TBC Jadi Perhatian, Puskesmas Jatirasa Intensifkan Skrining dan Tracing
- account_circle Firman Ugm
- calendar_month 43 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BEKASI – Puskesmas Kelurahan Jatirasa, Kecamatan Jatiasih, Kota Bekasi, memperluas upaya penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui skrining kesehatan, pengobatan pasien, dan pemeriksaan terhadap anggota keluarga yang memiliki kontak erat dengan penderita.
Penelusuran kontak juga dijadwalkan menjangkau warga di tingkat rukun warga (RW) pada Oktober 2026 untuk mendeteksi potensi penularan lebih dini.
Kepala Puskesmas Kelurahan Jatirasa, drg. R. Wike Octaviyanti, mengatakan sejumlah kegiatan skrining telah dilakukan di wilayah kerjanya.
Pasien yang teridentifikasi mengidap TBC juga telah mendapatkan pengobatan, sementara beberapa di antaranya telah menyelesaikan rangkaian terapi.
“Dari pasien yang ada sudah terobati semua. Sudah dilakukan pengobatan semua dan beberapa juga sudah selesai pengobatan,” kata Wike saat memberikan keterangan pada Sabtu (17/10/2026).
Selain menangani pasien, petugas puskesmas melakukan pemeriksaan terhadap anggota keluarga yang tinggal serumah maupun orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan penderita.
Langkah ini bertujuan mengidentifikasi kemungkinan penularan, terutama di lingkungan tempat tinggal pasien.
Menurut Wike, pemeriksaan dilakukan melalui wawancara dan skrining untuk mengetahui kemungkinan adanya penularan di lingkungan keluarga.
“Pemeriksaan yang kami lakukan melalui wawancara dan skrining untuk mengetahui kemungkinan adanya penularan di lingkungan keluarga,” jelasnya.
Anggota keluarga yang tidak teridentifikasi mengidap TBC dapat memperoleh terapi pencegahan apabila memenuhi indikasi medis dan ketentuan yang berlaku. Pemberian terapi tersebut perlu didasarkan pada hasil pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan.
Upaya ini menjadi bagian dari penanggulangan TBC yang tidak hanya berfokus pada pasien, tetapi juga mencakup orang-orang yang berpotensi terpapar melalui kontak erat.
Penelusuran Kontak Dijadwalkan di Tingkat RW
Puskesmas Jatirasa juga menjalankan program penelusuran kontak atau tracing yang melibatkan Kementerian Kesehatan dan Dinas Kesehatan. Koordinasi dilakukan bersama pemerintah kelurahan dan kecamatan untuk memperluas jangkauan pemeriksaan serta mendorong keterlibatan masyarakat.
“Kami ada program tracing TBC dari Kementerian Kesehatan. Dinas Kesehatan juga sudah berkoordinasi dengan kelurahan dan kecamatan,” ungkap Wike.
Berdasarkan keterangan Wike, kegiatan penelusuran kontak dijadwalkan berlangsung pada 9 dan 29 Oktober 2026 di tingkat RW. Kegiatan tersebut diarahkan untuk menjangkau masyarakat yang memiliki riwayat kontak dengan pasien TBC sehingga potensi penularan dapat diketahui lebih awal.
Namun, jumlah kasus TBC yang sedang ditangani Puskesmas Jatirasa belum disampaikan secara pasti. Wike menegaskan bahwa pendataan dan skrining kembali dilakukan sehingga angka terbaru perlu mengacu pada hasil pemeriksaan yang telah diverifikasi.
Kejelasan data kasus penting untuk memberikan gambaran yang akurat mengenai perkembangan penanganan TBC di wilayah tersebut. Karena itu, jumlah pasien yang telah menjalani pengobatan, menyelesaikan terapi, maupun ditemukan melalui skrining perlu dibedakan berdasarkan hasil pendataan resmi.
Puskesmas Jatirasa berharap dukungan pemerintah setempat dan partisipasi masyarakat dapat mempercepat penemuan kasus serta membantu pasien memperoleh pengobatan sesuai standar pelayanan kesehatan.
Masyarakat yang mengalami batuk berkepanjangan atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan. Pemeriksaan dini diperlukan agar dugaan infeksi dapat dievaluasi oleh tenaga medis dan penanganan diberikan sesuai hasil pemeriksaan.
Penanggulangan TBC membutuhkan upaya berkelanjutan, mulai dari penemuan kasus, pemeriksaan kontak erat, hingga kepatuhan pasien menjalani pengobatan sampai tuntas. Perluasan skrining di tingkat masyarakat diharapkan dapat membantu menekan risiko penularan sekaligus melindungi kesehatan warga di wilayah Jatirasa.
FAQ Seputar Skrining TBC di Jatirasa
Apa upaya Puskesmas Jatirasa untuk menanggulangi TBC?
Puskesmas Kelurahan Jatirasa melakukan skrining kesehatan, memberikan pengobatan kepada pasien TBC, memeriksa anggota keluarga atau kontak erat, serta menjalankan penelusuran kontak untuk mendeteksi potensi penularan.
Siapa yang menjadi sasaran pemeriksaan kontak TBC di Jatirasa?
Sasaran pemeriksaan meliputi anggota keluarga yang tinggal serumah dan orang yang memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Kapan penelusuran kontak TBC dijadwalkan di Jatirasa?
Menurut keterangan Kepala Puskesmas Kelurahan Jatirasa, drg. R. Wike Octaviyanti, penelusuran kontak dijadwalkan pada 9 dan 29 Oktober 2026 di tingkat RW.
Bagaimana pemeriksaan kontak erat pasien TBC dilakukan?
Pemeriksaan dilakukan melalui wawancara dan skrining untuk mengetahui kemungkinan penularan, terutama di lingkungan keluarga dan di antara orang yang memiliki kontak erat dengan pasien.
Apakah anggota keluarga dengan hasil skrining negatif dapat memperoleh terapi pencegahan TBC?
Anggota keluarga yang tidak teridentifikasi mengidap TBC dapat memperoleh terapi pencegahan apabila memenuhi indikasi medis dan ketentuan yang berlaku berdasarkan evaluasi tenaga kesehatan.
Apa yang perlu dilakukan warga yang mengalami batuk berkepanjangan atau kontak erat dengan pasien TBC?
Warga yang mengalami batuk berkepanjangan atau memiliki riwayat kontak erat dengan pasien TBC diimbau segera memeriksakan diri ke fasilitas pelayanan kesehatan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Firman Ugm
Firman Ugm adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

