindari penggunaan bahan kimia atau minyak pekat secara sembarangan.
Apa yang harus dilakukan jika menemukan ular di rumah?
Jaga jarak, jauhkan anak-anak dan hewan peliharaan, serta jangan mencoba menangkap atau membunuh ular. Hubungi petugas pemadam kebakaran atau layanan penanganan satwa liar setempat yang menerima laporan. Jika terjadi gigitan, segera cari pertolongan medis dan jangan menyayat luka, mengisap bisa, atau memasang torniket ketat.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Firman Ugm
Firman Ugm adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

