Anak 6 Tahun Korban Kekerasan Bersenjata Dirujuk ke Nabire dari Puncak
Puncak, Papua Tengah, 18 April 2026 – Aparat keamanan bersama tenaga medis mengevakuasi anak perempuan korban kekerasan bersenjata dari wilayah konflik di Kabupaten Puncak. Evakuasi berlangsung di Bandara Mulia, Distrik...

Puncak, Papua Tengah, 18 April 2026 – Aparat keamanan bersama tenaga medis mengevakuasi anak perempuan korban kekerasan bersenjata dari wilayah konflik di Kabupaten Puncak.
Evakuasi berlangsung di Bandara Mulia, Distrik Muara, Kabupaten Puncak Jaya, pada Sabtu pukul 11.28 hingga 11.50 WIT.
Petugas menggunakan pesawat Smart Aviation PK-SNA untuk membawa korban menuju Bandara Douw Aturure, Nabire.
Korban bernama Onte Walia, berusia 6 tahun, berasal dari Distrik Sinak, Kabupaten Puncak.
Korban mengalami luka pada siku tangan kanan akibat insiden kekerasan yang terjadi beberapa hari sebelumnya.
Petugas mengevakuasi korban dengan pendampingan ibunya, Irene Kogoya, serta tenaga medis RSUD Mulia.
Setibanya di Nabire, tim medis merencanakan perawatan lanjutan di RSUD Nabire untuk memastikan pemulihan optimal.
Dampak Kekerasan Bersenjata terhadap Warga Sipil
Insiden ini berkaitan dengan aksi kekerasan bersenjata yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Kabupaten Puncak.
Kelompok bersenjata melakukan pembakaran honai serta penembakan yang berdampak pada masyarakat sipil.
Peristiwa tersebut terjadi di Kampung Muara, Distrik Pogoma, dan memicu kepanikan warga setempat.
Korban anak menjadi salah satu dampak nyata dari eskalasi kekerasan di wilayah tersebut.
Petugas bergerak cepat untuk meminimalkan risiko lanjutan terhadap keselamatan warga.
Evakuasi menjadi langkah prioritas untuk menyelamatkan korban yang membutuhkan penanganan medis segera.
Aparat Tingkatkan Kewaspadaan dan Koordinasi
Aparat keamanan meningkatkan kesiapsiagaan untuk mengantisipasi potensi gangguan kamtibmas di wilayah Puncak.
Petugas melakukan pemantauan intensif guna mencegah eskalasi konflik yang lebih luas.
Selain itu, pemerintah daerah memperkuat koordinasi dengan TNI-Polri dalam menjaga stabilitas keamanan.
Langkah tersebut juga melibatkan tokoh agama dan tokoh adat untuk meredam ketegangan di masyarakat.
Pendekatan persuasif dinilai penting untuk menjaga situasi tetap kondusif di tengah dinamika keamanan.
Upaya deteksi dini terus dilakukan untuk mengantisipasi potensi ancaman dari kelompok bersenjata maupun simpatisannya.
Dengan langkah terpadu tersebut, aparat berharap situasi keamanan di Kabupaten Puncak dapat segera terkendali.
Peristiwa ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya perlindungan terhadap warga sipil, khususnya anak-anak, dalam setiap konflik bersenjata.









