Kamis, 29 Okt 2026
Gensa Media Indonesia » HUKUM » Kasus Dugaan Pemerkosaan Tahanan Wanita oleh Polisi: Dorongan Penghapusan Penahanan di Kantor Kepolisian

Kasus Dugaan Pemerkosaan Tahanan Wanita oleh Polisi: Dorongan Penghapusan Penahanan di Kantor Kepolisian

  • account_circle Nadya
  • calendar_month Minggu, 20 Apr 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Pacitan – Seorang anggota Kepolisian Resor (Polres) Pacitan, Jawa Timur, diduga melakukan kekerasan seksual terhadap seorang tahanan perempuan di lingkungan kantor polisi.

Peristiwa ini kembali memicu sorotan publik terhadap praktik penahanan di kantor kepolisian dan mendorong desakan pembaruan sistem peradilan pidana di Indonesia.

Berdasarkan informasi yang diperoleh dari berbagai pemberitaan media, seorang anggota polisi berpangkat Aiptu berinisial LC, yang menjabat sebagai Pejabat Sementara Kepala Satuan Tahanan dan Barang Bukti Polres Pacitan, diduga melakukan tindak kekerasan seksual terhadap seorang perempuan berinisial PW (21).

Kejadian ini dilaporkan terjadi pada rentang waktu 4 hingga 6 April 2025.

Korban merupakan seorang tahanan yang sedang menjalani proses hukum terkait dugaan kasus perdagangan orang.

Dugaan pemerkosaan tersebut diduga dilakukan di dalam fasilitas Polres Pacitan, tempat korban ditahan selama proses penyidikan.

Pelaku merupakan anggota aktif kepolisian yang memiliki kewenangan langsung atas pengelolaan tahanan dan barang bukti.

Sementara korban adalah perempuan muda yang berstatus sebagai tersangka.

Peristiwa ini menempatkan institusi kepolisian dalam sorotan tajam, khususnya dalam hal pengawasan internal dan perlindungan hak asasi tahanan.

Kejadian dugaan kekerasan seksual tersebut berlangsung pada awal April 2025 di lingkungan Polres Pacitan, Jawa Timur.

Lokasi kejadian berada dalam kendali langsung institusi kepolisian, tempat seharusnya hukum ditegakkan dan hak individu dilindungi.

Kasus ini memantik kemarahan publik dan kecaman dari berbagai pihak karena melibatkan pelanggaran serius terhadap hak asasi manusia oleh aparat penegak hukum.

Institute for Criminal Justice Reform (ICJR) mengecam keras tindakan yang dilakukan oleh oknum polisi tersebut.

“Polisi seharusnya menjadi pelindung masyarakat, bukan pelaku kekerasan. Kekerasan seksual adalah pelanggaran berat terhadap martabat dan hak korban. Harus ada proses hukum yang tegas terhadap pelaku, termasuk kewajiban membayar restitusi kepada korban,” tegas pernyataan resmi ICJR.

Baca juga :  Banding UGM Ditolak PTUN, Dokumen Akademik Jokowi Tetap Berstatus Informasi Terbuka

ICJR mendesak agar proses hukum terhadap terduga pelaku dilakukan secara transparan, tidak hanya melalui jalur etik internal kepolisian, tetapi juga pidana.

Selain itu, ICJR meminta negara untuk segera memenuhi hak-hak korban sesuai dengan ketentuan dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2022 tentang Tindak Pidana Kekerasan Seksual.

Hak-hak tersebut antara lain meliputi pemulihan psikologis, layanan kesehatan (termasuk pencegahan kehamilan dan infeksi menular seksual), serta bantuan hukum selama proses pengadilan berlangsung.

ICJR juga menegaskan bahwa kejadian ini bukanlah kasus terisolasi.

Dalam catatan mereka, kekerasan seksual terhadap perempuan yang berstatus sebagai tahanan maupun keluarga tahanan oleh aparat kepolisian telah berulang kali terjadi di berbagai daerah.

Sejumlah data menunjukkan bahwa kekerasan seksual oleh aparat penegak hukum terhadap perempuan dalam tahanan masih marak.

Pada September 2024, misalnya, Pengadilan Negeri Makassar memvonis Briptu Sanjaya bersalah karena memaksa tahanan perempuan melakukan tindakan seksual secara lisan.

Sementara itu, pada Oktober 2021, dua anggota polisi di Polsek Kutalimbaru, Deli Serdang, dinyatakan melakukan pemerkosaan terhadap istri tahanan.

Kasus serupa juga terjadi di Polres Lahat, Sumatra Selatan, pada Desember 2021, di mana seorang polisi memperkosa istri tahanan hingga menyebabkan kehamilan.

Dalam laporan tahunan Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan (Komnas Perempuan), peringatan Hari Anti Penyiksaan 2024 mencatat bahwa terdapat 308 kasus kekerasan berbasis gender di ranah negara.

Dari jumlah tersebut, 106 kasus melibatkan perempuan berkonflik dengan hukum, termasuk 15 kasus kekerasan atau penyiksaan selama penyidikan.

Penelitian yang dilakukan LBH Masyarakat juga memperkuat temuan ini.

Dalam survei yang dilakukan antara Januari hingga Mei 2024 terhadap tahanan di tiga rumah tahanan negara di Jakarta, ditemukan bahwa 35 orang mengalami penyiksaan selama penyidikan, 21 orang mengaku diperas, dan 7 orang menyatakan mengalami kekerasan seksual oleh aparat.

Baca juga :  BNN Gerebek Kampung Bahari, Petugas Dihujani Mercon

ICJR menyatakan bahwa akar persoalan terletak pada sistem penahanan itu sendiri, terutama keberadaan tahanan dalam fasilitas kepolisian.

Menurut pandangan mereka, penahanan seharusnya tidak dilakukan di kantor polisi karena potensi besar terjadinya penyalahgunaan wewenang dan kekerasan.

Merujuk pada prinsip hak asasi manusia yang tertuang dalam Komentar Umum Pasal 9 Kovenan Internasional tentang Hak-Hak Sipil dan Politik (ICCPR), penahanan harus dilakukan di fasilitas yang diatur dan diawasi oleh institusi yang berbeda dari lembaga penyidik, guna menjamin hak-hak dasar tahanan.

Di Indonesia, Rumah Tahanan Negara (Rutan) berada di bawah kewenangan Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM, bukan Kepolisian.

Oleh karena itu, penahanan seharusnya dilaksanakan di Rutan dan bukan di kantor polisi.

RUU KUHAP 2025 Dipertanyakan

Meskipun ada semangat reformasi dalam sistem peradilan pidana, Pasal 100 dalam Rancangan Undang-Undang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RUU KUHAP) tahun 2025 masih memperbolehkan penahanan dilakukan di kantor polisi.

Penjelasan pasal tersebut dinilai bertentangan dengan prinsip-prinsip HAM yang telah diratifikasi Indonesia, khususnya ICCPR.

“RUU KUHAP seharusnya menghapuskan sepenuhnya penahanan di kantor kepolisian. Harus ada pemisahan otoritas penahanan dengan otoritas penyidikan agar tidak terjadi konflik kepentingan dan pelanggaran hak,” lanjut pernyataan ICJR.

ICJR menyarankan agar pemerintah dan DPR segera meninjau ulang substansi RUU KUHAP dengan mempertimbangkan standar HAM internasional.

Jika keterbatasan kapasitas Rutan menjadi alasan, maka perlu dilakukan perluasan atau optimalisasi fasilitas yang berada di bawah otoritas non-kepolisian.

Penahanan oleh institusi yang memiliki kepentingan terhadap hasil penyidikan berisiko melanggar prinsip due process of law.

Oleh karena itu, pembenahan sistem menjadi keharusan untuk memastikan perlindungan terhadap semua pihak, termasuk mereka yang sedang berhadapan dengan hukum.

Baca juga :  Buron! Kakek 77 Tahun di Nias Selatan Diduga Cabuli Cucu Sendiri, Kepala Desa Disebut Ikut Lindungi Pelaku

Kasus dugaan kekerasan seksual di Polres Pacitan menambah daftar panjang pelanggaran hak asasi manusia yang terjadi dalam sistem penahanan kepolisian.

Dengan sorotan tajam dari masyarakat sipil dan lembaga pemerhati hukum, saat ini menjadi momentum penting bagi negara untuk mengevaluasi secara menyeluruh mekanisme penahanan, dan memastikan bahwa keadilan ditegakkan tanpa kekerasan.**/

sumber: ICJR

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Nadya adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Interesting

  • Pangdam Jaya Pimpin Sertijab Pejabat Kodam, Tekankan Regenerasi dan Penguatan Kinerja Organisasi

    Pangdam Jaya Pimpin Sertijab Pejabat Kodam, Tekankan Regenerasi dan Penguatan Kinerja Organisasi

    • calendar_month Selasa, 7 Jul 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Timur, 7 Juli 2026 – Panglima Kodam Jaya/Jayakarta Letjen TNI Deddy Suryadi memimpin Tradisi Korps dan Serah Terima Jabatan (Sertijab) sejumlah pejabat Kodam Jaya/Jayakarta di Aula Jenderal Sudirman, Makodam Jaya, Jakarta Timur, Selasa (7/7/2026). Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pembinaan organisasi dan personel TNI Angkatan Darat untuk menjaga kesinambungan kepemimpinan sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaan […]

  • Lanal Bintan Gelar Doa Bersama Sambut Tahun 2026

    Lanal Bintan Gelar Doa Bersama Sambut Tahun 2026

    • calendar_month Kamis, 1 Jan 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    TNI AL, Bintan – Menjelang pergantian Tahun Baru 2026, Lanal Bintan menggelar doa bersama di Mako Lanal Bintan, Rabu (31/12/2025). Kegiatan ini bertujuan menumbuhkan rasa syukur sekaligus memohon kelancaran, perlindungan, dan keselamatan dalam setiap pelaksanaan tugas. Komandan Lanal Bintan Letkol Laut (P) Wityuda Timortimur Suratmono, MPM., hadir langsung dalam kegiatan ini. Ketua Cabang 5 Kodaeral […]

  • PTPN IV PalmCo Dorong Lahirnya Barista Muda, 50 Pemuda Ikuti Pelatihan Intensif

    PTPN IV PalmCo Dorong Lahirnya Barista Muda, 50 Pemuda Ikuti Pelatihan Intensif

    • calendar_month Jumat, 24 Apr 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Pekanbaru, 24 April 2026 – PTPN IV PalmCo melatih 50 pemuda Sumatera menjadi barista untuk menjawab kebutuhan industri kopi sekaligus mendorong wirausaha baru. Perusahaan menggandeng Pekanbaru Hospitality Institute sebagai mitra pelatihan. Program berlangsung di Pekanbaru pada Jumat, 24 April 2026. Inisiatif ini menyasar generasi muda yang membutuhkan keterampilan praktis. Program juga membuka akses kerja di […]

  • Polsek Penjaringan Perketat Patroli KRYD, Fokus Cegah Tawuran dan Kejahatan Jalanan

    Polsek Penjaringan Perketat Patroli KRYD, Fokus Cegah Tawuran dan Kejahatan Jalanan

    • calendar_month Rabu, 1 Apr 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta Utara, 31 Maret 2025 – Polsek Metro Penjaringan menggelar apel KRYD pada Selasa malam pukul 23.00 WIB untuk menekan potensi tawuran dan kejahatan jalanan di wilayah Kecamatan Penjaringan. Kegiatan ini melibatkan 10 personel yang dipimpin Pawas Ipda Andrianto, SH di wilayah hukum Penjaringan, Jakarta Utara. Polsek menempatkan KRYD sebagai langkah strategis untuk menjaga stabilitas […]

  • Krisis Iklan Picu PHK Massal di Industri Media: Sekitar 1.200 Karyawan Terdampak

    Krisis Iklan Picu PHK Massal di Industri Media: Sekitar 1.200 Karyawan Terdampak

    • calendar_month Senin, 5 Mei 2025
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Gelombang PHK yang melanda industri media Indonesia merupakan dampak dari krisis sistemik yang dipicu oleh penurunan nilai iklan

  • Pangdam Jaya Hadiri Peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih, Pemerintah Dorong Ekonomi Desa

    Pangdam Jaya Hadiri Peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih, Pemerintah Dorong Ekonomi Desa

    • calendar_month Minggu, 17 Mei 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta, 16 Mei 2026 – Pangdam Jaya Mayjen TNI Deddy Suryadi menghadiri peresmian 1.061 Koperasi Merah Putih melalui konferensi video yang terhubung ke Nganjuk, Jawa Timur. Presiden RI Prabowo Subianto memimpin langsung peresmian nasional tersebut, sekaligus menandai dimulainya operasional koperasi di berbagai daerah secara serentak. Kegiatan ini berlangsung di Meruya Selatan, Jakarta Barat, pada Sabtu, […]

expand_less