Cabai Rawit Tembus Rp152 Ribu, Sambal Kini Berasa Cicilan
- account_circle Tama
- calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
- print Cetak

JAKARTA – Harga cabai rawit sedang naik kelas, bukan menjadi sambal, melainkan menembus Rp152.872 per kilogram di Sulawesi Utara.
Badan Pangan Nasional (Bapanas) mencatat harga rata-rata nasional cabai rawit mencapai Rp81.052 per kilogram.
Kenaikan tersebut membuat pemerintah menyiapkan langkah distribusi pasokan dari daerah yang harganya relatif rendah menuju wilayah yang mengalami kekurangan pasokan.
Jadi, kalau cabai sedang pedas-pedasnya, pemerintah memilih mengurus jalur perjalanannya dulu.
Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas I Gusti Ketut Astawa mengatakan skema Fasilitasi Distribusi Pangan (FDP) akan kembali dipertimbangkan untuk cabai rawit.
“Untuk cabai rawit, berdasarkan informasi dari Kediri, saat ini terdapat dinamika harga dan pasokan yang perlu segera kita respons,” kata Ketut, dikutip dari laman kabar-tani.com Minggu, 13 September 2026.
Melalui skema tersebut, Bapanas juga akan kembali menggandeng petani Champion Cabai untuk membantu mengirimkan pasokan ke daerah dengan harga tinggi.
Langkah itu menjadi perhatian karena perbedaan harga cabai antardaerah saat ini cukup lebar.
Sulawesi Utara tercatat sebagai daerah dengan harga cabai rawit tertinggi, yakni Rp152.872 per kilogram.
Sementara Nusa Tenggara Timur (NTT) berada di posisi sebaliknya dengan harga terendah sebesar Rp56.604 per kilogram.
Artinya, cabai yang sama-sama bikin lidah kepanasan ternyata bisa punya harga yang cukup dingin di satu daerah dan bikin dompet berkeringat di daerah lain.
Sebelumnya, pemerintah telah menjalankan FDP cabai rawit pada triwulan I 2026.
Total distribusi dalam program tersebut mencapai 5.590 kilogram.
Cabai tersebut antara lain dikirim dari Enrekang, Sulawesi Selatan, menuju Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, serta Lombok Tengah dan Lombok Timur, Nusa Tenggara Barat.
Kemarau dan Hama Ikut Bikin Cabai Pedas di Pasar
Kenaikan harga cabai terjadi di tengah sejumlah tantangan produksi.
Kemarau berkepanjangan, serangan hama seperti trips dan kutu kebul, serta peralihan tanam petani ke komoditas lain disebut menjadi sejumlah faktor yang memengaruhi pasokan.
Masalahnya bukan cuma cabai yang pedas.
Cuaca dan hama juga ikut membuat urusan pasokan menjadi semakin tidak sederhana.
Meski begitu, Kementerian Pertanian memperkirakan produksi cabai rawit nasional pada September mencapai sekitar 119 ribu ton.
Sejumlah sentra produksi seperti Banyuwangi, Sampang, Temanggung, Brebes, dan Magelang diharapkan mampu menopang pasokan hingga akhir tahun.
Wilayah-wilayah tersebut juga diharapkan dapat membantu menghadapi potensi kenaikan permintaan menjelang Natal dan Tahun Baru.
Kementerian Pertanian memastikan petani Champion Cabai siap membantu apabila pemerintah kembali menggelar FDP.
Dengan produksi nasional yang dinilai masih mencukupi, pemerintah kini menghadapi pekerjaan rumah berikutnya, yakni memastikan pasokan tersebut bergerak ke wilayah yang membutuhkan.
Sebab, dalam urusan pangan, cabai yang melimpah di satu daerah belum tentu banyak artinya bagi konsumen di daerah lain jika distribusinya tersendat.
Bapanas pun menyiapkan skema distribusi sebagai salah satu upaya meredam lonjakan harga.
Sementara bagi konsumen, harga cabai tetap menjadi cerita sederhana yang mudah dipahami.
Mau sambal pedas, silakan.
Yang jangan sampai ikut pedas adalah harga belanjanya.
FAQ: Seputar Lonjakan Harga Cabai Rawit
P: Berapa kenaikan harga cabai rawit hingga diibaratkan seperti membayar cicilan?
J: Harga cabai rawit merah di tingkat pedagang pasar tradisional melonjak tajam hingga menembus harga Rp152.000 per kilogram, yang dikeluhkan oleh pedagang makanan dan ibu rumah tangga.
P: Faktor apa yang menyebabkan lonjakan harga cabai rawit hingga begitu tinggi?
J: Kenaikan harga ekstrem ini dipicu oleh gangguan pasokan dari daerah penghasil akibat faktor cuaca buruk, kegagalan panen di tingkat petani, serta tingginya rantai distribusi dari penampung ke pasar eceran.
P: Langkah apa yang diharapkan pedagang dan konsumen dari pemerintah daerah maupun pusat?
J: Masyarakat dan pelaku usaha kecil berharap pemerintah segera menggelar operasi pasar murah, melakukan pemantauan jalur distribusi pasokan, serta menstabilkan harga komoditas pangan pokok.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Tama
Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

