Selasa, 20 Okt 2026
Beranda » OPINI » Politik Estetika dan Krisis Tata Kelola: Mengapa Renovasi Gedung Sate 3,9 M Bernuansa Candi Layak Dikritisi

Politik Estetika dan Krisis Tata Kelola: Mengapa Renovasi Gedung Sate 3,9 M Bernuansa Candi Layak Dikritisi

  • account_circle Sapto Handoko
  • calendar_month Minggu, 23 Nov 2025
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Oleh: Izus Salam S. Sos
Ketua Umum PW KAMMI Jawa Barat, Mahasiswa Magister Administrasi Publik UNPAD

Bandung – Renovasi Gedung Sate dengan biaya mencapai 3,9 miliar rupiah dan penambahan ornamen bernuansa candi kembali menimbulkan pertanyaan besar tentang arah tata kelola pemerintahan di Jawa Barat. Publik wajar bertanya: apa urgensi estetikanya? Apa relevansinya dengan kebutuhan masyarakat? Dan apa dasar akademik, teknis, maupun historis yang melatarbelakangi keputusan ini?

Sebagai akademisi dan aktivis, saya melihat persoalan ini tidak berhenti pada soal “pagar bergaya candi”, tetapi merupakan indikator adanya problem tata kelola yang lebih dalam—mulai dari lemahnya perencanaan anggaran, minimnya partisipasi publik, hingga ketidakkonsistenan terhadap prinsip pelestarian heritage.

Gedung Sate bukan sekadar bangunan pemerintahan. Ia adalah ikon, simbol identitas Jawa Barat, dan bagian dari memori kolektif masyarakat. Setiap intervensi pada bangunan ini—betapapun kecilnya—memiliki implikasi politis, kultural, dan historis yang signifikan. Karena itu, proyek estetika seperti ini tidak seharusnya dilakukan secara serampangan.

1. Minim Justifikasi Perencanaan dan Landasan Teknis

Dalam dokumen perencanaan daerah seperti RPJMD dan Renstra OPD, renovasi Gedung Sate—terutama yang berpotensi mengubah identitas visualnya—tidak tercantum sebagai program prioritas. Ini menunjukkan bahwa proyek tersebut muncul sebagai keputusan inkremental, bukan kebijakan yang berbasis perencanaan jangka menengah.

Sebagai akademisi administrasi publik, kita memahami bahwa kebijakan yang baik harus lulus uji rasionalitas: ada kajian teknis, studi kelayakan, analisis biaya-manfaat, serta konsultasi publik. Namun hingga polemik muncul, tidak ada dokumen resmi yang menjelaskan:

Apa dasar teknis renovasi?
Apa urgensi menggunakan ornamen bergaya candi?
serta Bagaimana dampak estetika baru ini terhadap nilai heritage Gedung Sate?

Proyek estetika tanpa dasar akademik ataupun teknis adalah sinyal adanya persoalan tata kelola. Pemerintahan yang rasional bekerja berdasarkan kajian—bukan selera.

Pilihan Editor :  Sinergi Ponpes dan Budaya Betawi, Bang Boim Dukung: Pondok Budaya di Ash Sholihin Al Abror

2. Mengabaikan Prinsip Heritage dan Identitas Arsitektural

Gedung Sate dirancang oleh arsitek J. Gerber pada era 1920-an dengan gaya Indo-European yang memadukan modernitas Eropa dan estetika lokal. Integritas desain inilah yang membuatnya menjadi ikon arsitektur Jawa Barat.

Penambahan elemen candi tanpa kajian sejarah dan arsitektur justru berpotensi menimbulkan dissonant heritage—yakni memaksakan narasi baru yang tidak selaras dengan identitas historis bangunan.

Perubahan pada bangunan bersejarah semestinya melibatkan:

  • Akademisi arsitektur,
  • Komunitas heritage,
  • Sejarawan budaya dan
  • Ikatan Arsitek Indonesia (IAI).

Ketidakterlibatan aktor-aktor ini menjadikan renovasi tersebut tidak dapat dibenarkan secara akademik maupun etika pelestarian.

Jika pola seperti ini dibiarkan, bukan tidak mungkin bangunan heritage lainnya akan mengalami eksperimen estetika serupa. Padahal identitas historis bukan sesuatu yang bisa diganti sesuka hati.

3. Defisit Legitimasi Publik dan Minimnya Transparansi

Dalam tata kelola modern, transparansi dan partisipasi adalah dasar legitimasi kebijakan. Habermas menyebutnya legitimasi komunikatif, yaitu ketika kebijakan dipahami dan diterima melalui proses dialog publik.

Namun, proses renovasi Gedung Sate berlangsung dengan minim penjelasan, minim diskusi, minim dokumentasi, dan minim pelibatan masyarakat.

Wajar jika kemudian publik merespons dengan kritik luas. Kebijakan yang tidak membuka ruang partisipasi hampir selalu melahirkan kecurigaan—apalagi menyangkut ikon sejarah dan uang rakyat.

Pertanyaan publik pun muncul:
Apakah proyek ini benar-benar prioritas? Apakah tidak ada kebutuhan yang lebih mendesak seperti pendidikan, kesehatan, atau infrastruktur dasar?

4. Perubahan Arah Prioritas yang Tidak Sinkron

Meski anggaran 3,9 miliar tidak besar dalam skala APBD, persoalan utamanya adalah arah prioritas. Pemerintah daerah semestinya fokus pada peningkatan layanan publik, bukan proyek kosmetik.

Ketika pada masa awal pemerintahan baru justru muncul sinyal prioritas pada estetika visual, publik wajar merasa kecewa. Ini berpotensi melemahkan kepercayaan terhadap agenda besar pemerintah berikutnya.

Pilihan Editor :  AI Beyond the Hype: How Artificial Intelligence is Reshaping Our Future

Dari perspektif administrasi publik, ini adalah bentuk misalignment of public value—ketidaksesuaian antara apa yang dibutuhkan masyarakat dan apa yang dipilih pemerintah.

5. Risiko Jangka Panjang bagi Tata Kelola Daerah

Jika kebijakan ini menjadi preseden, maka risiko jangka panjangnya adalah:

  1. Anggaran publik mulai diarahkan ke estetika simbolik ketimbang pelayanan dasar.
  2. Proyek heritage ke depan dikerjakan tanpa kajian memadai.
  3. Identitas arsitektur kota dan provinsi kehilangan keotentikan.
  4. Kebijakan publik semakin ditentukan oleh selera visual pemimpin.
  5. Kepercayaan publik terhadap pemerintah tergerus sejak awal masa jabatan.

Dalam kajian administrasi publik, izus mengatakan sinyal seperti ini harus dibaca sebagai peringatan serius. Ungkapnya.

Lebih lanjut, izus menegaskan Untuk memperbaiki situasi, Pemerintah Provinsi Jawa Barat perlu segera mengambil langkah korektif:

  1. Mempublikasikan dokumen kajian teknis renovasi, termasuk dasar estetika dan pertimbangan struktur.
  2. Membentuk forum deliberatif heritage bersama akademisi, arsitek, sejarawan, komunitas budaya, dan masyarakat.
  3. Mengembalikan fokus APBD pada pelayanan dasar, bukan proyek simbolik.
  4. Memastikan setiap intervensi terhadap bangunan heritage mengikuti prinsip arsitektur dan sejarah yang benar.
  5. Melakukan audit kebijakan secara terbuka untuk menjaga akuntabilitas.
    Tata kelola yang sehat tidak anti-kritik. Sebaliknya, kritik adalah bahan bakar untuk perbaikan kebijakan.

Renovasi Gedung Sate adalah alarm penting. Pemerintah harus memastikan alarm ini tidak diabaikan. Karena heritage bukan milik penguasa; ia milik sejarah. Dan sejarah tidak boleh dikorbankan demi estetika sesaat. Pungkasnya.

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Menarik Dibaca

  • Jalan Rusak di Jatiasih Picu Kecelakaan, Warga Soroti Bekas Galian Kabel

    Jalan Rusak di Jatiasih Picu Kecelakaan, Warga Soroti Bekas Galian Kabel

    • calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Kota Bekasi – Tingginya intensitas curah hujan sejak awal Januari 2026 memicu kerusakan jalan di sejumlah titik Kota Bekasi. Kondisi paling parah terlihat di Jalan Raya Jatiasih, mulai dari pertigaan PGP (Pondok Gede Permai) hingga lampu merah Jatiasih, Selasa (3/2/2026). Permukaan jalan bergelombang dan berlubang membahayakan pengendara, terutama saat hujan karena lubang tertutup genangan air. […]

  • HUT Ke-5 Kogabwilhan III Dirayakan Sederhana namun Penuh Makna

    HUT Ke-5 Kogabwilhan III Dirayakan Sederhana namun Penuh Makna

    • calendar_month Sabtu, 28 Sep 2024
    • account_circle Redaktur
    • 0Komentar

    Acara syukuran dibuka dengan pemotongan tumpeng yang dilakukan oleh Pangkogabwilhan III bersama istri Ny. Dian Bambang Trisnohadi

  • PalmCo Perkuat Ketertelusuran CPO Hadapi Tuntutan Pasar Global

    PalmCo Perkuat Ketertelusuran CPO Hadapi Tuntutan Pasar Global

    • calendar_month Minggu, 13 Sep 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Jakarta – Persaingan industri sawit kini tidak cukup mengandalkan volume CPO, tetapi juga kemampuan memastikan mutu, pasokan, dan asal-usul bahan baku. PT Perkebunan Nusantara IV (PTPN IV) PalmCo merespons perubahan tersebut dengan memperkuat ketertelusuran rantai pasok dari kebun hingga pabrik. Langkah itu menjadi bagian dari upaya perusahaan memenuhi tuntutan pelanggan, terutama mitra bisnis yang terhubung […]

  • Posal Bengkalis Cepat Padamkan Kebakaran Lahan

    Posal Bengkalis Cepat Padamkan Kebakaran Lahan

    • calendar_month Jumat, 6 Feb 2026
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    TNI AL, Dumai – Pos TNI AL Bengkalis bersama Damkar dan warga bergerak cepat menanggulangi kebakaran lahan perkebunan di Desa Kelebuk, Kecamatan Bengkalis, Jumat malam, 06/02/2026. Komandan Posal Lettu Laut Nirwan Hastya menerima laporan warga pukul 19.00 WIB lalu segera berkoordinasi dan menuju lokasi kejadian. Tim tiba kemudian langsung memadamkan api serta menyekat titik rambat […]

  • Prajurit Hiu Perkasa Perketat Pengamanan Mudik di Pelabuhan Tanjung Priok

    Prajurit Hiu Perkasa Perketat Pengamanan Mudik di Pelabuhan Tanjung Priok

    • calendar_month Rabu, 12 Mar 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Prajurit Marinir dikerahkan di Pelabuhan Tanjung Priok untuk menjaga keamanan arus mudik menjelang Hari Raya Idulfitri.

  • Jalan Penghubung di Desa Pasegeran Longsor, Warga Takut Jatuh ke Jurang

    Jalan Penghubung di Desa Pasegeran Longsor, Warga Takut Jatuh ke Jurang

    • calendar_month Senin, 3 Mar 2025
    • account_circle Nadya
    • 0Komentar

    Selain menjadi akses utama warga dalam menjalankan aktivitas sehari-hari, jalan ini juga krusial bagi petani untuk mengangkut hasil pertanian

expand_less