Jangan Sok Kuat Lawan Kantuk, Churchill hingga Einstein Saja Butuh Tidur Siang
- account_circle Tama
- calendar_month 9 menit yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Lifestyle – Tidur siang bukan selalu tanda kemalasan.
Sejumlah tokoh dunia, mulai dari mantan Perdana Menteri Inggris Winston Churchill, ilmuwan Albert Einstein, hingga Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy, diketahui memiliki kebiasaan tidur singkat di sela aktivitas mereka untuk memulihkan energi dan menjaga konsentrasi.
Kebiasaan yang dikenal sebagai power nap atau tidur singkat pada siang hari itu ternyata memiliki sejarah panjang.
Bahkan, praktik tidur dalam beberapa sesi terpisah atau polyphasic sleep telah dikenal sejak zaman kuno dan tercermin dalam sejumlah karya sastra klasik.
Winston Churchill menjadi salah satu tokoh yang secara terbuka mengakui pentingnya tidur siang.
Selama Perang Dunia II, ia membiasakan diri beristirahat setidaknya satu jam pada awal siang, meskipun Inggris saat itu berada dalam situasi perang.
Dalam memoar perangnya, Churchill menegaskan bahwa manusia tidak dirancang untuk bekerja terus-menerus sejak pagi hingga tengah malam tanpa istirahat.
“Alam tidak merancang manusia untuk bekerja dari pukul delapan pagi hingga tengah malam tanpa penyegaran melalui tidur yang menenangkan. Bahkan, jika hanya berlangsung 20 menit, istirahat itu cukup untuk memulihkan seluruh tenaga vital,” demikian pernyataan Churchill dalam memoarnya.
Pandangan tersebut memperlihatkan bagaimana Churchill memandang istirahat sebagai bagian penting dalam mempertahankan kemampuan bekerja, terutama ketika menghadapi tekanan dan tanggung jawab besar.
Einstein dan Dalí Punya Teknik Tidur Singkat
Kebiasaan tidur singkat juga menarik perhatian ilmuwan dan seniman.
Albert Einstein serta Salvador Dalí dikaitkan dengan teknik tidur mikro atau micro-nap, yakni tidur dalam waktu sangat singkat ketika seseorang mulai memasuki fase awal terlelap.
Dalam bukunya, 50 Secrets of Magic Craftsmanship, Dalí menjelaskan teknik tidur singkat dengan memanfaatkan benda yang dapat menghasilkan suara ketika terjatuh.
Caranya, seseorang duduk dalam posisi tegak sambil memegang kunci dan meletakkan piring terbalik di bawah tangannya.
Ketika mulai tertidur, kunci akan terlepas dan jatuh ke piring sehingga menimbulkan suara yang membangunkannya.
Berita lainnya: Diduga Mengantuk, Pemotor Tabrak Trailer di Cakung Cilincing
Teknik serupa juga dikaitkan dengan Einstein. Ia disebut menggunakan sendok atau pensil sebagai benda yang dijatuhkan untuk membatasi waktu tidurnya.
Metode tersebut berkaitan dengan fase hipnagogik, yaitu kondisi peralihan antara terjaga dan tertidur.
Pada fase ini, seseorang dapat mengalami gambaran mental, sensasi, atau ide yang terkadang terasa menyerupai mimpi.
Filsuf Yunani Aristoteles juga pernah membahas kondisi kesadaran ketika seseorang tertidur.
Ia menyoroti kemampuan manusia untuk menyadari bahwa pengalaman tertentu yang muncul saat tidur merupakan mimpi.
Dalam salah satu tulisannya, Aristoteles menyatakan, “Sering kali, ketika seseorang sedang tidur, terdapat sesuatu dalam kesadarannya yang menyatakan bahwa apa yang muncul saat itu hanyalah sebuah mimpi.”
Pemikiran tersebut menunjukkan bahwa hubungan antara tidur, kesadaran, dan proses berpikir telah menjadi perhatian sejak zaman filsafat klasik.
Sementara itu, Leonardo da Vinci kerap dikaitkan dengan pola tidur polifasik yang dikenal sebagai Uberman Sleep Cycle. Pola tersebut melibatkan tidur singkat sekitar 20 menit setiap empat jam.
Namun, klaim bahwa Da Vinci benar-benar menjalankan pola tidur ekstrem tersebut dan hanya tidur sekitar dua jam sehari belum didukung bukti sejarah yang cukup kuat.
Kennedy hingga Clinton Sisihkan Waktu untuk Tidur
Kebiasaan tidur siang juga ditemukan di kalangan pemimpin politik modern.
Presiden Amerika Serikat John F. Kennedy diketahui rutin beristirahat setelah makan siang bersama istrinya, Jacqueline Kennedy.
Waktu istirahat tersebut dijaga secara ketat. Pintu kamar ditutup, panggilan telepon tidak diperbolehkan, dan staf tidak diizinkan mengantarkan dokumen pekerjaan.
JB West, mantan kepala staf rumah tangga Gedung Putih, menggambarkan ketatnya aturan tersebut.
“Tidak seorang pun naik ke lantai atas, dengan alasan apa pun,” ungkap West ketika menceritakan kebiasaan istirahat Kennedy.
Mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton juga pernah mengungkapkan bahwa tidur singkat membantunya mengatasi kekurangan waktu istirahat.
“Pada hari-hari ketika saya sedikit kurang tidur, saya berusaha mencari waktu untuk berbaring selama 15 menit atau setengah jam. Hal itu benar-benar membuat perbedaan besar,” kata Clinton.
Berbeda dengan Kennedy dan Clinton, mantan Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan dikabarkan tidak nyaman dengan anggapan bahwa dirinya rutin tidur siang.
Istrinya, Nancy Reagan, pernah membantah kabar mengenai kebiasaan tersebut karena khawatir suaminya akan dicap sebagai pemimpin yang malas.
Sementara itu, mantan Perdana Menteri Inggris Margaret Thatcher dikenal memiliki kebiasaan tidur malam yang sangat singkat, sekitar empat jam.
Dokumen Arsip Nasional Inggris mengindikasikan bahwa Thatcher terkadang memanfaatkan perjalanan menggunakan mobil dinas untuk beristirahat.
Kebiasaan tersebut bahkan membuat para pejabat khawatir ia berisiko mengalami cedera apabila mobil melakukan pengereman mendadak ketika dirinya tertidur.
Untuk mengantisipasi risiko itu, sandaran kepala khusus dipasang pada mobil dinas Daimler yang digunakannya.
Kebiasaan serupa juga pernah tertangkap kamera pada Ratu Elizabeth II. Pada 2004, ia terlihat terpejam ketika menghadiri sebuah kuliah mengenai pengobatan dan magnet di Düsseldorf, Jerman.
Peristiwa tersebut menjadi salah satu momen ketika sang ratu terlihat tertidur dalam agenda resmi kerajaan.
Tidur Singkat Bukan Pengganti Istirahat Malam
Berbagai kisah tokoh dunia tersebut memperlihatkan bahwa tidur singkat bukanlah kebiasaan baru. Sejumlah pemimpin, ilmuwan, dan seniman pernah memanfaatkannya sebagai bagian dari rutinitas sehari-hari.
Meski demikian, pengalaman para tokoh tersebut tidak otomatis membuktikan bahwa pola tidur ekstrem efektif atau aman diterapkan oleh semua orang.
Tidur singkat dapat membantu mengurangi rasa kantuk dan memulihkan kewaspadaan untuk sementara waktu. Namun, kebiasaan tersebut tidak dapat menggantikan kebutuhan tubuh terhadap tidur malam yang cukup.
Karena itu, produktivitas tidak semestinya hanya diukur dari panjangnya waktu bekerja atau sedikitnya waktu yang digunakan untuk beristirahat.
Kisah Churchill, Einstein, Kennedy, hingga Clinton memberikan satu perspektif menarik: di tengah tuntutan pekerjaan dan tanggung jawab besar, istirahat tetap memiliki tempat penting.
Sebab, bekerja tanpa jeda bukan selalu tanda produktivitas. Terkadang, berhenti sejenak justru menjadi cara untuk kembali bekerja dengan lebih baik.
(Red)
📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Ditulis oleh: Tama
Tama adalah jurnalis Gensa Media Indonesia yang menjalankan tugas peliputan dan pemberitaan secara profesional, independen, berimbang, serta mengedepankan akurasi, verifikasi fakta, dan Kode Etik Jurnalistik dalam menyampaikan informasi kepada publik.

