Lima Pesawat TNI AU Dukung Operasi Modifikasi Cuaca di Kalimantan
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 9 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Banjarbaru – Lanud Sjamsudin Noor mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) untuk membantu penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah pada Minggu, 25 Oktober 2026.
Pangkalan TNI Angkatan Udara (Lanud) Sjamsudin Noor mengerahkan dukungan operasional bagi lima pesawat TNI AU yang menjalankan misi penyemaian awan dari Bandara Internasional Syamsudin Noor, Banjarbaru.
Dalam operasi tersebut, armada udara menyebarkan bahan semai berupa dry ice dan natrium klorida (NaCl) di sejumlah wilayah, termasuk sekitar Palangkaraya dan beberapa kabupaten di Kalimantan Tengah.
Kegiatan ini bertujuan mendukung pembentukan hujan sebagai salah satu upaya membantu penanganan karhutla dan mengurangi dampak kabut asap yang mengancam lingkungan serta aktivitas masyarakat.
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, M.M.S., mengapresiasi personel yang mendukung kelancaran misi tersebut, mulai dari persiapan di darat hingga pelaksanaan penerbangan.
Namun, keberhasilan operasi modifikasi cuaca tidak hanya bergantung pada kesiapan armada. Kondisi atmosfer, karakteristik awan, serta ketepatan waktu penyemaian turut menentukan hasil yang dapat dicapai.
Lima Pesawat Jalankan Misi Penyemaian Awan
Lima pesawat TNI AU mendukung kegiatan OMC melalui sejumlah penerbangan dengan sasaran dan bahan semai berbeda.
Dua pesawat NC-212, masing-masing bernomor A-2107 dan A-2119, menjalankan empat sorti penyemaian dry ice di wilayah tenggara Palangkaraya.
Penerbangan pertama melibatkan NC-212/A-2107 dengan penerbang Mayor Pnb Candra A.W. Sementara itu, NC-212i/A-2119 menjalankan misi dengan penerbang Kapten Pnb Edwin A.
Selanjutnya, pesawat NC-212/A-2105 yang diawaki Mayor Pnb Adam N.F. menyebarkan NaCl di wilayah selatan Palangkaraya.
Dua pesawat lainnya, yakni CN-295/A-2904 dan C-130/A-1328, mendukung penyemaian di wilayah yang lebih luas.
CN-295/A-2904 menjalankan misi dengan penerbang Mayor Pnb Ryan P. Adapun C-130/A-1328 melaksanakan penerbangan dengan penerbang Mayor Pnb Matheus B.L.
Kedua pesawat tersebut menyasar wilayah Pulang Pisau, Katingan, Seruyan, hingga Kotawaringin Timur.
Berdasarkan keterangan Lanud Sjamsudin Noor, penerbangan berlangsung pada ketinggian sekitar 10.000–12.000 kaki.
Penggunaan beberapa jenis pesawat memungkinkan tim menjalankan misi penyemaian di sejumlah wilayah sesuai dengan kebutuhan operasional dan kondisi cuaca.
Meski demikian, informasi mengenai pengerahan pesawat dan pelaksanaan penyemaian belum dengan sendirinya menunjukkan besarnya dampak operasi terhadap penurunan titik api.
Untuk menilai dampak tersebut secara menyeluruh, diperlukan data pembanding mengenai curah hujan, sebaran titik panas, luas kebakaran, serta perkembangan kualitas udara sebelum dan sesudah operasi.
Lanud Siapkan Dukungan Logistik dan Penerbangan
Selain mendukung pelaksanaan misi udara, Lanud Sjamsudin Noor menyiapkan kebutuhan operasional yang menunjang kelancaran penerbangan.
Dukungan tersebut mencakup penyediaan bahan bakar avtur dan percepatan pemuatan bahan semai sebelum pesawat menjalankan tugas.
Kesiapan logistik menjadi bagian penting dalam operasi karena setiap penerbangan membutuhkan perencanaan waktu, koordinasi awak pesawat, serta ketersediaan bahan yang sesuai dengan sasaran penyemaian.
Di sisi lain, tim operasional perlu menyesuaikan pelaksanaan misi dengan perkembangan cuaca dan potensi awan yang memenuhi persyaratan penyemaian.
Dengan koordinasi antara personel darat dan penerbang, Lanud berupaya menjaga kesiapan armada selama pelaksanaan OMC.
Dukungan pangkalan juga membantu memastikan pesawat dapat menjalankan tugas sesuai rencana operasional, meskipun hasil akhir penyemaian tetap bergantung pada kondisi atmosfer di wilayah sasaran.
Karena itu, keberhasilan teknis penerbangan perlu dibedakan dari keberhasilan penanganan karhutla secara keseluruhan.
Operasi modifikasi cuaca merupakan salah satu langkah untuk membantu menghadirkan hujan, sedangkan penanganan kebakaran tetap membutuhkan upaya lain, termasuk pemadaman langsung, pemantauan titik panas, dan koordinasi antarlembaga.
Danlanud Tegaskan Dukungan Berlanjut
Komandan Lanud Sjamsudin Noor, Kolonel Pnb Hilman L.P. Ambarita, menyampaikan apresiasi kepada seluruh personel yang mendukung pelaksanaan OMC.
Ia menegaskan bahwa Lanud Sjamsudin Noor akan terus menyiagakan fasilitas dan dukungan operasional untuk membantu penanganan karhutla di Kalimantan.
“Turunnya hujan adalah jawaban atas ikhtiar dan sinergi kita bersama di lapangan,” ujar Hilman dalam keterangan yang disampaikan Lanud Sjamsudin Noor.
Ia juga menegaskan komitmen TNI AU untuk melanjutkan dukungan terhadap misi modifikasi cuaca selama upaya penanganan karhutla masih membutuhkan bantuan tersebut.
“TNI AU melalui Lanud Sjamsudin Noor tidak akan berhenti mengawal misi OMC ini sampai seluruh ruang udara Kalimantan benar-benar bersih dan bebas dari asap,” tegasnya.
Pernyataan tersebut mencerminkan komitmen Lanud dalam mendukung operasi penanganan bencana, khususnya melalui kesiapan penerbangan dan fasilitas pendukung di pangkalan.
Meski demikian, penilaian mengenai keberhasilan OMC perlu merujuk pada hasil pemantauan cuaca dan indikator penanganan karhutla, bukan hanya pada terlaksananya penerbangan.
Data mengenai curah hujan yang terukur, perubahan jumlah titik panas, serta perkembangan kualitas udara dapat membantu menjelaskan sejauh mana operasi memberikan dampak di wilayah sasaran.
Dampak Operasi Perlu Ditinjau Melalui Data
Pelaksanaan OMC pada 25 Oktober 2026 menunjukkan keterlibatan Lanud Sjamsudin Noor dalam mendukung upaya penanganan karhutla melalui operasi udara.
Lima pesawat TNI AU menjalankan misi penyemaian dengan bahan dan sasaran yang berbeda, sementara personel pangkalan mendukung kebutuhan logistik serta kesiapan penerbangan.
Namun, keterangan yang tersedia belum mencantumkan angka curah hujan yang terukur, jumlah titik api yang berhasil dipadamkan, maupun perubahan kualitas udara setelah kegiatan.
Oleh sebab itu, klaim mengenai besarnya dampak operasi terhadap penurunan karhutla masih memerlukan data pendukung yang dapat diverifikasi.
Pengukuran tersebut penting agar masyarakat memperoleh gambaran yang utuh mengenai hasil operasi, termasuk manfaatnya bagi wilayah yang terdampak kebakaran dan kabut asap.
Pada saat yang sama, kesiapan personel dan armada TNI AU menjadi bagian dari dukungan lintas sektor yang diperlukan untuk menghadapi bencana lingkungan.
Melalui operasi modifikasi cuaca dan koordinasi dengan pihak terkait, Lanud Sjamsudin Noor melanjutkan perannya dalam mendukung penanganan karhutla di Kalimantan Selatan dan Kalimantan Tengah.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

