Limbah Dapur Jadi Pupuk Alami, Pekebun Godean Bagikan Praktiknya

"pengalaman Yusnidar menunjukkan bahwa pupuk alami dapat menggantikan pupuk kimia pada skala rumah tangga,"

Limbah Dapur Jadi Pupuk Alami, Pekebun Godean Bagikan Praktiknya – Foto/Ilustrasi Istimewa
-AA+

Jogja – Pemanfaatan limbah dapur sebagai pupuk alami menjadi praktik nyata yang diterapkan pekebun rumahan di Godean, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Seorang ibu rumah tangga, Yusnidar (62), mengaku telah lebih dari satu dekade menggunakan air cucian beras, ampas teh, cangkang telur, hingga kulit pisang untuk menyuburkan tanaman buah dan bunga di pekarangan rumahnya tanpa bergantung pada pupuk kimia pabrikan.

Dilansir dari laman Liputan6.com, yang mewawancarai Yusnidar mengenai praktik berkebun organik skala rumah tangga.

Dalam wawancara tersebut, Yusnidar menegaskan bahwa perawatan sederhana dan konsisten menjadi kunci keberhasilan tanamannya tetap produktif.

“Penyiraman saja yang cukup. Nanti bisa pakai air beras yang dicampur dengan limbah makanan, ampas teh, kulit buah, cangkang telur,” ujar Yusnidar.

Praktik Lapangan, Bukan Sekadar Tren

Apa yang dilakukan Yusnidar bukan sekadar mengikuti tren berkebun organik.

Ia telah menanam berbagai tanaman, termasuk kelengkeng hasil cangkok sejak sekitar 2015, dengan metode yang sama.

Ia menyiram tanaman tiga kali seminggu, menyesuaikan musim dan kelembapan tanah.

Menurut dia, air cucian beras menjadi bahan paling mudah dimanfaatkan karena tersedia hampir setiap hari.

Cairan tersebut mengandung sisa pati, vitamin B, serta mineral mikro yang dapat membantu pertumbuhan akar dan pembentukan daun pada fase vegetatif.

Yusnidar mengaplikasikannya satu hingga dua kali seminggu langsung ke media tanam, tanpa proses pengolahan tambahan.

Selain air beras, ia memanfaatkan ampas teh.

Limbah ini mengandung nitrogen dan bahan organik yang membantu memperbaiki struktur tanah.

Pilihan Editor :  Satpol PP Siap Tindak Dugaan Pelanggaran PT Glow Industri Herbal Care

Namun, ia mengingatkan agar ampas teh dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditaburkan ke pot atau kebun untuk mencegah pertumbuhan jamur.

Cangkang telur juga menjadi andalan. Ia mencuci, menghancurkan, lalu mencampurkannya ke dalam media tanam.

Kandungan kalsium dalam cangkang telur dinilai membantu memperkuat jaringan tanaman.

Yusnidar menerapkan metode ini pada kelengkeng dan anggrek yang ia rawat.

Ia biasanya mengaplikasikannya pada sore hari, berdasarkan pengalaman praktik yang ia jalani.

Ragam Limbah, Ragam Manfaat

Selain tiga bahan tersebut, limbah dapur lain turut dimanfaatkan.

Ampas kopi, misalnya, mengandung nitrogen dan bahan organik yang baik bagi tanaman tertentu, terutama yang menyukai tanah sedikit asam.

Namun penggunaannya harus terbatas agar tidak mengubah tingkat keasaman tanah secara drastis.

Kulit pisang dikenal sebagai sumber kalium alami. Unsur ini penting untuk merangsang pembungaan dan pembuahan.

Cara penggunaannya relatif sederhana, yakni dengan mencincang kulit pisang lalu menguburkannya di sekitar akar tanaman.

Alternatif lain, kulit pisang dapat direndam satu hingga dua hari untuk menghasilkan pupuk cair.

Air bekas rebusan sayur juga bisa dimanfaatkan, dengan syarat tidak mengandung garam atau bumbu tambahan.

Cairan tersebut masih menyimpan mineral larut air.

Sebelum digunakan, air harus didinginkan sepenuhnya untuk menghindari kerusakan akar.

Untuk jangka panjang, sisa sayur dan buah dapat diolah menjadi kompos.

Proses pengomposan membutuhkan waktu beberapa minggu hingga satu bulan, tergantung metode dan kondisi lingkungan.

Hasilnya berupa humus yang kaya nutrisi dan mampu meningkatkan kemampuan tanah menahan air serta unsur hara.

Praktik ini, menurut Yusnidar, membantu menekan pengeluaran rumah tangga sekaligus mengurangi sampah dapur harian.

Pilihan Editor :  Pabrik Gula Merah di Bantar Gebang Diduga Buang Limbah ke Selokan, Warga: Bau Banget

Ia mengaku tidak sepenuhnya bergantung pada pupuk kimia selama kebutuhan nutrisi tanaman terpenuhi secara seimbang.

Meski demikian, penggunaan pupuk alami tetap memerlukan kehati-hatian.

Limbah yang mengandung garam, minyak, sabun, atau bahan kimia harus dihindari karena dapat merusak struktur tanah dan mengganggu pertumbuhan tanaman.

Pemberian pupuk alami umumnya dilakukan satu hingga dua kali seminggu, disesuaikan dengan jenis dan kebutuhan tanaman.

Penggunaan berlebihan juga berpotensi menimbulkan bau tidak sedap atau gangguan keseimbangan pH tanah.

Karena itu, proporsi dan frekuensi aplikasi menjadi faktor penting dalam praktik berkebun organik rumahan.

Secara umum, pengalaman Yusnidar menunjukkan bahwa pupuk alami dapat menggantikan pupuk kimia pada skala rumah tangga, selama kebutuhan unsur hara terpenuhi.

Air cucian beras disebutnya sebagai bahan yang paling cepat menunjukkan dampak pada pertumbuhan daun.

Praktik sederhana ini memperlihatkan bahwa pengelolaan limbah rumah tangga dapat memberikan manfaat ganda: menyuburkan tanaman sekaligus mengurangi beban sampah domestik.**/red

gensa.club berkomitmen memberikan berita sesuai fakta, independen, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme dengan cara :"Sawer Secangkir Kopi Sekarang"
Gensa Media Indonesia
Ikuti