TNI Kerahkan Pesawat CASA untuk Perkuat Operasi Modifikasi Cuaca
- account_circle Sapto Handoko
- calendar_month 39 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Jakarta – TNI bersama sejumlah kementerian dan lembaga memperkuat Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk mendukung penanggulangan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan.
Dalam operasi tersebut, TNI menempatkan tiga pesawat CASA di Sumatera Selatan untuk mendukung penyemaian dry ice dan garam, sekaligus melaksanakan patroli udara.
Penguatan operasi itu disampaikan dalam konferensi pers di Posko Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca, Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (21/10/2026).
Direktur Operasional Modifikasi Cuaca BMKG, Budi Harsoyo, menjelaskan bahwa operasi melibatkan TNI, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Kehutanan, serta Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Menurut Budi, pembentukan desk gabungan tersebut menindaklanjuti direktif Presiden untuk memperkuat koordinasi penanganan karhutla melalui operasi modifikasi cuaca.
“Atas direktif dari Presiden itu, minggu lalu di Mabes TNI Cilangkap dibentuklah Desk Gabungan ini beranggotakan TNI, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan BRIN,” kata Budi.
Ia menjelaskan, setelah menjalani persiapan singkat, operasi mulai berjalan pada 18 Oktober 2026 di dua provinsi.
“Dengan melakukan persiapan singkat efektif mulai tanggal 18 Oktober kemarin operasi ini sudah berjalan di dua provinsi,” ujarnya.
Tiga Pesawat CASA Dukung Misi di Sumatera Selatan
Wakil Ketua Desk Terpadu Operasi Modifikasi Cuaca, Marsda TNI Erson Sinaga, mengatakan TNI telah menempatkan tiga pesawat CASA di Sumatera Selatan untuk mendukung rangkaian misi penanggulangan karhutla.
Erson, yang sehari-hari menjabat Pati Sahli Tk. III Intekmil Siber Panglima TNI, menyebut pesawat tersebut menjalankan misi penyemaian bahan untuk modifikasi cuaca dan patroli udara.
“Untuk wilayah Sumatera Selatan, kekuatan pesawat kita dalam rangka penanggulangan Karhutla, untuk pesawat Casa, kita sudah menempatkan tiga pesawat Casa,” kata Erson.
Ia menerangkan, pelaksanaan OMC mencakup penyemaian dry ice dan garam sebagai bagian dari upaya mendukung pembentukan hujan.
“Untuk misi OMC, operasi modifikasi cuaca, yaitu berupa penyemaian dry ice dan juga penyemaian garam,” ujarnya.
Selain menjalankan misi modifikasi cuaca, pesawat juga melaksanakan patroli udara untuk mendukung upaya penanggulangan karhutla.
“Kemudian juga misi yang berikutnya yaitu melaksanakan patroli, patroli udara,” kata Erson.
Pengerahan pesawat tersebut memperkuat dukungan unsur udara dalam operasi yang melibatkan sejumlah instansi pemerintah.
Dukungan Udara Disiapkan untuk Kalimantan
Selain Sumatera Selatan, TNI juga menyiapkan dukungan udara untuk wilayah Kalimantan Tengah dan Kalimantan Selatan.
Erson menyampaikan bahwa tiga pesawat TNI ditempatkan untuk mendukung operasi di kedua wilayah tersebut.
Pengerahan itu menjadi bagian dari upaya memperkuat pelaksanaan operasi modifikasi cuaca dan penanganan karhutla melalui koordinasi lintas instansi.
Operasi modifikasi cuaca diharapkan dapat membantu menciptakan kondisi yang mendukung pembentukan hujan di wilayah sasaran. Namun, hasilnya tetap dipengaruhi kondisi atmosfer dan faktor meteorologis setempat.
Karena itu, OMC menjadi salah satu instrumen pendukung penanganan karhutla, yang pelaksanaannya perlu berjalan beriringan dengan langkah penanggulangan lain oleh instansi terkait.
Keterangan dalam konferensi pers tersebut belum merinci jumlah titik api yang ditangani, luas wilayah terdampak, ataupun hasil operasi sejak dimulai pada 18 Oktober 2026.
Meski demikian, keterlibatan TNI, BMKG, BNPB, Kementerian Kehutanan, dan BRIN menunjukkan pendekatan lintas instansi dalam mendukung operasi di wilayah terdampak.
Melalui pengerahan pesawat dan koordinasi bersama lembaga terkait, pemerintah berupaya memperkuat penanganan karhutla di Sumatera Selatan dan Kalimantan Selatan, sekaligus mendukung upaya pengendalian dampaknya terhadap masyarakat dan lingkungan.
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Sapto Handoko
Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

