Pekerja PTPN IV Cot Girek Desak Kepastian Sengketa Lahan di Aceh Utara

Lhoksukon, 7 Mei 2026 – Ratusan pekerja PTPN IV Regional VI Kebun Cot Girek menggelar aksi damai di Kantor Bupati Aceh Utara untuk menuntut kepastian hukum sengketa lahan. Massa datang...

-AA+
comment 2 Created with Sketch Beta. 0 Komentar

Lhoksukon, 7 Mei 2026 – Ratusan pekerja PTPN IV Regional VI Kebun Cot Girek menggelar aksi damai di Kantor Bupati Aceh Utara untuk menuntut kepastian hukum sengketa lahan.

Massa datang sejak pagi bersama keluarga dan memadati halaman kantor bupati di Lhoksukon, Kamis (7/5/2026), sambil membawa spanduk berisi tuntutan.

Aksi berlangsung tertib dengan pengawalan aparat keamanan yang menjaga situasi tetap kondusif selama penyampaian aspirasi.

Para pekerja menyuarakan kekhawatiran atas ketidakpastian penyelesaian klaim lahan yang dinilai mengancam stabilitas pekerjaan dan kehidupan sosial.

Mereka menilai sengketa yang berlarut berpotensi mengganggu aktivitas ekonomi masyarakat yang bergantung pada sektor perkebunan.

Rusli Cut Ali menegaskan pekerja hanya ingin menjalankan aktivitas tanpa tekanan akibat konflik yang belum terselesaikan.

“Kami ingin bekerja dengan tenang. Jika masalah ini terus berlarut, masyarakat kecil yang akan paling terdampak,” ujar Rusli.

Muhammad Yusuf menyampaikan harapan agar penyelesaian dilakukan secara objektif sesuai ketentuan hukum yang berlaku.

“Kami tidak ingin konflik. Kami ingin hidup aman dan mencari nafkah dengan tenang,” kata Yusuf.

Peserta aksi meminta Pemerintah Kabupaten Aceh Utara mengambil peran aktif dalam menjembatani aspirasi ke pemerintah pusat.

Mereka mendesak langkah konkret guna mempercepat penyelesaian sengketa secara transparan dan berkeadilan.S

ejumlah pekerja mengaku merasakan tekanan psikologis akibat ketidakpastian yang terus berlangsung di lapangan.

Fandi Afrian Rinaldi menyebut isu yang berkembang memicu kekhawatiran terhadap masa depan pekerjaan masyarakat.

“Kami hanya pekerja yang bergantung pada kebun. Kami berharap pemerintah segera memberi kepastian,” ujarnya.

Pilihan Editor :  Satgas TMMD 126 Kodim 1810/Tambrauw Lanjutkan Pembangunan Gereja Advent

Marzuki menambahkan sebagian besar warga sekitar menggantungkan penghasilan dari aktivitas perkebunan tersebut.

“Kalau kondisi tidak menentu, kami sebagai pekerja yang paling merasakan dampaknya,” kata Marzuki.

Dampak Ekonomi dan Sosial Jadi Sorotan

Para pekerja menekankan pentingnya stabilitas lingkungan perkebunan bagi keberlangsungan ekonomi ribuan keluarga di Cot Girek.

Mereka khawatir konflik berkepanjangan dapat memicu gangguan sosial dan menurunkan kesejahteraan masyarakat sekitar.

Aksi damai diakhiri dengan doa bersama sebagai bentuk harapan agar penyelesaian dapat tercapai melalui dialog.

Peserta juga mengajak seluruh pihak menahan diri serta mengedepankan komunikasi untuk menghindari potensi konflik.

Dalam beberapa waktu terakhir, persoalan klaim lahan di Aceh kembali mencuat dan menarik perhatian berbagai pihak.

Sejumlah sengketa lahan antara perusahaan dan kelompok masyarakat sebelumnya telah dibahas dalam forum tingkat pusat.

Namun bagi pekerja, persoalan ini tidak hanya menyangkut status lahan, tetapi juga menyangkut keberlangsungan hidup sehari-hari.

Mereka berharap pemerintah segera mengambil langkah konkret agar aktivitas ekonomi tetap berjalan normal.

Pekerja menilai kepastian hukum menjadi kunci menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di kawasan perkebunan.

Aksi ini mencerminkan tuntutan masyarakat pekerja yang menginginkan perlindungan terhadap sumber penghidupan mereka.

Para pekerja menegaskan komitmen menjaga ketertiban dan berharap solusi damai segera terwujud melalui dialog terbuka.

gensa.club berkomitmen menulis berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *