Tekuni Hobi Jadi Peluang Usaha, Satrio Adi Chandra Konsisten Kembangkan Breeding Paruh Bengkok
Jakarta Utara – Berawal dari hobi yang dijalani secara iseng, Satrio Adi Chandra kini konsisten mengembangkan breeding paruh bengkok sebagai usaha berkelanjutan bernilai ekonomi.
Kecintaannya pada dunia burung mengantarkannya menjadikan hobi sebagai aktivitas produktif yang terus berkembang.
Satrio mulai menekuni ternak burung sejak 2010 melalui lovebird yang saat itu masih mengikuti tren dan sekadar mengisi waktu luang.
“Awalnya cuma ikut-ikutan, tapi ternyata bisa menghasilkan dan bantu beli pakan,” ujarnya.
Beralih dari Lovebird ke Paruh Bengkok
Seiring waktu, harga lovebird menurun dan membuat minat pasar tidak lagi stabil.
Kondisi tersebut mendorong Satrio mengalihkan fokus ke paruh bengkok yang dinilainya lebih menjanjikan dan memiliki pasar lebih konsisten.
“Pas harga lovebird turun, semangat ikut turun. Akhirnya beralih ke paruh bengkok medium,” jelasnya.
Pada tahap awal, Satrio memulai breeding dari jenis cenggon sebelum mengembangkan jenis lain seperti bebek.
Mengandalkan Pengalaman Lapangan
Pada masa itu, layanan DNA sexing belum tersedia sehingga penentuan jenis kelamin indukan mengandalkan pengalaman lapangan.
“Masih gambling jantan dan betina, tapi karena punya basic ngenalin ciri fisik, alhamdulillah berhasil ternak,” ungkapnya.
Tingginya minat pasar membuat usaha breeding paruh bengkok terus berkembang hingga saat ini.
Produksi Stabil dan Berkelanjutan
Saat ini, Satrio mengelola lebih dari sepuluh pasang indukan aktif.
Dalam satu kali panen, satu indukan mampu menghasilkan minimal tiga hingga empat ekor anakan.
Jumlah maksimal anakan dalam satu siklus panen dapat mencapai 20 ekor.
“Sekali panen bisa 12 sampai 20 ekor, tapi waktunya enggak bisa diprediksi,” katanya.
Ia menggunakan sistem inkubator dengan rata-rata siklus panen tiga bulan sekali.
“Kalau lagi rezeki, dua bulan sudah bertelur lagi,” tambahnya.
Omzet Puluhan Juta Sekali Panen
Dari sisi ekonomi, satu kali panen breeding paruh bengkok mampu menghasilkan omzet puluhan juta rupiah.
“Kalau dihitung, sekali panen bisa sekitar 30 juta. Itu hitungan per panen, bukan per bulan,” terangnya.
Meski bernilai usaha, Satrio menegaskan orientasi utamanya tetap berangkat dari hobi.
Hobi Jadi Kunci Keberhasilan
Menurutnya, kecintaan terhadap burung menjadi faktor utama keberhasilan dalam dunia breeding.
“Banyak orang punya uang tapi enggak hobi, akhirnya burungnya kasian,” tegasnya.
Breeder yang berangkat dari hobi akan lebih tekun merawat dan terus belajar.
“Kalau hobi, pasti dirawat maksimal dan ujungnya menghasilkan,” ucapnya.
Minim Kendala Penyakit
Selama menekuni breeding paruh bengkok, Satrio mengaku jarang menghadapi penyakit serius.
Kendala yang muncul umumnya bersifat teknis dan mudah ditangani.
“Paling kurus karena bubur kurang kental atau kecelakaan kecil,” jelasnya.
Penyakit bawaan yang berujung kematian sangat jarang terjadi.
Buka Penjualan Langsung dan Daring
Bagi penghobi dan masyarakat, Satrio membuka penjualan paruh bengkok secara langsung maupun daring.
Pembeli dapat datang ke lokasi ternak di Komplek Tugu Permai Blok A1, Kelurahan Tugu Utara, Kecamatan Koja.
Penjualan juga dilayani melalui Facebook Satrio Adi Chandra Budiman.
Informasi stok dan harga tersedia melalui WhatsApp 0897-9160-621.
Penulis: Ugm







