Satgas Udara Semai 7,2 Ton Dry Ice dan NaCl untuk Tekan Karhutla Sumsel
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 53 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Palembang – TNI bersama BMKG dan tim gabungan mengintensifkan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla) serta kabut asap di Sumatera Selatan, Sabtu (31/10/2026).
Dalam operasi tersebut, Satgas Udara mengerahkan total 7,2 ton bahan semai berupa dry ice dan natrium klorida (NaCl) guna mendukung upaya pembentukan hujan di wilayah sasaran.
Berdasarkan pemantauan BMKG, operasi penyemaian tersebut berdampak pada turunnya hujan di Kabupaten Empat Lawang, Ogan Komering Ulu (OKU) Timur, dan OKU Selatan.
Pusat Penerangan TNI (Puspen TNI) menyampaikan bahwa pengerahan armada udara menjadi bagian dari langkah terpadu menghadapi ancaman Karhutla sekaligus mendukung penanganan kabut asap.
Operasi ini mengandalkan koordinasi TNI, BMKG, dan unsur gabungan dengan memanfaatkan informasi meteorologi untuk mendukung pelaksanaan modifikasi cuaca.
Melalui pendekatan tersebut, tim gabungan berupaya meningkatkan peluang hujan di wilayah sasaran sebagai salah satu dukungan terhadap penanggulangan kebakaran hutan dan lahan.
Namun, pelaksanaan operasi tidak hanya mengandalkan pengerahan pesawat dan bahan semai, melainkan juga membutuhkan pemantauan kondisi atmosfer secara berkelanjutan.
BMKG menggunakan radar cuaca, penakar hujan, serta laporan lapangan untuk mengamati perkembangan kondisi cuaca dan dampak penyemaian.
Data pemantauan tersebut menjadi bagian penting dalam mengevaluasi pelaksanaan Operasi Modifikasi Cuaca di wilayah Sumatera Selatan.
Tiga Kabupaten Catat Dampak Hujan dari Operasi Modifikasi Cuaca
Berdasarkan data pemantauan BMKG, hujan terjadi di tiga wilayah, yakni Kabupaten Empat Lawang, OKU Timur, dan OKU Selatan.
Informasi tersebut menunjukkan adanya dampak hujan setelah tim gabungan melaksanakan kegiatan penyemaian dalam operasi modifikasi cuaca.
Meski demikian, informasi yang disampaikan Puspen TNI belum merinci besaran curah hujan di setiap kabupaten maupun luas wilayah yang menerima hujan.
Selain itu, belum terdapat keterangan mengenai durasi hujan dan perubahan tingkat kebakaran setelah kegiatan penyemaian berlangsung.
Karena itu, dampak operasi terhadap pengendalian titik api dan penurunan kabut asap masih membutuhkan data pemantauan lanjutan.
Keterangan tersebut penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai hasil operasi, bukan hanya berdasarkan informasi terjadinya hujan.
Di sisi lain, pemanfaatan data radar, penakar hujan, dan laporan lapangan memberikan dasar pemantauan terhadap perkembangan cuaca selama operasi berlangsung.
Dengan demikian, evaluasi secara berkala diperlukan untuk melihat kesesuaian antara pelaksanaan penyemaian, kondisi atmosfer, dan hasil hujan di wilayah sasaran.
TNI dan BMKG Perkuat Penanganan Karhutla
Operasi Modifikasi Cuaca menjadi salah satu pendekatan yang melibatkan dukungan teknologi meteorologi dalam menghadapi ancaman kebakaran hutan dan lahan.
Melalui penyemaian bahan tertentu ke atmosfer, tim berupaya mendukung proses pembentukan hujan ketika kondisi awan dan atmosfer memungkinkan.
Dalam kegiatan ini, Satgas Udara menggunakan dry ice dan natrium klorida atau NaCl dengan total berat mencapai 7,2 ton.
Kedua bahan tersebut menjadi bagian dari pelaksanaan penyemaian dalam operasi terpadu yang melibatkan TNI dan BMKG.
Namun, Puspen TNI tidak merinci pembagian berat masing-masing bahan maupun jumlah penerbangan yang mendukung kegiatan tersebut.
Oleh sebab itu, angka 7,2 ton merujuk pada total bahan semai yang disebutkan dalam informasi resmi, bukan berat masing-masing jenis bahan.
Sementara itu, pengerahan armada udara secara berkelanjutan menunjukkan dukungan TNI terhadap upaya penanganan Karhutla di Sumatera Selatan.
Koordinasi dengan BMKG juga menjadi unsur penting karena pelaksanaan modifikasi cuaca membutuhkan informasi mengenai perkembangan atmosfer dan potensi hujan.
Selain mendukung penanganan kebakaran, operasi tersebut memiliki tujuan membantu mengurangi dampak kabut asap yang dapat mengganggu aktivitas masyarakat.
Penanganan Karhutla Membutuhkan Pemantauan Berkelanjutan
Pengerahan bahan semai dan armada udara merupakan bagian dari upaya menghadapi ancaman Karhutla, tetapi penanganan persoalan tersebut membutuhkan langkah yang berkesinambungan.
Karena itu, pemantauan kondisi cuaca dan perkembangan kebakaran tetap menjadi bagian penting setelah operasi penyemaian berlangsung.
Data curah hujan, kondisi titik api, serta perkembangan kabut asap diperlukan untuk memberikan gambaran lebih lengkap mengenai hasil penanganan di lapangan.
Selain itu, koordinasi antarlembaga perlu terus berjalan agar setiap perkembangan kondisi wilayah dapat menjadi dasar penentuan langkah berikutnya.
TNI bersama BMKG dan tim gabungan terus mengoptimalkan Operasi Modifikasi Cuaca sebagai bentuk dukungan terhadap penanggulangan Karhutla di Sumatera Selatan.
Melalui upaya terpadu tersebut, tim berharap hujan dapat membantu mengurangi ancaman kebakaran serta mendukung perbaikan kualitas udara di wilayah terdampak.
Dengan demikian, keberhasilan penanganan Karhutla tidak hanya bergantung pada pelaksanaan penyemaian, tetapi juga pada pemantauan hasil dan kesinambungan penanggulangan di lapangan.
Pengerahan 7,2 ton bahan semai oleh Satgas Udara menjadi bagian dari upaya TNI, BMKG, dan tim gabungan menghadapi Karhutla serta dampak kabut asap di Sumatera Selatan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

