Warga Korban Banjir Aceh Timur Bangun Huntara Secara Mandiri
Pembangunan huntara secara mandiri oleh warga Dusun Ranto Panyang Rubek menjadi potret ketahanan masyarakat di tengah keterbatasan.

Aceh – Sejumlah warga terdampak banjir bandang di Dusun Ranto Panyang Rubek, Kabupaten Aceh Timur, Aceh, membangun hunian sementara (huntara) secara mandiri menggunakan kayu sisa rumah mereka yang hanyut.
Langkah ini mereka ambil setelah berbulan-bulan tinggal di tenda darurat tanpa kepastian relokasi maupun pembangunan hunian tetap dari pemerintah.
Salah satu warga, Abu Syam, mengatakan dirinya telah bekerja selama dua hari untuk mendirikan huntara tersebut.
Ia menargetkan bangunan sederhana itu rampung dalam waktu dekat agar dapat segera ditempati bersama keluarganya.
“Sudah dua hari kami bekerja membuat hunian sementara. Kalau tidak ada halangan, hari ini sudah siap,” ujar Abu Syam, Sabtu (21/2/2026), seperti dikutip pada laman Antara.
Abu Syam membangun hunian itu dengan memanfaatkan rangka tenda pengungsian bantuan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta potongan kayu yang ia kumpulkan dari sisa rumahnya yang terseret banjir.
Ia mengaku terpaksa memindahkan rangka tenda tersebut karena lokasi awal penempatan terlalu dekat dengan tepi sungai dan dinilai rawan jika terjadi banjir susulan.
“Ini kayunya punya kami sendiri. Punya rumah yang hanyut kemarin, itulah yang kami kumpulkan,” katanya.
Menurut Abu Syam, ia telah tinggal di tenda pengungsian selama tiga bulan bersama dua keluarga lain.
Kondisi tenda yang sempit dan minim privasi membuat mereka merasa tidak nyaman, terlebih menjelang bulan Ramadan.
Ia mengaku belum menerima kepastian dari pemerintah terkait pembangunan huntara resmi maupun hunian tetap bagi korban.
“Sebelumnya duduk-duduk merenung, kapan berakhirnya ini? Daripada terus mengeluh tinggal di tenda saat bulan puasa, kami ambil keputusan untuk buat hunian sementara sendiri,” ujarnya.
Keputusan membangun huntara mandiri itu, kata Abu Syam, merupakan bentuk ikhtiar agar keluarganya dapat hidup lebih layak meski dalam keterbatasan.
Ia berharap pemerintah tetap memperhatikan kondisi warga yang masih bertahan di lokasi terdampak.
Dusun Ranto Panyang Rubek merupakan salah satu wilayah yang terdampak paling parah akibat banjir bandang yang melanda Aceh pada November 2025.
Sejumlah rumah dilaporkan hanyut dan rusak berat. Sebagian warga terpaksa mengungsi karena tempat tinggal mereka tidak lagi layak huni.
Selain Abu Syam, beberapa warga lain juga melakukan hal serupa.
Mereka membangun hunian sederhana dengan bahan seadanya, sebagian memilih mendirikan bangunan di lahan kebun sawit milik pribadi agar lebih jauh dari bibir sungai yang sebelumnya meluap.
Langkah warga membangun huntara secara mandiri mencerminkan keterbatasan fasilitas pascabencana di wilayah tersebut.
Hingga berita ini diterbitkan, belum diperoleh keterangan resmi dari pemerintah daerah maupun instansi terkait mengenai progres penanganan hunian bagi warga Dusun Ranto Panyang Rubek.
Akses Terbatas dan Dusun Terisolasi
Dusun Ranto Panyang Rubek dikenal sebagai salah satu “dusun yang hilang” akibat dampak banjir bandang.
Lokasinya terisolasi dan sulit dijangkau. Untuk mencapai wilayah ini, perjalanan harus menembus area perkebunan sawit dengan kondisi jalan yang masih tertutup lumpur.
Waktu tempuh dari pusat kecamatan diperkirakan mencapai dua jam.
Kondisi geografis tersebut memperumit distribusi bantuan serta pemantauan langsung oleh pihak berwenang.
Infrastruktur jalan yang rusak dan belum sepenuhnya pulih memperlambat proses pemulihan pascabencana.
Warga menyebutkan, sebagian besar rumah di dusun tersebut rusak berat atau hanyut terbawa arus.
Aktivitas ekonomi masyarakat pun terganggu karena lahan pertanian dan kebun terdampak lumpur serta material banjir.
Secara faktual, banjir bandang yang terjadi pada November 2025 menjadi salah satu bencana paling merusak di kawasan tersebut dalam beberapa tahun terakhir.
Namun, hingga Februari 2026, sejumlah warga masih bertahan di tenda darurat atau membangun hunian sendiri.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mengenai percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi di wilayah terdampak.
Berdasarkan praktik penanganan bencana, pembangunan hunian sementara biasanya menjadi bagian dari tahap transisi sebelum pembangunan hunian tetap.
Namun di Dusun Ranto Panyang Rubek, sebagian warga mengaku belum memperoleh kepastian jadwal maupun mekanisme bantuan lanjutan.
Warga berharap pemerintah daerah, provinsi, maupun pemerintah pusat segera memberikan kejelasan terkait relokasi atau pembangunan rumah permanen.
Mereka juga meminta agar akses jalan segera diperbaiki agar distribusi logistik dan material pembangunan lebih lancar.
Pembangunan huntara secara mandiri oleh warga Dusun Ranto Panyang Rubek menjadi potret ketahanan masyarakat di tengah keterbatasan.
Namun di sisi lain, kondisi tersebut menunjukkan masih adanya pekerjaan rumah dalam pemulihan pascabencana, khususnya di wilayah terpencil dan terisolasi.**/red














