Rabu, 28 Okt 2026
Gensa Media Indonesia » OPINI » Carrel Ticualu Soroti Konsekuensi Jika MK Nyatakan Gibran Tak Penuhi Syarat

Carrel Ticualu Soroti Konsekuensi Jika MK Nyatakan Gibran Tak Penuhi Syarat

  • account_circle Sapto Handoko
  • calendar_month Selasa, 6 Okt 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Jakarta – Pakar hukum tata negara Carrel Ticualu mengingatkan konsekuensi terhadap jabatan Wakil Presiden harus mengikuti putusan Mahkamah Konstitusi (MK) jika perkara syarat pendidikan Gibran Rakabuming Raka dikabulkan.

Carrel menyampaikan pandangan tersebut di Jakarta, Senin (5/10/2026), saat membahas kemungkinan konsekuensi konstitusional dari perkara yang masih berjalan di MK.

Ia menegaskan, pembahasan mengenai dampak terhadap kedudukan Gibran saat ini masih berada dalam ranah analisis hukum.

Karena itu, publik perlu membedakan kemungkinan konsekuensi dengan fakta hukum yang sudah diputus oleh lembaga peradilan.

“Kalau nantinya Mahkamah menyatakan syarat pendidikan tidak terpenuhi dan putusan tersebut berdampak pada kedudukan Wakil Presiden, maka konsekuensinya harus dilihat berdasarkan konstitusi,” ujar Carrel.

“Ini bukan serta-merta merupakan proses pemakzulan,” lanjutnya.

Pernyataan tersebut menjadi penting karena perkara yang menyangkut syarat pendidikan Gibran berpotensi menimbulkan pertanyaan mengenai konsekuensi konstitusional apabila MK nantinya mengabulkan permohonan.

Namun, Carrel menekankan bahwa konsekuensi tersebut harus merujuk pada amar putusan MK dan ketentuan UUD 1945.

Dengan demikian, ia meminta publik tidak menarik kesimpulan mengenai status jabatan sebelum proses pemeriksaan perkara selesai.

Mekanisme Pengisian Wapres Sudah Diatur Konstitusi

Carrel menjelaskan bahwa UUD 1945 telah menyediakan mekanisme apabila terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden.

Ia merujuk Pasal 8 ayat (2) UUD 1945 yang mengatur pengisian jabatan Wakil Presiden melalui MPR.

Menurut ketentuan tersebut, MPR menyelenggarakan sidang paling lambat 60 hari untuk memilih Wakil Presiden.

Pemilihan itu berasal dari dua calon yang Presiden ajukan.

“Kalau terjadi kekosongan jabatan Wakil Presiden, konstitusi sudah menyediakan mekanisme pengisiannya melalui MPR,” kata Carrel.

“Jadi tidak otomatis dilakukan pemilu baru,” sambungnya.

Penjelasan tersebut menunjukkan bahwa kemungkinan kekosongan jabatan Wakil Presiden memiliki jalur konstitusional tersendiri.

Baca juga :  Polda Jabar Gelar Simulasi Penanganan Konflik Sosial di Jatinangor

Karena itu, setiap pembahasan mengenai pengisian jabatan harus melihat terlebih dahulu kondisi hukum yang muncul setelah putusan MK.

Carrel juga mengingatkan bahwa mekanisme tersebut tidak boleh disimpulkan terpisah dari substansi dan amar putusan yang nantinya dikeluarkan MK.

Dengan kata lain, konsekuensi hukum tidak cukup dibangun berdasarkan asumsi mengenai hasil perkara.

Publik perlu menunggu keputusan MK sebelum menentukan bagaimana konsekuensi konstitusional harus dijalankan.

Persoalan Wapres Tidak Otomatis Menyangkut Presiden

Selain mekanisme pengisian jabatan, Carrel menyoroti pentingnya membedakan kedudukan Wakil Presiden dan Presiden.

Menurut dia, persoalan mengenai status Wakil Presiden tidak otomatis mengubah kedudukan Presiden Prabowo Subianto.

“Persoalan mengenai jabatan Wakil Presiden harus dibedakan dengan kedudukan Presiden,” ujarnya.

“Tidak otomatis persoalan pada Wakil Presiden menjadi dasar untuk memberhentikan Presiden,” lanjut Carrel.

Pemisahan tersebut penting untuk mencegah kesimpulan hukum yang melampaui persoalan yang sedang diperiksa.

Sebab, setiap jabatan dalam struktur ketatanegaraan memiliki dasar, kewenangan dan mekanisme hukum yang berbeda.

Oleh karena itu, kemungkinan munculnya persoalan pada jabatan Wakil Presiden tidak serta-merta dapat ditarik menjadi kesimpulan mengenai pemberhentian Presiden.

Carrel menilai publik perlu melihat persoalan tersebut secara spesifik berdasarkan objek perkara dan keputusan MK.

Dampak terhadap Hasil Pemilu Harus Menunggu Putusan

Carrel juga menanggapi kemungkinan dampak perkara tersebut terhadap perolehan suara pasangan Prabowo-Gibran dalam Pemilu 2024.

Menurutnya, persoalan tersebut tidak dapat langsung disimpulkan tanpa melihat isi putusan MK.

“Jangan berasumsi bahwa suara rakyat otomatis menjadi batal,” kata Carrel.

“Konsekuensi terhadap hasil pemilu harus dilihat dari apa yang diputuskan Mahkamah,” lanjutnya.

Pernyataan itu menegaskan perlunya kehati-hatian ketika membahas dampak hukum sebuah perkara terhadap hasil pemilu.

Baca juga :  Jelang Kasal Cup 2025 Danlanal Simeulue Pimpin Doa Bersama Prajurit

Sebab, konsekuensi terhadap hasil pemilu harus memiliki dasar yang jelas dalam putusan dan ketentuan hukum yang relevan.

Karena itu, pembahasan mengenai kemungkinan perubahan terhadap hasil Pemilu 2024 tidak seharusnya berkembang menjadi kesimpulan sebelum MK mengambil keputusan.

Pendekatan tersebut juga sejalan dengan prinsip praduga dan kepastian hukum dalam pemberitaan perkara yang masih berlangsung.

Carrel Ingatkan Publik Tidak Mendahului MK

Carrel kemudian meminta masyarakat menghormati proses pemeriksaan perkara di MK.

Menurutnya, masyarakat tetap dapat mendiskusikan berbagai kemungkinan konsekuensi hukum, tetapi harus menyebutnya sebagai kemungkinan.

“Selama belum ada putusan, kita harus menghormati proses persidangan,” tegas Carrel.

“Kita boleh membahas kemungkinan konsekuensi hukumnya, tetapi jangan mengubah kemungkinan menjadi fakta seolah-olah sudah diputus Mahkamah,” lanjutnya.

Peringatan tersebut sekaligus menyoroti pentingnya ketelitian dalam membahas perkara konstitusional yang menyangkut pejabat negara.

Terlebih, informasi mengenai kemungkinan perubahan status jabatan dapat memengaruhi persepsi publik apabila tidak disampaikan dengan konteks yang lengkap.

Karena itu, Carrel menempatkan amar putusan MK sebagai rujukan utama dalam menentukan konsekuensi hukum apabila permohonan nantinya dikabulkan.

Ia menegaskan bahwa setiap pelaksanaan konsekuensi harus mengikuti keputusan MK dan mekanisme konstitusional yang berlaku.

Dengan demikian, pembahasan mengenai masa depan jabatan Wakil Presiden tidak dapat dilepaskan dari proses hukum yang sedang berjalan.

Hingga MK menjatuhkan putusan, berbagai konsekuensi yang dibahas Carrel tetap merupakan analisis atas kemungkinan hukum, bukan keputusan final.

Prinsip tersebut penting agar publik memperoleh informasi secara utuh sekaligus tidak mencampurkan fakta hukum dengan spekulasi mengenai hasil perkara.

Pada akhirnya, kepastian mengenai konsekuensi konstitusional hanya dapat ditentukan setelah MK menyelesaikan pemeriksaan dan menetapkan putusannya.

Gensa Media Indonesia membuka ruang bagi pembaca dan masyarakat yang ingin memberikan dukungan terhadap keberlanjutan operasional dan kegiatan jurnalisme melalui QRIS resmi di bawah ini:

📲 Scan QRIS di Sini 🤝 Dukung Jurnalisme Independen
Avatar photo

Ditulis oleh:

Sapto Handoko adalah Wartawan Resmi Gensa Media Indonesia yang menjunjung tinggi Kode Etik Jurnalistik serta UU Pers, saat ini berdomisili di Kota Bekasi

Interesting

  • Polisi Menangkap Ghatan Saleh Pelaku Penembakan

    Polisi Menangkap Ghatan Saleh Pelaku Penembakan

    • calendar_month Rabu, 28 Feb 2024
    • account_circle Tama
    • 0Komentar

    Kita cekcok mulut di bawah sama dia, lalu dia menodongkan pistol ke kepala saya. Saya lalu mundur teratur, saya tutup pintu,

  • Desa Makin Maju, Sinergi TNI–Pemda TMMD ke-124 Mulai Bergulir di Mimika

    Desa Makin Maju, Sinergi TNI–Pemda TMMD ke-124 Mulai Bergulir di Mimika

    • calendar_month Kamis, 24 Apr 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Timika – Bersama Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda) Mimika, Komandan Kodim 1710/Mimika Letkol Inf M. Slamet Wijaya memimpin Rapat Koordinasi Teknis (Rakornis) TMMD ke-124 secara virtual, Kamis (24/4), sebagai penanda kesiapan pelaksanaan program kemanunggalan TNI dan rakyat di Kabupaten Mimika. Mayjen TNI Joko Hadi Susilo, Asisten Teritorial Kasad, membuka Rakornis dengan menegaskan pentingnya kolaborasi antara TNI […]

  • Strategi Pemkot Bekasi Tetapkan 3 Lokasi Perayaan Tahun Baru 2025

    Strategi Pemkot Bekasi Tetapkan 3 Lokasi Perayaan Tahun Baru 2025

    • calendar_month Jumat, 27 Des 2024
    • account_circle Redaktur
    • 0Komentar

    Seluruh angkutan umum yang beroperasi selama malam pergantian tahun akan melalui proses pemeriksaan untuk memastikan kelaikan

  • Gerakan Pangan Murah Kodim 1714/Puncak Jaya Bantu Stabilkan Harga Beras

    Gerakan Pangan Murah Kodim 1714/Puncak Jaya Bantu Stabilkan Harga Beras

    • calendar_month Rabu, 3 Des 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Mulia — Kodim 1714/Puncak Jaya menggelar Gerakan Pangan Murah sebagai wujud kepedulian dan dukungan terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok, khususnya beras, di wilayah Kabupaten Puncak Jaya. Kegiatan ini terselenggara berkat sinergi antara Kodim 1714/Puncak Jaya dan Bulog. Kegiatan berlangsung pada Rabu (03/12/2025) di depan pertigaan Kodim 1714/Puncak Jaya, Jl. Trans–Mulia, Distrik Pagaleme. Pada kesempatan tersebut, […]

  • Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka, Calon Mahasiswa Berpeluang Kuliah Gratis

    Pendaftaran KIP Kuliah 2026 Dibuka, Calon Mahasiswa Berpeluang Kuliah Gratis

    • calendar_month Kamis, 12 Mar 2026
    • account_circle Kontributor
    • 0Komentar

    “Bantuan biaya hidup tersebut dicairkan setiap semester atau enam bulan sekali sesuai mekanisme penyaluran yang ditetapkan pemerintah”

  • Yayasan Pangeran Sumedang dan Warga Gelar Buka Puasa Bersama, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

    Yayasan Pangeran Sumedang dan Warga Gelar Buka Puasa Bersama, Pererat Silaturahmi di Bulan Ramadan

    • calendar_month Jumat, 28 Mar 2025
    • account_circle Sapto Handoko
    • 0Komentar

    Sumedang – Dalam semangat kebersamaan dan kepedulian di bulan suci, Yayasan Pangeran Sumedang (YPS) bersama Ketua Rukun Warga Sumedang menggelar acara buka puasa bersama di Kantor Sekretariat YPS, Rabu (26/3/2025). Acara ini dihadiri oleh pengurus yayasan, tokoh masyarakat, serta perwakilan dari 26 kecamatan di Sumedang, yang berkumpul dalam suasana penuh kehangatan dan kebersamaan. Tak sekadar […]

expand_less